Eksklusif Interview

Banyak BPR Kolaps, OJK Buka-bukaan Alasannya

Profil - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
20 August 2019 12:16
Banyak BPR Kolaps, OJK Buka-bukaan Alasannya Foto: OJK Dorong Pertumbuhan BPR Melalui Peningkatan Daya Saing (CNBC Indonesia TV)
Jakarta, CNBC Indonesia- Industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR) menghadapi cobaan dengan tingginya rasio kredit bermasalah (non performing loan) serta persaingan dengan pinjaman online alias financial technology (fintech) peer to peer lending. Setidaknya ada 2 BPR bermasalah yang sudah ditutup di Bali dan masih belasan BPR "sakit" lainnya karena menghadapi NPL yang besar.

Bagaimana Otoritas Jasa Keuangan memandang masalah ini? Bagaimana solusi untuk industri BPR saat ini? Berikut ini wawancara eksklusif CNBC Indonesia dengan Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK Slamet Edy Purnomo, Senin (19/8). Simak wawancaranya: 

Mengenai kondisi kesehatan dari BPR di Indonesia?


Kondisi kesehatan perbankan di Indonesia secara umum masih baik. Namun kalau kita berbicara mengenai pertumbuhan sedikit melambat dibandingkan sebelumnya. Ini seiring dengan pertumbuhan ekonomi global yang juga lambat. Ini ditandai dengan pertumbuhan kredit, yang saat ini, dibandingkan tahun sebelumnya, memang sedikit di bawah, tapi masih kita harapkan double digit.

Memang kita saat ini masih melihat bahwa peluang bisnis yang ada ini sebetulnya masih cukup besar. Hanya permasalahannya adalah support liquidity. Dana pihak ketiga ini kurang bisa mengimbangi dari rencana pertumbuhan kredit dari perbankan secara umum.

Kalau kita bicara perbankan, kita berbicara ada bank umum dan bank BPR. Jenis kegiatannya ada yang konvensional dan syariah. Masing-masing punya karakteristik sendiri, dan segmen sendiri. Jadi kalau kita berbicara masalah kinerja, dari sisi permodalan sebetulnya masih cukup besar. Permodalan perbankan secara nasional masih di 22%, artinya kalau kita bandingan dengan perbankan regional, kita itu cukup tinggi untuk permodalan, untuk support pengembangan bisnis.

Kalau di perbankan umum juga NPL kita masih relatif rendah, ya walaupun ada sedikit naik ya tapi masih dalam terjaga untuk kita melakukan satu strategi rendah resiko.

Ke depannya seiring dengan perkembangan industri, dimana banyak perkembangan-perkembangan digital ekonomi, tentunya persaingan semakin ketat. Produk-produk mulai terintegrasi satu sama lain. Perbankan dengan perbankan non bank juga bisa menyatukan diri dengan produk-produk linkate. Ini tentunya sangat dipengaruhi adalah perkembangan teknologinya. Karena produk-produk sekarang, tanpa diikuti oleh perkembangan teknologi yang mumpuni, dia tidak akan mampu bersaing dan bertahan dengan berbagai persaingan global.

Banyak BPR Kolaps, OJK Buka-bukaan AlasannyaFoto: Slamet Edy Purnomo, Deputi Komisioner OJK (CNBC Indonesia TV)

Bagaimana dengan BPR saat ini?

BPR sebenarnya secara umum permodalannya masih sama, masih relatif tinggi 22%. Memang pertumbuhannya agak sama, agak melambat. Tipikalnya sama, dipengaruhi oleh global. BPR jumlah saat ini agak sedikit menurun walaupun relatif masih banyak 1.745 terdiri 1.581 yang konvensional dan 164 yang syariah. Ke depan BPR ini memang harus melakukan transformasi seiring dengan perkembangan digital ekonomi, baik dari sisi produk dan pelayanan maupun dari tata kelola.

Dulu memang banyak BPR ini kalau melakukan transformasi tidak secepat bank umum karena bagaimanapun kala umum kan kompetisinya ada di bank asing dari negara-negara berkembang dan maju. Kalau di daerah kan masih konvensional, kadang dia tidak move on untuk mentransformasi dirinya. Ini yang harus kita lihat bahwa kalau dia tidak cepat melakukan transformasi, dia akan terjadi distraksi. Sekarang sudah sering banyak terjadi distraksi dari berbagai sektor.

Banyak bisnis retail mulai dari matahari, 7-11 yang kena distraksi. Produk2 perbankan juga terkena masalah yang sama. Jadi perbankan kalau itu kalah, dana pihak ketiganya akan mengalir kepada bank-bank yang punya produk yang komplit. Itu yang akan membuat mereka survive.

Di Bali sudah banyak BPR dengan payment system dengan QR dengan ATM dia sudah banyak. Bahkan sudah ada beberapa BPR yang asetnya melebihi bank umum. Artinya BPR ini bagaimana cara mengelolanya. Kalau dikelola dengan orang yang tepat, dengan infrastruktur yang memadai ya bisa berkembang.

Kalau selama ini kan orang kurang melihat bisnis BPR, tapi sebetulnya BPR kalau di daerah justru segmennya lebih luas karena tidak dijangkau oleh bank-bank asing. Umumnya paling bank BRI tapi itu pun masih luas. Menurut saya masih bisa berkompetisi. Tinggal dibangun saja bagaimana transformasi BPR ini bisa hidup dan berjalan.


Terkait menurunnya jumlah BPR, karena baru2 ini OJK baru saja menutup salah satu BPR di Bali karena kondisi kesehatan uangnya tidak baik. Kalau kita lihat dari sisi internal dan eksternal ada. Apa saja langkah-langkah yang dilakukan OJK untuk menyehatkan kondisi keuangan BPR yang sedang bermasalah saat ini?

Kita memang punya OJK sebagai regulator, jadi kita mau mentransfer BPR ini supaya bisa satu level feel yang seimbang dengan bank lain. Tentunya kita mapping dulu, artinya dari semua provinsi ini, dari bisnis model kan masing-masing provinsi ini kan beda-beda karena dipengaruhi oleh kultur daerah. Seperti di Bali mungkin berbeda di Surabaya atau beda juga di Makassar. Lalu masyarakatnya arahnya kemana, concern kemana. Kayak Bali kan misalnya ke pariwisata, sehingga beberapa komunitas dalam satu masyarakat ini akan membuat satu bisnis baru. Tentunya ini berbeda dengan yang lain.

Menurut saya, kalau kita membuat sebuah satu program transformasi, yang kita utamakan adalah mengenai bagaimana transformasi itu bisa merubah bisnis model. Tentunya model bisnis yang bagus yang benar-benar dirasakan oleh rakyat dan bisa diakses oleh semua masyarakat dan pihak.

Permasalahannya adalah, bagaimana BPR itu dalam hal ownership (kepemilikan) bisa merubah satu model bisnis yang mampu menyerap dana-dana pihak ketiga dengan baik dan menyalurkan dengan baik. Di sini saat menyalurkan dana, kalau kita suku bunganya mahal, ke sininya juga akan mahal. Kalau dia mahal di sini, dia tidak akan bisa berkompetisi dengan bank lain. Kalau kita berteknologi dengan kemitraan dengan bank lain, sumber kita bisa menjadi channeling sumber bank besar, ini tinggal menyalurkan juga bisa.

Tentunya kan bank besar juga belum punya outlet2 di daerah juga belum cukup banyak. competitiveness dari bank itu dari waktu ke waktu kalah bersaing, mau tidak mau harus mencari celah. Nah itu yang terjadi selama ini. Ada juga yang beberapa memang nakal.

Tapi itu sudah diurus teman-teman OJK. Kalau kena fraud itu biasanya akan kena pidana atau pengelolaannya tidak prudent, dia akan kena masalah finance proper dia harus dicopot dan dilepas kalau dia owner. Kalau dia direksi harus dicopot dan diganti. Itu aturan kita jelas kalau soal BPR. Modal minimum inti BPR Rp 6 M menjadi relatif


Langkah-langkah antisipasi?

Awalnya BPR itu masuk dari bank. Kita harus melihat ownernya benar-benar punya historis yang bagus, hanya bagaimana dalam kinerja atau performa dia, sehingga di sini dia masuk memiliki bank sebenarnya dia sudah ada namanya finance proper.

Begitu dia masuk dan diberikan izin, baru pengurusnya dilihat dari awal. Dari sini sudah difilter. Tapi ini pun kadang-kadang dalam perjalanan waktu orang itu kan bisa berubah karena situasi dan kondisi kiri-kanan. Nah ini kita harus selalu bisa melakukan komunikasi secara intense. Makanya menurut saya yang paling bagus itu kalau kita bisa mentransformasikan BPR dengan baik, dengan melakukan perbaikan di tata kelola, infrastruktur, SDM, teknologi dan pengurusnya.

Nah itu yang disasar oleh fintech,  unbankable. Biasanya orang yang punya penghasilan rutin tapi tidak punya agunan. Itu masih banyak di area mikro. Andalannya fintech kan credit scoringnya aja. Kalau BPR punya credit scoring yang bagus, sama dengan fintech, sama sebetulnya.


Modal inti minimum yang ditentukan OJK sebesar Rp 6 miliar. Apa faktornya?

Ya itu kan sebenarnya kita memiliki beberapa alternatif solusi kita arahkan merger, sehingga dengan dana yang kuat kapasitas dia bisa mengekspansi bisnis lebih besar. Dulu kalau modalnya Rp 6 miliar, itu kan cuma (kasih kredit) Rp 300 juta, berarti kalau di atas Rp 300 juta ada bisnis bagus kan enggak bisa dia. Tapi kalau dia merger, Rp 6 miliar atau Rp 3 miliar masing-masing, misalnya jadi Rp 50 milyar kan kapasitas dia kan lebih besar. Dengan merger, akselerasi bisnis dia lebih besar. Lebih kompetitif. Punya daya tahan bisnis lebih tinggi.

Dengan siapa dan siapa akan kita arahkan. Nanti tinggal dicari platform teknologinya. Kalau itu milik swasta ya tinggal berbicara dengan pemiliknya. Daripada enggak kuat, kenapa enggak merger aja. Itu menurut saya lebih bagus. Kalau tidak, dijual saja. Selama ini kita moratorium dulu. Kualitas dan kapasitas lebih besar jika saling dimerger.

Berarti quality over quantity?

Ya supaya kita jangan hanya berbicara soal quantity, tapi quality-nya harus juga. Kita tidak mau sedikit-sedikit bank yang ditutup itu kan enggak enak. Ini juga beberapa bank umum sudah banyak yang mengarah ke BPR-BPR di daerah. Beberapa direktur bank tersebut sudah bertemu dengan saya.

Karena bank umum ini akan membuat BPR-BPR di remote area menjadi penyalur kredit mikro. Karena kredit mikro saat ini cukup menarik. Semua bank kredit lari ke UMKM karena marginnya lebar dan segmennya masih luas. Nah kredit-kredit korporat mungkin sudah jenuh berkompetisi dengan bank asing dan bank-bank besar karena gak gampang. Lebih baik bank mengambil segmen yang bisa men-capture dengan bagus.

Hal ini akan menciptakan, kalau kita mengambil dan memiliki satu database yang kuat, kita bisa membuat skoring korporat yang kuat. Dan bisa diputus dalam hitungan menit. Sekarang sudah banyak bank-bank yang seperti ini. 7 menit sudah putus skoring. Dulu bank BPR bank-bank umum kalau kredit konsumer, bisa dua minggu-sebulan sampai disetujui. Kalau sekarang lengkap datanya, 7 menit bisa putus. Itulah manfaat perkembangan teknologi.

Jadi banyak benefitnya terkait dengan digital ekonomi, atau fintech terhadap perkembangan industri perbankan ke depan. Apa itu bank umum atau BPR, tapi banyak hal-hal yang bersifat positif. Tentunya kalau tidak respon terhadap itu ya itu tadi, bisa ketinggalan gitu.


Bagaimana menurut bapak nasib BPR dalam 5 tahun ke depan?

Ya memang satu hal yang sangat menjadi tantangan untuk OJK sebagai regulator dan pengawas. Bagaimanapun BPR ini kan sudah menyebar dimana-dimana, kita harus punya perhatian serius terhadap perkembangan BPR ke depan. Makanya kita sekarang sedang merencanakan transformasi BPR, supaya menaikkan flying field-nya. Kalau dulu BPR itu merasa kalah bersaing dengan bank umum, karena bedanya BPR itu tidak boleh menciptakan uang giral tidak ikut kriling, hanya bisa beroperasi di tingkat kabupaten. Kalau yang lebih besar lagi bisa di provinsi, tapi gak bisa nyeberang.

Tapi dengan perkembangan teknologi, payment system, masalah kriling, orang-orang kan sekarang gak banyak melakukan itu. Lebih baik banyak menggunakan payment system. Bank Indonesia sudah menciptakan yang namanya NPC sebagai bank pembayaran nasional dan itu sekarang sangat memasyarakat. Artinya orang sekarang mengkriling dirinya sendiri. Payment inilah yang menurut saya akan menaikkan dan mengakomodir kebutuhan transaksi bisnis di level daerah dan desa-desa.

Kalau itu bisa kita lakukan, semua berbasis teknologi, saya kira kita punya prospek. OJK juga masih harus optimis. Kita ciptakan daya saing BPR, terutama di daerah remote area yang akan membantu bank umum atau pemerintah daerah.

Simak video tentang kondisi BPR di bawah ini:
[Gambas:Video CNBC]


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading