Hidayat Setiaji
Hidayat Setiaji

Lulusan Kriminologi FISIP UI yang berangan-angan melanjutkan kuliah, meski belum terwujud. Menjadi jurnalis sejak 2007, dari media lokal sampai internasional. Menggeluti jurnalisme ekonomi secara terpaksa, tapi akhirnya malah menjadi profesi tetap hingga kini. Menyukai sepakbola dan Liverpool FC.

Profil Selengkapnya

Liverpool FC, Entitas Bisnis atau Entitas Olahraga?

Opini - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia 28 January 2018 09:59
Liverpool FC, Entitas Bisnis atau Entitas Olahraga?
Akhir pekan ini tidak indah buat penggemar Liverpool FC. Setelah pekan lalu kalah di kandang Swansea, kini Liverpudlian kembali harus kecewa karena tim pujaannya kembali takluk oleh West Bromwich Albion di Anfield. Di Anfield.

Performa Si Merah yang angin-anginan cenderung katro memang sudah menjadi rutinitas, terutama di paruh kedua musim setelah Tahun Baru. Periode Januari-Februari memang masa yang sulit dalam beberapa tahun terakhir.

Meski performa tim turun-naik, tetapi Liverpool tidak pernah ditinggalkan oleh para penggemarnya. Slogan You’ll Never Walk Alone ternyata ampuh untuk membuat penggemar tidak bisa lepas dari Liverpool.


Tahun lalu, situs goal.com menyebar polling dengan 42.000 responden di seluruh dunia. Hasilnya, Manchester United adalah klub dengan pendukung terbanyak di dunia. Disusul FC Barcelona, Real Madrid, Chelsea, dan Liverpool. Yup, Liverpool masuk lima besar.

Sementara berdasarkan pengukuran di media sosial, Barcelona menempati urutan teratas. Liverpool menempati urutan ke-6 di deretan klub dengan pengikut terbanyak.

Liverpool FC, Entitas Bisnis atau Entitas Olahraga?


Mengutip rt.com, stadion Anfleid rata-rata terisi 97,58% dari kapasitas 54.074 penonton. Unggul tipis dibandingkan Juventus (Italia) dengan rataan penonton di stadion 97,45% tetapi agak jauh di atas Madrid yang “hanya” 82,5% atau Barcelona dengan 81,97%.

Secara global, Chief Commercial Officer Liverpool Billy Hogan memperkirakan klub memiliki sekitar 580 juta fans. Hal ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh klub dengan meningkatnya pendapatan.

Firma konsultasi keuangan Deloitte dalam laporan Football Money League edisi 2017 menempatkan Liverpool di rangking 9 dalam daftar klub dengan pendapatan terbesar pada musim 2016/2017. Liverpool memperoleh pemasukan 424,2 juta euro atau sekitar Rp 7 triliun.

Liverpool FC, Entitas Bisnis atau Entitas Olahraga? Deloitte


Sementara posisi pendapatan 2013 dibandingkan 2017 telah tumbuh 75,93%. Dalam kurun 2014 hingga 2017, pendapatan Liverpool tumbuh rata-rata 15,77%.

Sebagian besar pemasukan Liverpool disumbangkan oleh hak siar yaitu mencapai 182,5 juta euro (Rp 3,01 triliun). Sementara sisi komersial berkontibusi 161,6 juta euro (Rp 2,67 triliun) dan pertandingan di stadion memberi 80,1 juta euro (Rp 1,32 triliun).

Liverpool FC, Entitas Bisnis atau Entitas Olahraga? Deloitte


Deloitte memperkirakan posisi Liverpool di Football Money League tahun depan bisa meningkat. Ini karena Liverpool sudah kembali berlaga di Liga Champions Eropa setelah 3 tahun absen. Kompetisi Eropa akan mendongrak pendapatan Si Merah baik dari sisi hak siar, komersial, maupun pertandingan di stadion.

Beralih ke laporan keuangan perusahaan yang bernama lengkap The Liverpool Football Club and Athletic Grounds Limited ini, pada tahun fiskal 2016 secara umum Liverpool memang membukukan kerugian 19,8 juta pondsterling (Rp 374,22 miliar). Namun pada 2017 konsensus pasar memperkirakan Liverpool bisa meraih laba 21,56 juta poundsterling (Rp 406,35 miliar).

Pendapatan Liverpool pada tahun fiskal 2017 diperkirakan sebesar 348,56 juta poundsterling (Rp 6,59 triliun) sementara pengeluaran adalah 363,5 juta poundsterling (Rp 6,87 triliun). Namun Liverpool masih punya selisih keuntungan dari penjualan pemain sebesar 42 juta poundsterling (Rp 793,8 miliar).

Tidak hanya itu, Anfield juga masuk jajaran 10 besar stadion dengan pendapatan terbesar di Eropa. Daftar Deloitte pada 2016 menyebutkan, Anfield mampu meraup pendapatan sebesar 75 juta euro (Rp 1,24 triliun).

Liverpool FC, Entitas Bisnis atau Entitas Olahraga? Deloitte


Prestasi finansial tersebut membuat Liverpool juga masuk di daftar klub terkaya. Valuasi Liverpool diperkirakan US$ 1,49 miliar (Rp 19,82 triliun), menduduki peringkat ke-8.

Liverpool FC, Entitas Bisnis atau Entitas Olahraga? Forbes

Kinerja keuangan Liverpool memang lumayan. Untuk klub yang absen menjuarai liga domestik selama lebih dari dua dekade, mungkin tidak ada yang bisa menyamai pencapaian tersebut.

Tapi ya itu tadi. Nyuwun sewu, mungkin John Henry cs di jajaran petinggi Liverpool agak lupa bahwa Liverpool bukan hanya entitas bisnis.

Liverpool adalah entitas olahraga yang rindu gelar, rindu kejayaan. Trofi kompetitif terakhir yang masuk lemari koleksi adalah Piala Liga, itu pun sudah nyaris 8 tahun lalu.

Fans tentu menuntut lebih. Malah kadang fans tidak peduli dengan sederet prestasi keuangan. Sebab, Liverpool bukan sekedar entitas bisnis. Liverpool adalah entitas olahraga! (aji/aji)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading