Heboh Petani RI Nekat Jual Sawit ke Malaysia, Ini Bahayanya

News - Damiana Cut Emeria, CNBC Indonesia
04 July 2022 18:00
Seorang pekerja memuat tandan buah segar untuk didistribusikan dari tempat pengumpul ke pabrik CPO di Kabupaten Kampar di provinsi Riau, Indonesia, Selasa (26/4/2022). (REUTERS/Willy Kurniawan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga tandan buah segar (TBS) yang anjlok memaksa petani sawit di Kalimantan mengambil risiko berbahaya. Menjual TBS hasil panennya ke Malaysia, meski bukan dengan mekanisme ekspor.

Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) mengungkapkan, praktik tersebut sudah berlangsung selama beberapa waktu terakhir. Petani menjual TBS lewat jalur darat maupun sungai.

"Benar, begitu faktanya di lapangan. Petani terpaksa menjual sawitnya ke Malaysia, ini pilihan yang harus diambil. Kelaparan atau jual TBS ke Malaysia. Situasi saat ini menuntut petani memilih, karena kalau dijual di Indonesia yang ada itu rugi," kata Ketua Umum Apkasindo kepada CNBC Indonesia, Senin (4/7).


"Lebih besar upah pekerja, lansir, hingga antar ke pabrik daripada harga TBS yang kurang lebih sekarang Rp800-1.000 per kg. Di Malaysia itu Rp3.500-4.500 per kg. Ini sudah dilaksanakan petani di Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Barat karena mereka berbatasan langsung dengan Malaysia," lanjut Gulat.

Dia menambahkan, persoalan sawit di Indonesia hingga saat ini pelik dan belum memiliki solusi. Yang hanya berkutat soal ketersediaan minyak goreng.

"Padahal ketersediaan minyak goreng cukup diatasi dengan subsidi dana sawit (BPDPKS). Ini justru melupakan di hulu, ada sekitar 17 juta petani, belum lagi anak dan istrinya, bisa sekitar 40 juta orang," ujarnya.

Sementara itu, imbuh dia, saat ini resesi tengah mengancam ekonomi global.

"Ini kita berpacu dengan waktu. Petani harus diselamatkan, minyak goreng diamankan, korporasi harus bisa melakukan aktivitas usaha sehingga terjadi perputaran ekonomi, negara dapat devisa, pajak," ujarnya.

Ketua APKASINDO Kalimantan Barat Indra Rustandi mengatakan hal senada.

"Ini sudah sejak sebulan lalu ada penjualan lintas batas. Besok akan ada pertemuan dengan Polsek di Kapuas Hulu, APKASINDO akan back up petani. Karena petani sudah tak bisa lagi menahan diri, dijual di Indonesia harganya Rp1.200 sementara ongkos ke Sintang sudah lebih tinggi. Kalau ke Malaysia harganya sekitar 1.400 ringgit atau sekitar Rp4.000 lebih," kata Indra kepada CNBC Indonesia, Senin (4/7/2022).

Dia menjelaskan, penjualan dilakukan di titik perbatasan Indonesia dan Malaysia.

"Untuk akses masuk ke Malaysia, 'adu pantat' truk, truk Malaysia dimuat, mereka minta ongkos 150 ringgit, lalu dibawa menuju PKS di ladang-ladang mereka. Ini terpaksa dilakukan karena urusan perut," kata Indra.

Gulat menambahkan, petani sawit harus menghadapi kendala tidak hanya karena harga yang anjlok. Tapi, juga karena pabrik kelapa sawit (PKS) di sekitar ladang petani yang tutup.

"Ada juga PKS yang tak mau lagi terima TBS dengan alasan dihasilkan dari bibit abal-abal. Padahal, bibitnya itu sudah dipastikan dinas penyuluh. Ini kendala dihadapi petani, termasuk yang di perbatasan," katanya.

"Daripada mereka merampok atau melakukan kejahatan, lebih baik mereka menjual hasil keringatnya. Meski nggak dibenarkan secara hukum, tapi ini faktanya," tambah Gulat.

Aksi Berbahaya

Ketua APKASINDO Kalimantan Utara Suhendrik mengakui, aksi petani tersebut berbahaya dan bisa terancam hukum.

Hanya saja, dia menambahkan, petani tidak memiliki pilihan.

"Petani di sana cuma punya penghasilan dari sawit. Memang berisiko tinggi juga tapi mau nggak mau harus jual ke Malaysia. Aparat di sana pun sudah mengerti, itulah faktanya. Apalagi di Sebatik, nggak ada penghasilan lain. Sementara, harga sawit hanya Rp800 per kg," kata Suhendrik.

Dengan harga yang sangat rendah, sementara di Malaysia bisa terjual Rp4.500 per kg, imbuh dia, bahaya tidak lagi jadi soal.

"Dijual lewat jalur sungai dengan pakai kapal tongkang kecil. Ini tuntutan ekonomi, sementara di Malaysia harganya bisa lebbih tinggi. Sekali pun berat. Ini sudah terjadi beberapa bulan terakhir. Nggak pakai dokumen ekspor," kata Suhendrik.

Sekjen Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Mansuetus Darto mengungkapkan bahaya yang mengintai petani jika melakukan aksi tersebut. Dia mengatakan, menjual TBS ke Malaysia tidak bisa dilakukan dengan gampang dan langsung.

"Buah masuk Malaysia itu harus traceable semua. Tidak semudah dan segampang di Indonesia. Ada aturan di sana. Sekaligus kalau dapat, bisa ditindak menurut hukum Malaysia. Masing-masing pos perbatasan itu, ada aparatur keamanan Malaysia. Imigrasi dan lain-lain. Apakah sopir yang ke sana angkut buah punya paspor dan TBS-nya punya izin ? Semuanya dicek," jelas Mansuetus kepada CNBC Indonesia, Senin (4/7/2022).

"Itu tindakan ilegal di Malaysia kalau barang tidak masuk pajak. Selain itu pabrik di Malaysia sudah penuh dan punya mitranya dari para supplier yang legal dan teratur. Perdagangan lintas batas itu ada aturannya," tambahnya.

Sementara itu, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan, tidak ada larangan mengekspor/ menjual TBS ke luar negeri.

"Selama tidak menyelundupkan, tidak masalah," kata Oke kepada CNBC Indonesia, Senin (4/7/2022).


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Petani Dukung Ekspor CPO Ditutup, eh Ada Tapinya...


(dce/dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading