Hidayat Setiaji
Hidayat Setiaji

Lulusan Kriminologi FISIP UI yang berangan-angan melanjutkan kuliah, meski belum terwujud. Menjadi jurnalis sejak 2007, dari media lokal sampai internasional. Menggeluti jurnalisme ekonomi secara terpaksa, tapi akhirnya malah menjadi profesi tetap hingga kini. Menyukai sepakbola dan Liverpool FC.

Profil Selengkapnya

Arsenal Harus Mengucap #merciwenger

Opini - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia 11 February 2018 12:00
Arsenal Harus Mengucap #merciwenger
Let’s talk about football again. Malam tadi ada pertandingan elit di Liga Primer Inggris, yaitu derbi London Utara antara Totenham Hotspur melawan Arsenal. 

Spurs yang persisten bin ngotot akhirnya berhasil mengamankan tiga poin dengan kemenangan 1-0. Gol tunggal Harry Kane sudah cukup membuat penggemar Arsenal kembali mengumandangkan tagar #wengerout. 

Sebagaimana Presiden Soeharto yang dituntut untuk lengser keprabon setelah lebih dari 30 tahun berkuasa, Gooners menilai rezim Arsene Wenger sudah bertahan terlalu lama. Manajer asal Prancis tersebut sudah mengasuh Arsenal sejak 1996, artinya nyaris 22 tahun. Mungkin ada fans Arsenal yang dari lahir sampai kuliah hanya tahunya manajer Arsenal ya Wenger. Arsene is Arsenal. 


Desakan penggemar dengan tagar #wengerout sudah menggema dalam beberapa tahun terakhir. Sepertinya fans ingin reformasi dan melihat sosok yang lebih segar di bench. Bosan juga 20 tahun lebih melihat Wenger terus-terusan di pinggir lapangan, boleh lah diganti. 

Lebih jauh, para pendukung Arsenal menilai pendekatan Wenger sudah kedaluwarsa. Wenger adalah seorang penganut disiplin total. Pemain harus berdedikasi kepada posisinya, sehingga ruang untuk eksplorasi menjadi terbatas. 

Wenger juga dinilai sebagai sosok yang lebih percaya kepada keunggulan teknis dibandingkan pragmatisme taktis. Ini yang membuat Arsenal kerap kesulitan menghadapi tim dengan determinasi yang tinggi untuk mengamankan hasil (Spurs misalnya). 

Faktor-faktor tersebut yang membuat Arsenal-nya Wenger sudah sulit untuk kompetitif. Target juara liga sudah tidak lagi realistis, lebih aman mengejar posisi di empat besar. Bagi klub selevel Arsenal, empat besar bukan prestasi melainkan rutinitas belaka. 

Padahal, perjalanan Arsenal di bawah Wenger merupakan masa-masa indah. Di bawah komando Sang Profesor, Arsenal menjelma menjadi powerhouse di persepakbolaan Inggris, dan juga Eropa. Arsenal menjadi salah satu kebanggaan Inggris. 

"Arsene Who?"

Wenger datang ke London pada 1996 setelah sebelumnya mengasuh klub-klub Liga Jepang. CV Wenger yang paling mentereng kala itu hanya berhasil mengantar AS Monaco juara Liga Prancis 1987/1988. Kalimat “Arsene who?” menjadi akrab di telinga kala laki-laki berkacamata ini menggantikan Bruce Rioch. 

Wenger mewarisi tim yang amburadul, dipenuhi dengan para alkoholik dan pemadat. Tony Adams, Paul Merson, Ian Wright, adalah contoh pemain-pemain bengal yang harus dihadapi Wenger di hari pertamanya. 

Namun ternyata Wenger mampu “mengendalikan” mereka. Adams bahkan kemudian bisa sembuh dari kecanduan alkohol, menjadi kapten tim, dan pendorong motivasi para pemain di lapangan. 

Wenger adalah lulusan fakultas ekonomi dan manajemen Univeritas Strasbourg. Dari kampus yang sama, Wenger juga memperoleh gelar magister (master) di bidang ekonomi. 

Mungkin karena latar belakang pendidikan ini yang membuat Wenger jago dalam urusan ekonomi. Kerja di bidang ekonomi memang terkadang dilakukan dalam diam, sehingga kurang mendapat publikasi. Namun hasilnya sangat nyata. 

Laba Menggila

Manajemen keuangan Wenger terbukti lumayan paten. Dalam laporan keuangan 2016/2017, laba sebelum pajak tercatat 44,6 juta poundsterling (Rp 840,71 miliar). Naik gila-gilaan 1431% dibandingkan tahun sebelumnya.

Arsenal Harus Mengucap #merciwengerLaporan Keuangan Arsenal Holdings Plc

Beberapa faktor yang mendorong laba Arsenal adalah:

- Kenaikan pendapatan hak siar sebesar 58 juta poundsterling (Rp 1,09 triliun) dari peningkatan kontrak Liga Inggris dan Liga Champions Eropa.
- Kenaikan 10,3 juta poundsterling (Rp 194,15 miliar) dari sisi komersial dan ritel.
- Kenaikan keuntungan dari penjualan pemain. 

Pendapatan Arsenal juga selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2017, pendapatan Arsenal naik 19,92% secara tahunan, yang merupakan pertumbuhan tertinggi sejak 2013.

Kejelian Wenger di bursa transfer membuahkan hasil yang tidak jelek. Penjualan Serge Gnabry ke Werder Bremen ditambah peminjaman Jack Wilshere, Callum Chambers, Wojciech Szczesny, dan Joel Campbell menghasilkan uang 6,8 juta poundsterling (Rp 128,18 miliar). 

Arsenal Harus Mengucap #merciwengerReuters

Arsenal Harus Mengucap #merciwengerReuters

Hasilnya, Arsenal menduduki peringkat enam di daftar klub dengan pendapatan tertinggi dalam laporan Football Money League 2018 terbitan Deloitte. Arsenal naik satu peringkat dari tahun sebelumnya, menggeser Paris Saint Germain.

Arsenal Harus Mengucap #merciwengerDeloitte

Salah satu faktor penting di balik kesehatan keuangan Arsenal adalah stadion. Pada 2006, Arsenal pindah dari Highbury yang kapasitasnya di bawah 40.000 kursi ke stadion baru yaitu Emirates Stadium yang mampu menampung 61.000 penonton. Dalam kalkulasi Forbes, Arsenal berhasil mendulang laba US$ 296,11 juta selama satu dekade menghuni Emirates Stadium.

Arsenal Harus Mengucap #merciwengerForbes

Emirates Stadium memang menjadi salah satu mesin uang utama Arsenal. Bahkan Emirates Stadium menempati urutan pertama dalam soal pendapatan, mengalahkan nama-nama besar seperti Camp Nou atau Santiago Bernabeu.

Arsenal Harus Mengucap #merciwengerDeloitte

Dengan situasi seperti ini, kas keuangan Arsenal pun lancar. Pada 2016, kas Arsenal tercatat 226 juta poundsterling (Rp 4,26 triliun). Agak menurun dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang sebesar 228 juta poundsterling (Rp 4,29 triliun). 

Meski demikian, posisi kas Arsenal di Eropa mungkin hanya kalah dari Manchester United. Uang yang dipegang Arsenal bahkan lebih banyak dari kombinasi kas Real Madrid, Barcelona, dan Bayern Munich.

Arsenal Harus Mengucap #merciwengertransfermarkt

Resultansi dari angka-angka tersebut adalah valuasi Arsenal yang kinclong. Saat ini Arsenal masuk 10 besar di daftar klub dengan nilai termahal di dunia.

Arsenal Harus Mengucap #merciwengerForbes

Sederet prestasi keuangan yang membanggakan tersebut mungkin hanya bisa diraih oleh rezim Wenger. Arsenal yang disesaki para pemabuk, pemadat, dan pemuda bengal pada medio 1990-an terasa begitu jauh dan membuat pangling. Mereka berubah menjadi Arsenal yang berprestasi, berdedikasi, dan tentunya kaya raya. 

Namun sangat wajar jika penggemar menuntut lebih. Bukan kelasnya Arsenal yang hanya bisa finis di empat besar. Bukan kelasnya Arsenal yang “hanya” bisa menyelipkan trofi Piala FA atau Piala Liga di lemari. Habitat Arsenal adalah persaingan gelar juara, bukan sekedar kuda hitam. 

Trofi Piala FA musim lalu masih bisa menyelamatkan Wenger, tetapi bila Arsenal nirgelar musim ini (plus keluar dari empat besar), maka #wengerout akan sulit dibendung. 

Apapun yang terjadi musim depan, Arsenal tetap harus berterima kasih kepada Wenger. Tanpa Wenger, tidak mungkin Arsenal bisa mencapai statusnya yang sekarang sebagai klub papan atas di Eropa. 

Jadi entah itu #wengerout atau #wengerstay, yang penting adalah #merciwenger...
(aji/aji)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading