MARKET DATA

IMF Bongkar Fakta Mengejutkan, Dunia Mulai "Menghukum" Amerika

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
30 March 2026 20:20
FILE PHOTO: U.S. dollar and China yuan notes are seen in this picture illustration June 2, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo
Foto: Foto ilustrasi dolar amerika dan yuan china. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Pangsa dolar AS sebagai cadangan devisa dunia kembali menyusut pada kuartal IV-2025, saat yuan dan mata uang lain perlahan memperbesar peran.

Data terbaru International Monetary Fund (IMF) dalam laporan Currency Composition of Official Foreign Exchange Reserves (COFER) menunjukkan pangsa cadangan devisa global yang berdenominasi dolar AS turun menjadi 56,77% pada kuartal IV-2025, lebih rendah dibanding 56,93% pada kuartal III-2025.

Jika ditarik sepanjang 2025, arah pergerakannya menunjukkan tren pelemahan peran dolar dalam komposisi cadangan global. Pada kuartal I-2025, porsi dolar masih berada di kisaran 57,79%, lalu turun tajam ke 56,32% pada kuartal II-2025, sebelum bergerak di sekitar 56,9% pada paruh kedua tahun lalu dan menutup tahun di 56,77%.

Dengan level ini, porsi dolar berada di titik terendah sejak pertengahan 1990-an, menandakan dominasi greenback memang masih besar, tetapi terus terkikis secara bertahap.

Cadangan devisaberdenominasi dolar AS send

iri mencakup berbagai instrumen keuangan yang dipegang bank sentral dunia, mulai dari surat utang pemerintah AS atau US Treasury securities, surat utang lembaga pemerintah AS, sekuritas berbasis hipotek (mortgage-backed securities/MBS), obligasi korporasi AS, hingga aset lain yang berdenominasi dolar.

Dengan kata lain, penurunan pangsa dolar dalam cadangan devisa global tidak identik dengan bank sentral ramai-ramai membuang dolar tunai, melainkan mencerminkan perubahan komposisi portofolio cadangan mereka.

Adapun, secara total cadangan devisa global pada periode yang sama justru naik menjadi US$13,14 triliun dari US$13,03 triliun pada kuartal sebelumnya.

Dolar Tidak Dibuang, Tapi Pangsanya Terus Terkikis

Poin penting dari data IMF adalah penurunan pangsa dolar bukan disebabkan aksi jual besar-besaran terhadap aset berdenominasi dolar.

Justru, kepemilikan aset dolar secara nominal tetap besar dan dalam beberapa periode masih bertambah, tetapi kenaikannya jauh lebih lambat dibanding penambahan aset dalam mata uang lain.

IMF juga menekankan bahwa pada kuartal IV-2025, pengaruh valuasi kurs terhadap perubahan komposisi cadangan relatif kecil, sehingga penurunan porsi dolar lebih mencerminkan arah diversifikasi yang terus berjalan.

Kondisi ini sebenarnya sudah terlihat beberapa tahun terakhir.

Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) dalam kajian The International Role of the U.S. Dollar - 2025 Edition mencatat dolar masih mencakup sekitar 58% dari cadangan devisa resmi global pada 2024, jauh di atas euro, yen, pound sterling, dan yuan.

Namun The Fed juga menggarisbawahi bahwa penurunan pangsa dolar dari puncaknya bukan terutama berpindah ke satu rival utama, melainkan karena pengelola cadangan global menambah eksposur ke berbagai mata uang yang lebih kecil.

Di sisi lain, euro tetap menjadi mata uang cadangan terbesar kedua di dunia. Pangsa euro pada kuartal IV-2025 berada di 20,25%, sedikit turun dari 20,36% pada kuartal III-2025.

Sementara itu, pangsa yuan China naik tipis ke 1,95% pada kuartal IV-2025 dari 1,92% pada kuartal sebelumnya, tetapi secara umum masih jauh dari level yang dulu sempat diharapkan bisa menjadi pesaing utama dolar.

Meski peran yuan dalam cadangan devisa global masih relatif kecil, mata uang China itu mulai semakin sering masuk dalam pembahasan pasar internasional, terutama karena potensinya dalam perdagangan lintas negara, transaksi energi, hingga munculnya istilah "petroyuan".

Perhatian terhadap yuan kembali menguat di tengah perang yang masih mengguncang Timur Tengah dan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Sejumlah laporan pasar menyoroti bahwa jika akses perdagangan energi di kawasan itu makin dikaitkan dengan penggunaan mata uang selain dolar AS, maka dominasi dolar dalam transaksi minyak berpotensi menghadapi tekanan baru. Meski begitu, proses ini masih sangat dini dan belum bisa disebut sebagai perubahan permanen dalam sistem perdagangan global.

Mata Uang Non-Tradisional Kian Besar

Mata uang non-tradisional juga semakin besar perannya dalam cadangan devisa dunia. Bagian ini justru menjadi salah satu data paling menarik dari rilis terbaru IMF.

Pada kuartal IV-2025, porsi kelompok mata uang lain di luar yang dicatat secara terpisah dalam data COFER naik menjadi 6,13%, dari 5,61% pada kuartal III-2025.

IMF mencatat, porsi kelompok mata uang ini sudah terus meningkat sejak 2021 dan kini bahkan telah lebih dari dua kali lipat. Ini menunjukkan bahwa bank sentral global kini tidak hanya menambah cadangan dalam euro atau yuan, tetapi juga mulai menyebar kepemilikan devisanya ke lebih banyak mata uang lain yang sebelumnya tidak terlalu dominan dalam sistem keuangan dunia.

Other CurrencyFoto: International Monetary Fund (IMF)
Other Currency

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google



Most Popular