Fundamental Pundit

Labanya Anjlok 72%, Nasib LINK Makin Suram pada 2023?

Research - Susi Setiawati, CNBC Indonesia
15 March 2023 08:55
PT Link Net Tbk Foto: ist
  • Laba bersih LINK anjlok 72% diikuti dengan menurunnya pendapatan LINK dan meningkatnya beban-beban pada LINK yang menjadi penyebab tergerusnya laba LINK.
  • LINK juga menambah hutang jangka pendek yang akan digunakan untuk pembiayaan kegiatan usaha secara umum.
  • LINK menyiapkan belanja modal Rp2,2 triliun di tahun 2023 untuk memperluas jaringannya di Indonesia.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada penutupan perdagangan Selasa (14/3/2023) harga saham PT Link Net Tbk (LINK) di tutup di harga Rp2.150 atau merosot 6,93%.

Diketahui LINK sudah melaporkan hasil laporan keuangan hingga akhir tahun 2022 di Bursa Efek Indonesia. Dimana hasil laporan keuangan per Desember 2022 mengecewakan para investornya.

Bagaimana tidak, laba bersih LINK anjlok 72% diikuti dengan menurunnya pendapatan LINK 2% dan meningkatnya beban-beban pada LINK yang menjadi penyebab tergerusnya laba LINK.

Selain turunnya laba bersih, LINK juga menambah hutang jangka pendek yang akan digunakan untuk pembiayaan kegiatan usaha secara umum.

Diketahui LINK sudah melantai di Bursa Efek Indonesia sejak 2 Juni 2014 dengan harga IPO Rp1.600.

Bagaimana prospek dari LINK? Mari bahas secara detailnya.

Pertumbuhan laba tahunan

Jika melihat secara pertumbuhan laba LINK sejak tahun 2017 hingga ke 2022 labanya begitu fluktuatif hingga terjadi penurunan kinerja pada akhir tahun 2022.

Dapat dilihat penurunan kinerja terlihat dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang anjlok 72% pada tahun 2022, dimana pada tahun 2021 sebesar Rp885 miliar menjadi Rp241 milyar pada tahun 2022.

Penurunan laba pada LINK terjadi karena penurunan pendapatan LINK yang anjlok 2%, dimana pada tahun 2021 sebesar Rp4,46 triliun menjadi Rp4,37 triliun pada tahun 2022.

Dimana terjadi penurunan pendapatan namun beban pokok penjualannya justru meningkat pada tahun 2022 sebesar Rp996 milyar yang sebelumnya sebesar Rp963 milyar pada tahun 2021.

Kemudian secara total beban usaha juga justru ikut naik dimana pada tahun 2022 sebesar Rp2,76 triliun yang sebelumnya sebesar Rp2,16 triliun. Dimana pada beban usaha ini terjadi kenaikan pada beban umum dan administrasi, beban penyusutan, beban amortisasi dan beban lain-lain. Hal ini yang menggerus laba dari LINK.

Pinjaman Bank Jangka Pendek

Yang menarik dari laporan keuangan LINK per Desember 2022, dimana LINK menambah hutang jangka pendek yang cukup signifikan.

Dimana dalam pinjaman bank jangka pendek, LINK menambah fasilitas pinjaman dengan MUFG Bank Ltd. Sebesar Rp1,5 triliun, Citibank N.A Indonesia sebesar Rp1 triliun dan Deutsche Bank AG sebesar Rp575 milyar. Fasilitas kredit ini akan digunakan untuk pembiayaan kegiatan usaha secara umum. LINK juga melunasi hutang ke PT Bank CIMB Niaga Tbk sebesar Rp500 milyar.

Kompetitor

Jika melihat dari Price Book Value (PBV) dari ketiga emiten di atas sudah dapat dibilang mahal atau overvalued.

Secara Price Earning Ratio (PER) bisa dibilang yang paling murah adalah ISAT dengan PER 12,08. Karena PER sektor telekomunikasi bisa dibilang murah jika di bahwa PER 18.

Secara Net Profit Margin (NPM) ISAT paling unggul dibandingkan lainnya dengan mampu menghasilkan laba bersih 10,10%.

Prospek Bisnis

LINK menyiapkan belanja modal Rp2,2 triliun di tahun 2023 untuk memperluas jaringannya di Indonesia.

Jadi belanja modal atau capex ini akan digunakan untuk ekspansi salah satunya membidik jumlah home pass menjadi 3,4 juta dari sekitar 3 juta per Juli 2022. Home pass adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan jumlah rumah yang telah dilewati oleh jalur jaringan kabel serat optik.

Kehadiran layanan konektivitas andal dan ICT Solutions dari Link Net Enterprise berupa VSAT, fiber optic dan wireless yang akan menjadi solusi untuk membantu industri energy & resources.

Sebagian besar perusahaan dari sektor industri energi dan sumber daya beroperasi di daerah terpencil yang mungkin belum terjangkau dengan infrastruktur terestrial. Sehingga memungkinkan perusahaan menghadapi keterbatasan akses yang bisa menghambat komunikasi.

Maka dengan adanya layanan tersebut akan membantu pelaku usaha dan pekerja di sektor industri energi dan sumber daya dalam menghubungkan komunikasi antar site baik di daratan atau lautan, mulai dari sites produksi hingga eksplorasi.

Masih layak investasi atau tidak?

Jika melihat dari hasil laporan keuangan tahun 2022, LINK memang mengalami penurunan kinerja. Dimana pendapatannya menurun namun bebannya bertambah. Hal ini menjadi perhatian bagi Perseroan untuk tetap meningkatkan pendapatan dan mengefisiensikan biaya, sehingga bisa memaksimalkan laba.

Dimana LINK juga menambah hutang jangka pendek yang diharapkannya bisa mendorong kinerja Perseroan. Serta ekspansi yang akan dilakukan oleh LINK di tahun 2023 juga di harapkan dapat mendorong kinerja Perseroan di tahun ini.

Untuk saat ini memang LINK masih kurang menarik, sehingga investor bisa menunggu perbaikan kinerja dari LINK.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sudah Anjlok Dalam, Saham Pengelola Gokana Ini Masih Mahal


(saw/saw)
Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading