Proyek China Spionase Terselubung?

News - Aulia Mutiara Hatia Putri, CNBC Indonesia
05 July 2022 14:04
This combination image of March 9, 2021, top, and March 15, 2021, satellite images provided Maxar Technologies shows Global Fashion Garment Factory, a Chinese-owned supplier to the fashion retailer C&A, in Yangon, Myanmar. Attacks on Chinese-run factories in Myanmar's biggest city drew demands from Beijing for protection for their property and employees, while many in Myanmar expressed outrage over China's apparent lack of concern for those killed in protests against last month's military coup. (©2021 Maxar Technologies via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan ekonomi antara Amerika Serikat (AS) dan China telah sampai ke lahan pertanian. Kabar terbaru menyebutkan produsen makanan China Fufeng Group membeli 300 hektar lahan untuk pabrik penggilingan.

Menurut statistik yang dihimpun oleh lembaga riset American Enterprise Institute dan Heritage Foundation, investasi China dalam bidang pertanian di luar negeri telah meningkat menjadi sekitar US$ 95 miliar sejak 2010. Perusahaan swasta dan milik pemerintah China telah membeli sekitar 9 juta hektar lahan pertanian di negara-negara berkembang sampai 2012. Tapi belakangan ini, China mengalihkan perhatian ke Australia, Amerika, dan Eropa.

Lokasi lahan yang dibeli China berlokasi tak jauh dari pangkalan angkatan udara Grand Forks di Dakota Utara yang merupakan buah negara bagian yang terletak di Utara Amerika Serikat. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran keamanan nasional Negeri Paman Sam.


Dikutip dari CNBC International ketua Partai Demokrat beserta anggota Partai Republik dari Komite Intelijen Senat AS tengah menentang proyek tersebut. Mereka sepakat bahwa pembangunan pabrik di lokasi tersebut berpotensi menjadi lokasi spionase internasional.

Fufeng Group merupakan sebuah perusahaan swasta milik China Fufeng Group yang memproduksi monosodium glutamat (penambah rasa) serta produsen permen karet xanthan terbesar kedua di Daratan China. Produknya antara lain penguat rasa, xanthan gum, pupuk, pati, dan pengganti gula. Kantor pusatnya berada di provinsi Shandong. CEO perusahaan saat ini adalah Li Xuechun.

Lalu mengapa Fufeng Grup ini dipermasalahkan?

Bendera China dan Amerika Serikat (AS)Foto: REUTERS/Carlos Barria/File Photo

AS dan China memang tegang dalam beberapa tahun terakhir. Pada era pemerintahan Presiden Donald Trump, kedua negara terlibat Perang Dagang dengan penerapan tarif ke barang impor satu sama lain.

Fufeng dilaporkan telah memiliki lahan sebesar 300 hektar dekat pangkalan Angkatan Udara Grand Forks. Pangkalan itu disebut menjadi pusat dari teknologi militer rahasia mengenai pesawat tanpa awak atau drone.

Pangkalan itu juga merupakan rumah dari pusat jaringan ruang angkasa baru, yang menurut seorang senator North Dakota menangani "tulang punggung semua komunikasi militer AS di seluruh dunia."

Sementara itu, Walikota Grand Folks, Brandon Bochenski mengatakan pihaknya hanya ingin agar ekonomi wilayah itu berputar dengan adanya Fufeng Group. Meski begitu ia juga mengetahui terkait ancaman keamanan yang ditimbulkan.

Craig Spicer, yang perusahaan truknya berbatasan dengan tanah yang dikuasai China, mengatakan dia curiga dengan niat perusahaan baru itu. "Itu membuat saya merasa gugup untuk cucu-cucu saya," katanya.

Perwira dari Angkatan Udara telah mengedarkan memo sejak April terkait proyek ini. Ia beranggapan ancaman keamanan nasional bagi AS dan menuduh bahwa itu sesuai dengan pola kampanye spionase China yang menggunakan proyek pembangunan ekonomi komersial.

Perdebatan mengenai proyek tersebut telah mengguncang komunitas kecil, dengan audiensi dewan kota yang emosional, politisi lokal yang berselisih satu sama lain, dan kelompok-kelompok lingkungan bersiap untuk memblokir proyek tersebut.

Gary Bridgeford, yang menjual sebidang tanah pertaniannya ke perusahaan China dengan harga sekitar US$ 2,6 juta pada 2022 ini. Pasca menjual lahan tersebut keadaan tak baik baik saja. Ia mengaku bahwa tetangganya melampiaskan kemarahan mereka dan memasang plang penolakan proyek di halaman rumahnya.

Namun Bridgeford memiliki opini pribadi di mana masalah keamanan nasional yang diangkat terlalu berlebihan. Orang lain setiap mendengar China selalu memiliki kekhawatiran.

Menurut perspektif Walikota Dakota Utara, Brandon Bochenski, mengungkapkan mereka hanya ingin berbisnis. Pabrik senilai US$ 700 juta yang usulkan akan mencuptakan lebih dari 200 pekerjaan langsung dan peluang bagi logistik serta pendukung lainnya. Namun, pemerintah menginginkan yang terbaik dan bisa mengendalikan mitranya.

Proyek ini rumit, dan kota Grand Forks diperkirakan tidak akan mulai membangun infrastruktur untuk itu sampai musim semi mendatang. Bochenski mengatakan dia bergerak maju dengan itikad baik tetapi siap untuk mengubah persneling jika informasi baru terungkap.

"Kami ingin melakukan yang terbaik untuk masyarakat, kami ingin melakukan yang terbaik untuk negara, ini adalah keseimbangan yang sulit saat ini," katanya.

Tindakan Proteksionisme AS Terhadap Investasi Asing
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading