MARKET DATA

Warga RI Jangan Iri: Ringgit Malaysia Bintang Asia, Terkuat 7 Tahun

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
27 January 2026 11:50
FILE PHOTO: A Malaysia Ringgit note is seen in this illustration photo June 1, 2017.     REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo
Foto: REUTERS/Thomas White

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan nilai tukar ringgit Malaysia kian perkasa dalam melawan dolar Amerika Serikat (AS), melanjutkan tren penguatan yang sudah terbentuk sejak 2025.

Merujuk data Refinitiv, pada perdagangan siang ini Selasa (27/1/2026) pukul 10.50 WIB, ringgit menguat 0,20% dan berada di level MYR 3,955/US$. Penguatan ini datang setelah sehari sebelumnya, Senin (26/1/2026), ringgit mencatat level penutupan terkuat sejak Mei 2018 atau lebih dari tujuh tahun. Pada penutupan perdagangan tersebut, ringgit menguat sekitar 1% dan bertengger di MYR 3,963/US$.

Tren positif ringgit juga terlihat dari kinerja tahun berjalan. Sepanjang 2026 yang belum genap satu bulan ini, ringgit tercatat sudah menguat 2,49% secara year-to-date (ytd). Penguatan ini melanjutkan performa solid pada tahun lalu, saat ringgit terapresiasi 9,22% dalam setahun.

Apa Penyebabnya?

Penguatan ringgit ini bukanlah tanpa sebab. Apresiasi terjadi seiring meningkatnya keyakinan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Malaysia, terutam terkait dengan peran Malaysia saat ini dalam rantai pasok industri kecerdasan buatan (AI) dan ekspansi sektor data center.

Sentimen ini mengangkat minat investor terhadap aset-aset berdenominasi ringgit Malaysia yang sejalan dengan optimisme terhadap permintaan domestik yang tetap tinggi hingga prospek pariwisata.

Dukungan lain datang dari ekspektasi kebijakan moneter yang stabil. Bank sentral Malaysia (Bank Negara Malaysia) dinilai berpeluang mempertahankan suku bunga kebijakan tetap, sehingga membantu menjaga daya tarik aset domestik di mata investor.

Di sisi eksternal, ringgit turut mendapatkan angin segar dari pelemahan dolar AS di pasar global. Pergerakan nilai tukar emerging market cenderung menguat ketika dolar tertekan oleh kekhawatiran pasar terakait potensi koordinasi intervensi valuta asing yang memicu aksi jual dolar dan membuat mata uang negara berkembang ikut diuntungkan.

Cadangan devisa Malaysia kian menjulang tinggi

Di balik ringgit yang kian perkasa, menarik untuk melihat bantalan fundamental Malaysia dari sisi cadangan devisa. Meski begitu, hubungan cadangan devisa dan penguatan nilai tukar tidak selalu satu arah, dan tidak otomatis berarti cadangan devisa naik maka kurs pasti menguat.

Berdasarkan rilis bank sentral Malaysia (Bank Negara Malaysia/BNM), posisi devisa Malaysia terus menanjak dan mencapai US$125,5 miliar pada Desember 2025, sekaligus menjadi level tertinggi setidaknya sejak Januari 2020.

Jika dibandingkan November 2025 yang berada di US$124,12 miliar, cadangan devisa meningkat sekitar US$1,38 miliar atau naik 1,11% secara bulanan. Secara tahunan, lonjakan juga cukup solid.

Posisi Desember 2025 lebih tinggi sekitar US$9,28 miliar dibanding Desember 2024 yang sebesar US$116,22 miliar, atau setara kenaikan sekitar 7,98%.

Cadangan devisa yang membesar biasanya membantu memperkuat kepercayaan pasar karena memberi keyakinan bahwa bank sentral Malaysia mempunyai ruang untuk memenuhi kebutuhan valas, mulai dari pembiayaan impor, pembayaran kewajiban luar negeri, hingga menjaga stabilitas pasar saat volatilitas meningkat.

Di sisi lain, cadangan devisa juga memperkuat kapasitas bank sentral untuk meredam gejolak nilai tukar ketika tekanan datang mendadak.

Tren cadangan devisa yang meningkat menjadi salah satu faktor yang menambah bantalan kepercayaan pasar, terutama ketika ringgit sedang berada dalam fase penguatan dan minat investor terhadap aset Malaysia ikut membesar.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular