Jokowi Bayar Utang RI Sampai Menyusut, Uangnya Dari Mana Ya?

Market - Eqqi Syahputra, CNBC Indonesia
03 July 2022 14:10
foto/ Jokowi ketemu Syeh Uni Emirat di Abu Dhabi/ Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden

Jakarta, CNBC Indonesia - Perekonomian dan keuangan tanah air mendapatkan kabar baik baru-baru ini. Pasalnya, utang yang menjadi momok keuangan RI saat ini telah menunjukkan tren penurunan pada kuartalĀ I tahun 2022.

Hal tersebut diumumkan langsung oleh Bank Indonesia (BI) belum lama ini yang melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mengalami tren penurunan hingga April 2022. Saat ini, nilai utang Indonesia menurun di angka US$ 409,5 miliar pada April 2022. Dengan asumsi US$ 1 setara Rp 14.729, nilai ULN itu adalah Rp 6.031,52 triliun.

Angka itu turun dibandingkan dengan ULN bulan sebelumnya yang US$ 412,1 miliar (Rp 6.069,82 triliun). Secara tahunan, posisi ULN April 2022 terkontraksi 2,2% (yoy), lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 1% (yoy).


"Posisi ULN Pemerintah pada April 2022 tercatat sebesar 190,5 miliar dolar AS, turun dibandingkan dengan posisi ULN pada bulan sebelumnya sebesar 196,2 miliar dolar AS," tulis Bank Indonesia (BI) dalam laporannya, yang dikutip Minggu (3/7/2022)

"Secara tahunan, pertumbuhan ULN Pemerintah mengalami kontraksi sebesar 7,3% (yoy), lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi bulan sebelumnya yang sebesar 3,4% (yoy)," sambung BI.

Pemerintah yang membayar utang senilai US$ 1,9 miliar menjadi salah satu penyebab penurunan ULN. Dari total pembayaran tersebut, pokok utang tercatat sebesar US$ 1,576 miliar dan bunga sebesar US$ 374 juta.

Pembayaran Surat Berharga Negara (SBN) yang jatuh tempo mendominasi pembayaran utang tersebut. Berdasarkan data dari BI, nilai SBN jatuh tempo pada April sebesar US$ 1,32 miliar, dengan pokok sebesar US$ 1,025 miliar dan bunga sebesar US$ 295 juta.

Lancarnya pembayaran utang oleh pemerintah didorong oleh penerimaan negara yang terus membaik. Apalagi ada lonjakan harga komoditas internasional yang muncul bak "durian runtuh". Sehingga dalam empat bulan pertama tahun ini, APBN surplus sampai Rp 103,1 triliun atau 0,58% dari PDB.

"Salah satu berita baiknya dengan adanya kenaikan harga komoditas yang cukup tinggi harga minyak harga komoditas, seperti batubara, sawit dan sebagainya itu ternyata juga berdampak kepada membaiknya sisi penerimaan kita," ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Luky Alfirman kepada CNBC Indonesia.

"Jadi kalau kita lihat sampai dengan 4 bulan pertama sampai bulan April yaitu mengalami surplus, itu sangat jarang APBN bisa surplus sampai dengan 4 bulan pertama ini," terang Luky.

Pendapatan negara tercatat Rp 853,6 triliun dan belanja negara mencapai Rp 750,5 triliun. Keseimbangan primer dari APBN per April 2022 juga tercatat surplus hingga Rp 220,9 triliun. Pembiayaan turun menjadi Rp 142,7 triliun.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Utang Luar Negeri RI Turun! Jadi 'Cuma' Rp 6.031 Triliun


(dem)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading