MARKET DATA
Newsletter

Trump Ngamuk! Pemerintah Akan Umumkan Kebijakan Penting, Ada Soal BBM?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
31 March 2026 06:20
Ilustrasi ini, yang diambil pada 22 Juni 2025, menampilkan peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan Iran.
Foto: Ilustrasi ini, yang diambil pada 22 Juni 2025, menampilkan peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan Iran. (REUTERS/Dado Ruvic)

Memasuki perdagangan hari ini, pelaku pasar keuangan Tanah Air akan mencermati sejumlah sentimen penting dari eksternal. Fokus utamanya datang dari perkembangan perang di Timur Tengah yang masih menekan harga energi, penguatan indeks dolar AS, hingga rilis data tenaga kerja dari Amerika Serikat (AS) dan Jepang.

Rangkaian sentimen ini penting dipantau karena akan sangat memengaruhi arah aset berisiko, nilai tukar, hingga ekspektasi suku bunga global. Di tengah perang yang belum mereda, lonjakan harga minyak dan penguatan dolar AS membuat ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi semakin terbatas

Kondisi Terbaru perang di Timur Tengah

Pelaku pasar pada awal pekan ini akan lebih dulu mencermati perkembangan perang di Timur Tengah yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Konflik yang telah memasuki pekan kelima masih menjadi sumber utama kegelisahan pasar global, terutama karena gangguan di Selat Hormuz belum sepenuhnya teratasi. Presiden AS Donald Trump pada Senin kemarin kembali memperingatkan Iran agar membuka jalur tersebut, di tengah ketidakpastian hasil pembicaraan diplomatik dan masih tingginya tensi militer.

Bagi pasar, perkembangan perang ini sangat penting karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur vital perdagangan energi dunia.

Gangguan yang berkepanjangan di kawasan itu terus memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak mentah dan gas, terutama untuk Asia yang sangat bergantung pada arus energi dari Timur Tengah. Selama jalur ini belum benar-benar pulih, pasar akan terus memasukkan premi risiko yang tinggi ke harga energi.

Tekanan tersebut langsung tercermin pada harga minyak dunia. Pada perdagangan Senin (30/3/2026), harga Brent bergerak di kisaran US$114-116 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$100-102 per barel, menandakan volatilitas energi masih sangat tinggi. Kenaikan ini menunjukkan pasar masih melihat perang sebagai ancaman serius bagi pasokan global.

Presiden AS Donald Trump pada Senin kemarin mengatakan bahwa Amerika Serikat akan "sepenuhnya" menghancurkan pembangkit listrik Iran, sumur minyak, dan Pulau Kharg jika Selat Hormuz yang sangat strategis tidak segera dibuka kembali dan kesepakatan damai tidak segera tercapai.

 

"Amerika Serikat sedang dalam diskusi serius dengan rezim baru yang lebih rasional untuk mengakhiri operasi militer kami di Iran," kata Trump dalam unggahan di Truth Social.

Dia menambahkan jika kemajuan besar telah dicapai, tetapi jika karena alasan apa pun kesepakatan tidak segera tercapai dan jika Selat Hormuz tidak segera dibuka untuk bisnis, maka AS akan mengakhiri 'kehadiran indah' di Iran dengan meledakkan dan sepenuhnya menghancurkan seluruh pembangkit listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg (dan mungkin juga semua fasilitas desalinasi!), yang selama ini sengaja belum kami sentuh.

Pernyataan ini muncul saat konflik Iran memasuki minggu kelima dan pemerintahan Trump mempertimbangkan pengiriman pasukan darat untuk merebut Pulau Kharg, pusat bahan bakar utama yang menjadi jantung industri minyak Iran.

Diperkirakan sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran melewati pulau tersebut sebelum tanker melanjutkan perjalanan melalui Selat Hormuz. Pulau ini juga disebut memiliki kapasitas pemuatan sekitar 7 juta barel per hari.

Iran belum memberikan komentar atas pernyataan terbaru Trump. Sebelumnya pada hari yang sama, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran dilaporkan menyebut proposal dalam rencana 15 poin dari AS sebagai "berlebihan dan tidak masuk akal". Para pemimpin Iran juga membantah adanya pembicaraan langsung dengan AS.

Lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz hampir terhenti sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Iran membalas dengan menargetkan kapal-kapal yang mencoba melintasi jalur tersebut, dengan sejumlah insiden dilaporkan dalam beberapa minggu terakhir.

Trump pekan lalu mengatakan akan menunda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari, yang membuat tenggat waktu bergeser hingga 6 April.

Harga minyak diperdagangkan lebih tinggi pada hari Senin, dengan patokan global Brent berada di jalur kenaikan bulanan terbesar dalam sejarah.

Harga minyak AS juga naik di awal pekan, dengan kontrak berjangka West Texas Intermediate ditutup naik 3,25% ke US$102,88 per barel. Ini adalah penutupan tertinggi sejak 19 Juli 2022.

Sementara itu, Brent crude naik tipis 0,19% ke US$112,78 per barel dan berada di jalur kenaikan bulanan terbesar sepanjang sejarah dengan lonjakan sekitar 55%.

Kenaikan harga minyak ini penting dicermati karena berpotensi memperkuat tekanan inflasi global, sekaligus mempersempit ruang pelonggaran suku bunga bank sentral. Bagi aset berisiko, lonjakan energi biasanya menjadi sentimen negatif karena meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya produksi, margin perusahaan, dan prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

Indeks dolar AS menguat, ruang penguatan rupiah makin sempit

Pasar juga akan mencermati pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang terus menguat di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Pada perdagangan Senin kemarin, DXY ditutup di 100,509 atau rekor tetringgi sejak Mei 2025.

Indeks kini berada di jalur penguatan bulanan terbesar sejak Juli 2025.

Penguatan dolar terjadi karena pasar kembali memburu aset aman setelah harapan berakhirnya perang di Timur Tengah dalam waktu dekat mulai memudar.

Meski Trump menyebut pemimpin baru Iran bersikap rasional, pasar tetap cemas karena pengerahan tambahan pasukan AS ke kawasan masih berlangsung, sementara Teheran juga menegaskan tidak akan menerima tekanan.

Bagi pasar negara berkembang, penguatan DXY menjadi sentimen yang sangat penting karena biasanya menekan mata uang lokal. Saat dolar menguat dan aset AS tetap menarik, arus dana global cenderung lebih selektif masuk ke emerging markets.

Artinya, ruang mata uang lain, termasuk rupiah, untuk menguat menjadi semakin terbatas, apalagi ketika tekanan eksternal juga datang dari lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi global.

Powell Sebut Inflasi AS Masih Terkendali

Ketua Federal Reserve Jerome Powell menegaskan The Fed belum perlu buru-buru bertindak meski perang Iran mendorong kenaikan harga energi.

Powell menyebut kebijakan saat ini "masih di posisi yang tepat" untuk wait and see, sambil memantau dampak konflik terhadap inflasi dan ekonomi.

Pernyataan ini meredakan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga, yang sebelumnya sempat menguat.

Meski demikian, Powell mengakui ada "ketegangan" antara dua mandat The Fed: risiko pelemahan pasar tenaga kerja yang mendorong suku bunga rendah, versus tekanan inflasi yang justru mengarah sebaliknya.

Ia menegaskan ekspektasi inflasi masih "terjaga" untuk saat ini, meski dunia tengah menghadapi guncangan energi baru yang dampaknya belum pasti.

The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%.


Data lowongan kerja AS

Pasar berikutnya akan menanti rilis data pembukaan lapangan kerja AS atau Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) untuk periode Februari yang dijadwalkan terbit pada Selasa (31/3/2026). JOLTS merupakan salah satu indikator penting untuk membaca permintaan tenaga kerja di AS. Semakin tinggi jumlah lowongan kerja, semakin kuat gambaran pasar tenaga kerja, dan sebaliknya, pelemahan data ini bisa menjadi sinyal bahwa dunia usaha mulai menahan ekspansi.

Pada Januari, jumlah lowongan kerja tercatat mencapai 6,946 juta. Untuk Februari, konsensus pasar memperkirakan angkanya turun tipis ke sekitar 6,85 juta.

Penurunan lowongan kerja ini akan menjadi sinyal bahwa permintaan tenaga kerja dari dunia usaha mulai melandai.

Jika tren ini berlanjut, pasar tenaga kerja AS menunjukkan tanda-tanda menuju keseimbangan baru setelah sempat sangat ketat pada periode pascapandemi. Kondisi tersebut dapat membantu meredakan tekanan inflasi dari sisi upah dan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi Federal Reserve atau The Fed dalam mengevaluasi arah kebijakan suku bunganya.

Tingkat pengangguran Jepang

Dari Asia, pelaku pasar juga akan mencermati rilis data tingkat pengangguran Jepang untuk periode Februari yang dijadwalkan diumumkan pada hari ini, Selasa (31/3/2026).

Data ini penting karena kondisi pasar tenaga kerja menjadi salah satu petunjuk utama bagi arah konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi penopang penting ekonomi Jepang. Selain itu, pergerakan pengangguran juga relevan untuk membaca ruang gerak kebijakan moneter Bank of Japan di tengah ketidakpastian global.

Sebagai pembanding, pada periode sebelumnya atau Januari 2026, tingkat pengangguran Jepang tercatat sebesar 2,7%, naik dari 2,6% pada Desember 2025. Jika tingkat pengangguran kembali meningkat, pasar bisa membaca bahwa daya serap tenaga kerja mulai melemah, sehingga berpotensi menahan laju permintaan domestik Jepang.

Pemerintah Umumkan Kebijakan Penting, Pertamina Rilis Harga BBM Non-Subsidi

Pemerintah Indonesia akan mengumumkan serangkaian kebijakan yang ditujukan merespons dampak ekonomi dari perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.
Sekertaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, pengumuman kebijakan itu akan dilakukan pada pukul 19.00 WIB, hari ini Selasa (31/3/2026).

"Semua kebijakan terkait dengan mitigasi risiko dinamika global (WFH, Penyesuaian Anggaran, B-50, dll), akan diumumkan besok," kata Susiwijono melalui keterangan tertulis, Senin (30/3/2026).

Sebagaimana diketahui, sejumlah negara-negara tetangga RI telah lebih dulu mengumumkan kebijakan merespons gejolak ekonomi yang dipicu oleh perang AS-Israel dengan Iran. Perang itu dimulai dengan serangan AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump ke Iran pada akhir Februari 2026.

PT PERTAMINA hari ini juga akan merilis harga untuk BBM non-subsidi yang berlaku per 1 April. Pengumuman rutin ini akan dirilis sekitar pukul 21.00-22.00 WIB.
Seperti diketahui, Pertamina melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di seluruh Indonesia, per 1 Maret 2026.

Produk BBM di SPBU Pertamina, di mana harga BBM jenis RON 92 atau Pertamax naik menjadi Rp 12.300 per liter dari sebelumnya di Februari yang hanya Rp 11.800 per liter. Kemudian Pertamax Green atau RON 95 menjadi Rp 12.900 per liter dari sebelumnya Rp 12.450 per liter.

Tak terkecuali juga dengan Pertamax Turbo menjadi Rp 13.100 per liter dari sebelumnya Rp 12.700 per liter. Lalu Dexlite menjadi Rp 14.200 per liter dari sebelumnya Rp 13.250 per liter. Dan Pertamina Dex menjadi Rp 14.500 per liter dari Rp 13.500 per liter.

Sementara itu, terpantau harga BBM Pertalite tetap Rp 10.000 per liter dan solar subsidi Rp 6.800 per liter.

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features