Perang Iran Jadi Karpet Merah Yuan, Saatnya Xi Jinping Hancurkan Dolar
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Perang Iran tak cuma mengguncang pasar, tetapi juga menguji petrodollar dan membuka ruang bagi petroyuan dalam perdagangan minyak dunia.
Melansir dari laporan terbaru Deutsche Bank Research Institute menyebut konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dengan Iran ini bisa menjadi badai bagi petrodollar. Artinya, perang ini datang pada saat fondasi lama dolar sebenarnya sudah mulai menghadapi tekanan, lalu konflik Iran memperbesar tekanan itu dari banyak arah sekaligus.
Selama ini, kekuatan dolar bukan hanya karena ekonomi AS besar atau karena pasar keuangannya dalam.
Ada alasan yang lebih mendasar, yakni karena banyak perdagangan dunia dilakukan dalam dolar, lalu kelebihan dana dari perdagangan itu juga banyak disimpan kembali dalam aset-aset dolar. Dalam pandangan Deutsche Bank, salah satu penyangga terpenting sistem ini adalah fakta bahwa minyak dunia selama ini mayoritas diperdagangkan dengan dolar AS.
Petrodollar Mulai Diuji
Biasanya, saat perang pecah atau ketegangan global meningkat, dolar AS justru menguat. Penyebabnya cukup sederhana. Saat situasi pasar penuh ketidakpastian, investor cenderung mencari aset aman, dan dolar sering menjadi pilihan utama. Namun, kali ini ceritanya tidak cuman berhenti pada reaksi pasar jangka pendek.
Yang lebih penting untuk dicermati adalah dampak jangka panjangnya terhadap posisi dolar dalam sistem keuangan global.
Selama ini, dolar tetap dominan karena dunia masih banyak menggunakannya dalam perdagangan internasional dan juga menyimpan kelebihan dana dalam aset-aset dolar. Karena itu, konflik Iran dinilai bukan sekadar memicu sentimen risk-off, tetapi juga bisa menguji fondasi jangka panjang dominasi dolar.
Salah satu penopang utama dominasi itu adalah petrodollar, yakni kondisi ketika minyak dunia mayoritas dihargai dan dibayar dalam dolar AS.
Karena minyak sangat penting bagi transportasi, industri, pupuk, petrokimia, hingga operasional pabrik dan kantor, penggunaan dolar dalam perdagangan minyak ikut memperluas penggunaan dolar dalam perdagangan barang dan jasa secara umum.
Sederhananya, ketika banyak negara harus memakai dolar untuk membeli energi, maka dolar otomatis menjadi sangat penting dalam sistem perdagangan dunia. Dari situlah peran dolar semakin kuat, bukan hanya di pasar keuangan, tetapi juga dalam aktivitas ekonomi sehari-hari di banyak negara.
Sistem ini berakar dari pengaturan lama antara AS dan Arab Saudi pada 1974.
Dalam skema itu, Arab Saudi menjual minyak dalam dolar AS lalu menempatkan surplus hasil penjualannya ke aset-aset dolar, terutama US Treasury. Sebagai imbalannya, AS memberi jaminan keamanan dan perlindungan militer. Negara-negara Teluk lain kemudian mengikuti pola yang sama. Susunan inilah yang menjadi salah satu alasan kuat status dolar sebagai mata uang cadangan dunia.
Meski begitu, tekanan terhadap petrodollar sebenarnya sudah muncul bahkan sebelum konflik Iran memanas. Artinya, perang bukan awal dari masalah, melainkan faktor yang bisa mempercepat perubahan yang sudah lebih dulu berjalan.
Salah satu penyebabnya adalah perubahan arah perdagangan minyak global. Kini, sebagian besar minyak Timur Tengah lebih banyak dijual ke Asia dibanding ke AS.
Arab Saudi bahkan kini menjual minyak ke China sekitar empat kali lebih besar daripada ke AS. Ini menunjukkan pusat perdagangan energi dunia mulai bergeser.
Selain itu, minyak dari Rusia dan Iran yang terkena sanksi juga sudah banyak diperdagangkan di luar jalur dolar.
Transaksi minyak tersebut dilakukan dengan berbagai mata uang lokal seperti rubel, yuan, dan rupee, serta menggunakan infrastruktur pembayaran non-dolar. Ini menunjukkan jalur alternatif di luar dolar sebenarnya sudah mulai terbentuk.
Arab Saudi juga mulai memperkuat pertahanan dalam negeri dan menjajaki infrastruktur pembayaran non-dolar, termasuk melalui proyek seperti Project mBridge. Semua ini memberi sinyal bahwa fondasi lama petrodollar tidak lagi sekuat dulu.
Konflik saat ini pun mengguncang inti dari skema lama tersebut, yakni hubungan antara keamanan dan perdagangan minyak dalam dolar. Selama ini, sistem petrodollar ikut bertahan karena ada jaminan keamanan dari AS di kawasan Teluk, yang merupakan salah satu pusat produksi minyak dunia.
Namun, dalam perang kali ini, jaminan akan keamanan itu justru ikut diuji.
Basis militer AS di kawasan Teluk disebut justru menghadapi serangan dari Iran yang menyebabkan banyak infrastruktur minyak ikut terdampak, dan kemampuan AS dalam menjamin keamanan pelayaran minyak global ikut dipertanyakan setelah arus perdagangan melalui Selat Hormuz terganggu.
Jika jaminan keamanan mulai goyah, maka fondasi sistem lama yang menopang petrodollar juga ikut melemah.
Kerusakan pada ekonomi negara-negara Teluk juga bisa mendorong mereka melepas sebagian tabungan luar negeri yang selama ini banyak disimpan dalam aset dolar. Jika itu terjadi, tekanan terhadap dolar bisa datang dari sisi lain, bukan hanya dari perdagangan energi.
Konflik ini makin sensitif karena menyentuh Selat Hormuz, salah satu jalur paling penting bagi perdagangan minyak dunia. Jika jalur ini terganggu, distribusi energi global bisa ikut terguncang dan memicu efek berantai ke harga minyak, inflasi, hingga pasar keuangan dunia.
Dalam situasi sekarang, jalur lewat Hormuz tidak lagi semata ditentukan oleh keamanan maritim yang dipimpin AS, tetapi mulai banyak dipengaruhi oleh diplomasi langsung antarnegara.
Sejumlah kapal tanker yang menuju China, India, dan Jepang masih bisa melintas. Ini menunjukkan hubungan bilateral mulai memainkan peran penting dalam menentukan kelancaran arus minyak.
Di titik inilah terlihat ada perubahan besar yang perlu diperhatikan. Jika kelancaran jalur energi makin ditentukan oleh kesepakatan langsung antarnegara, maka kekuatan sistem lama yang selama ini banyak bertumpu pada AS juga bisa ikut berkurang.
Yuan Mulai Masuk Radar, Petroyuan Mulai Dibahas
Iran disebut membuka peluang bagi sejumlah negara agar kapal-kapal mereka tetap bisa melintas di Selat Hormuz, tetapi dengan syarat pembayaran minyak dilakukan dalam yuan.
Jika hal ini terus berkembang, langkah ini bukan sekadar soal kelancaran pelayaran, melainkan bisa menjadi sinyal awal perubahan dalam sistem perdagangan energi global yang selama ini sangat bergantung pada dolar AS.
Jika akses ke jalur perdagangan energi mulai dikaitkan dengan penggunaan mata uang selain dolar, dominasi dolar dalam transaksi minyak tentu bisa perlahan tergerus. Pergeseran itu memang belum tentu terjadi dalam waktu dekat. Namun, konflik yang sedang berlangsung dinilai bisa menjadi pemicu yang mempercepat tekanan terhadap petrodollar, bahkan membuka ruang bagi munculnya petroyuan.
Arah pergeseran ini juga mulai terlihat dari pasar valuta asing global.
Berdasarkan survei tiga tahunan Bank for International Settlements atau BIS yang dirilis pada September 2025, porsi yuan dalam perdagangan valas dunia naik dari 7% pada 2022 menjadi 8,5% pada 2025. Yuan pun tetap menjadi mata uang kelima yang paling banyak diperdagangkan di dunia.
Foto: Bank for International SettlementsBIS |
Dalam skenario terburuk, harga minyak dunia bisa makin terpecah mengikuti jalur perdagangannya. Minyak Timur Tengah yang mengalir ke Asia melalui Selat Hormuz berpotensi semakin banyak dihargai dan diperdagangkan dalam yuan.
Sementara itu, minyak dari Barat yang dijual ke sekutu-sekutu tradisional Amerika Serikat kemungkinan tetap diperdagangkan dalam dolar. Jika kondisi ini benar-benar terjadi, sistem harga minyak global tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada dolar seperti selama ini.
Perubahan seperti ini tentu tidak terjadi dalam semalam. Namun, jika jalur perdagangan, kepentingan geopolitik, dan mata uang transaksi mulai bergerak ke arah yang berbeda, posisi dolar sebagai pusat perdagangan energi dunia bisa menghadapi tantangan yang semakin nyata.
Tapi Dolar Belum Mudah Tergeser
Meski tekanan terhadap petrodollar mulai terlihat, posisi dolar AS belum akan mudah tergantikan dalam waktu dekat. Salah satu alasannya, negara-negara Teluk masih sangat terkait dengan dolar, baik melalui sistem nilai tukar maupun besarnya simpanan aset mereka dalam mata uang AS tersebut.
Kondisi ini membuat pergeseran menjauh dari dolar tidak bisa dilakukan secara cepat. Jika dipaksakan, langkah itu justru berisiko menekan stabilitas kurs negara-negara di kawasan Teluk sendiri. Artinya, meski perubahan mulai terlihat, sistem lama masih punya penyangga yang cukup kuat.
Di sisi lain, dolar juga masih berpeluang mempertahankan dominasinya dalam perdagangan minyak jika Amerika Serikat tetap mampu menjaga posisi kuat dalam pasokan energi global. Selama pengaruh AS dan negara-negara Barat dalam rantai pasok energi dunia masih besar, dolar masih punya ruang untuk tetap menjadi mata uang utama dalam perdagangan minyak.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google
Foto: Bank for International Settlements