Warga RI Pesimis Dapat Kerja, Butuh Magang Hub-Padat Karya Tunai

Robertus Adrianto, CNBC Indonesia
Kamis, 18/06/2026 10:55 WIB
Foto: Sejumlah pencari kerja memadati stan-stan lowongan magang di ajang Jakarta Job Fest 2025 yang digelar di Gedung Pertemuan Pertamina, Jakarta, Selasa (30/9/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat Indonesia kini tampak makin pesimistis mendapatkan pekerjaan di Indonesia. Terlihat dari merosotnya salah satu komponen pembentuk Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) hasil survei Bank Indonesia (BI), yaitu Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja.

Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) berdasarkan data terbaru BI berada di level 105, melorot dari bulan sebelumnya sebesar 108,8. Beriringan dengan turunnya Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) yang bertengger di level 123,2 dari sebelumnya 128,1.


Turunnya angka indeks ini pun membuat nilai IKK pada Mei 2026 hanya sebesar 120,9 dari sebelumnya 123. Terdorong oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini yang melorot ke level 112,2 dari sebelumnya 116,9 dan Indeks Ekspektasi Konsumen yang berada di level 129,7 dari 129,6.

Peneliti Senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan menjelaskan, permasalahan ini sebetulnya dapat ditanggulangi oleh pemerintah dengan bantuan jangka pendek, seperti program padat karya tunai atau cash for work.

"Jadi turut membuka lapangan kerja untuk kerjaan-kerjaan yang padat karya misalnya, cash for work gitu ya," kata Deni kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (18/6/2026).

Selain itu, ia menilai, program lainnya seperti magang hub atau magang nasional yang tahun lalu dibuka untuk lulusan baru dan digaji senilai UMR oleh pemerintah menjadi kembali dibutuhkan masyarakat.

"Itu juga menurut saya baik gitu. Jadi dia dikasih internship, magang tapi dibayar oleh pemerintah. Itu kan dua dapatnya. Dia dapat pengalaman, dia dapet juga uang untuk membantu daya beli," papar Deni.

"Itu kan jadi dari sisi demand-nya dapat, dari supply-nya juga menambah kapasitas produksi gitu. Itu yang menurut saya kalau emang mau enggak sekedar bantu dari sisi demand saja," tegasnya.

Pendapat serupa dikemukakan oleh Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman. Namun, ia menekankan, untuk menyelesaikan masalah menahun itu, pemerintah harus memperbaiki secara struktural kondisi ekonomi Indonesia.

"Pemerintah harus memperkuat investasi dan sektor riil melalui kepastian regulasi, percepatan proyek-proyek produktif, dan dukungan kepada industri dan UMKM agar mampu menciptakan lapangan kerja baru," tuturnya.

Ia menekankan, dengan strategi tersebut, fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menjadi lebih kuat dan tahan terhadap berbagai tekanan global maupun domestik.

"Fokus utama pemerintah harus bergeser pada penciptaan lapangan kerja, percepatan investasi, penguatan sektor industri dan UMKM, serta peningkatan produktivitas. Pada akhirnya, konsumsi yang sehat adalah konsumsi yang ditopang oleh kenaikan pendapatan masyarakat, bukan oleh bantuan pemerintah yang terus-menerus," kata Rizal.

Sebagai informasi, pemerintah sebelumnya memastikan, program magang nasional memang akan terus berlanjut ke depannya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, program itu akan kembali digulirkan pemerintah mulai bulan ini. "Kelas menengah, salah satu program magang yang kita lagi dorong kembali di bulan Juni," tegas Airlangga.

Selain memperoleh pengalaman kerja langsung, peserta magang hub juga berkesempatan mendapatkan pendampingan mentor, pengembangan kompetensi, laporan evaluasi berkala, hingga uang saku yang nilainya setara Upah Minimum Provinsi (UMP).

Kemnaker saat ini tengah mengajukan pelaksanaan Magang Nasional gelombang keempat kepada Presiden Prabowo Subianto. Program tersebut ditargetkan dapat menampung hingga 150.000 peserta.

Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kustandi mengatakan, proses pembahasan pembiayaan masih berlangsung di Sekretariat Negara. Jika berjalan sesuai rencana, proses pendaftaran dapat dimulai pada Juli 2026.

"Untuk tahun ini kami sudah mengajukan ke Presiden dan sedang proses di Setneg untuk pembiayaan. Target 150 ribu peserta dan semoga bisa berjalan, paling tidak di Juli sudah mulai proses," ujar Cris melansir detik, Rabu (10/6/2026).


(arj/arj) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kelas Menengah RI Susut, Awas Ekonomi Susah Tumbuh