Deretan Perusahaan yang Terdampak 'Kiamat' Kripto

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
01 July 2022 18:25
Pejalan kaki melewati iklan yang menampilkan token cryptocurrency Bitcoin di Hong Kong, Selasa (15/2/2022). (Photo by Anthony Kwan/Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis yang dialami oleh pasar kripto sejak awal bulan Mei lalu membuat banyak perusahaan kripto terdampak.  Krisis likuiditas, krisis solvabilitas, hingga menjaga loyalitas karyawannya menjadi dampak paling nyata.

Pada umumnya, krisis yang terjadi di pasar kripto dan beberapa perusahaan kripto terjadi karena kondisi makroekonomi global yang kian memburuk. Penyebabnya adalah, inflasi global yang tinggi, sikap agresif bank sentral Amerika Serikat (AS), perang Rusia-Ukraina yang terus berlanjut, dan kondisi pandemi Covid-19 di China.

Namun sejatinya, akar dari masalah krisis kripto yang merembet ke beberapa perusahaan kripto adalah kejatuhan koin digital besutan Terraform Labs yakni Terra Luna (LUNA) dan TerraUSD (UST). Selain karena banyaknya investor yang ingin melakukan penarikan dana, mereka juga sempat berinvestasi di dua token tersebut.


Adapun berikut ini beberapa perusahaan yang mulai tersandung masalah akibat kejatuhan pasar kripto.

1. Celsius Network

Pada Senin (13/6/2022), Bitcoin anjlok hingga 17% dalam sehari dan konon pada hari itu, crypto winter atau 'musim dingin' kripto dimulai.

Dalam kekacauan itu, Celsius Network, sebuah firma pemberi pinjaman kripto besar, mengejutkan pasar ketika mengumumkan bahwa semua penarikan, pertukaran, dan transfer antar akun telah dihentikan sementara karena 'kondisi pasar yang ekstrem'.

Dalam sebuah memo yang ditujukan kepada komunitas Celsius, platform tersebut juga mengatakan bahwa langkah tersebut diambil untuk "menstabilkan likuiditas dan operasi". Celsius secara efektif mengunci aset kripto senilai US$ 12 miliar yang mereka kelola, meningkatkan kekhawatiran tentang solvabilitas platform.

Berita itu menyebar ke seluruh industri kripto, mengingatkan pasar tentang yang terjadi pada bulan Mei, ketika proyek stablecoin yang dipatok dolar AS yakni TerraUSD (UST), kehilangan nilai sebesar US$ 60 miliar dan menyeret industri kripto yang lebih luas ke bawah bersamanya.

Krisis Celsius terjadi disebabkan oleh kekeliruan perusahaan dalam mengelola investasi rumit di pasar aset digital, sehingga mengakibatkan krisis likuiditas yang berpotensi memiliki dampak sistemik.

Mirip bank tradisional, Celsius mengumpulkan dana nasabah dan menginvestasikannya di pasar kripto secara grosir. Berbeda dengan bank, Celsius menjanjikan nasabah imbal hasil besar hingga mencapai 18,6 persen per tahun.

Iming iming 'cuan' besar membuat investor ritel berbondong-bondong mendepositkan asetnya ke Celsius dan platform serupa. CEO Celsius, Alex Mashinsky berkata bahwa Celsius mengelola aset sebesar US$ 25 miliar pada Oktober lalu, tetapi nilai aset tersebut per bulan lalu anjlok menjadi US$ 11,8 miliar.

Seiring harga aset kripto yang terus menurun bahkan menyentuh zona terendahnya, Celsius tidak mampu memenuhi permintaan penarikan dari nasabah yang ingin mengamankan dananya di tengah pasar kripto yang terus melesu.

Reuters melaporkan bahwa kekeliruan terbesar Celsius adalah menanamkan dana nasabah di token staked Ether (stETH) pada platform Lido Finance. Lido menawarkan pengguna keuntungan dari staking ETH untuk mendukung Ethereum 2.0 yang diperkirakan segera meluncur.

Parahnya lagi, Celsius menjanjikan imbal hasil antara 6% hingga 8% bagi nasabah yang melakukan deposit ETH versi tersebut.

Andrew Thurman, analis perusahaan analisa kripto Nansen mengatakan bahwa Celsius menyimpan stETH sekitar US$ 450 juta dan selebihnya di dompet yang tidak diketahui.

Satu stETH dirancang memiliki pasak setara satu ETH. Tetapi, harga stETH mulai menurun dibanding ETH selama beberapa pekan terakhir dikarenakan investor yang menjual stETH.

Perbedaan pasak tersebut membuat Celsius kesulitan menukar stETH menjadi ETH demi memenuhi permintaan penarikan nasabah.

"Semua pihak dapat melihat mereka memiliki investasi yang sangat beresiko," kata Thurman.

2. Three Arrows Capital

Three Arrows Capital didirikan pada tahun 2012 oleh Su Zhu dan Kyle Davies. Perusahaan yang bermarkas di Singapura ini berfokus pada pengelolaan dana lindung nilai (hedge fund) yang memberikan pengembalian yang disesuaikan dengan risiko.

Perusahaan juga menawarkan investasi seperti ekuitas, dana platform, keuangan terdesentralisasi (desentralized finance/DeFi), base layer, dan lain-lainnya.

Perusahaan telah menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa sejak awal beroperasi dengan rencana jangka panjang yang ambisius untuk menumbuhkan alfa dalam kompetensi inti perusahaan. Adapun dalam pernyataan publik terakhirnya, nilai aset bersih Three Arrows Capital mencapai US$ 18 miliar.

Sebelumnya pada Juni 2020, Three Arrows Capital menjadi investor yang memenuhi syarat pertama yang memiliki lebih dari 5% saham Grayscale Bitcoin Trust (GBTC).

Pada saat itu, Three Arrows Capital telah mengumpulkan lebih dari 21 juta saham GBTC, senilai hampir US$ 259 juta atau lebih dari 20.230 Bitcoin. Three Arrows Capital saat itu menggenggam sebanyak 6,26% saham GBTC.

Namun setelah pasar kripto mengalami kejatuhan, Three Arrows Capital mulai mengalami masalah pendanaan, di mana pihaknya tidak dapat memenuhi kewajibannya yakni membayar utang kepada krediturnya.

Sampailah di puncaknya yakni pada Senin lalu, di mana broker aset digital yakni Voyager Digital menyatakan bahwa Three Arrows Capital resmi gagal bayar (default).

Three Arrows Capital gagal memenuhi kewajiban pinjamannya senilai lebih dari US$ 670 juta atau sekitar Rp 9,93 triliun (asumsi kurs Rp 14.825/US$) kepada Vogaer.

Adapun secara terperinci, Three Arrows Capital gagal membayar kembali pinjamannya sebesar US$ 350 juta (Rp 5,19 triliun) dalam stablecoin USD Coin (USDC) dan sebanyak 15.250 Bitcoin yang dipatok dolar AS dengan nilainya sekitar US$ 323 juta (Rp 4,79 triliun).

Sang pendiri Three Arrows Capital yakni Su Zhu merupakan seseorang yang pro terhadap Bitcoin. Bahkan, Zhu dikenal karena pandangannya yang sangat bullish tentang Bitcoin.

Dia mengatakan pada tahun lalu bahwa cryptocurrency terbesar di dunia tersebut bisa bernilai US$ 2,5 juta per koin. Tetapi pada Mei lalu, ketika pasar kripto mulai runtuh, Zhu mengatakan di Twitter bahwa "tesis harga supercycle-nya salah".

Masalah Three Arrow Capital tampaknya dimulai pada awal bulan ini, setelah Zhu men-tweet pesan yang agak samar bahwa perusahaan sedang "dalam proses berkomunikasi dengan pihak terkait" dan "berkomitmen penuh untuk menyelesaikan masalah ini".

Namun hingga kini, tidak ada tindak lanjut tentang apa masalah spesifiknya. Tetapi, Financial Times melaporkan setelah tweet Zhu bahwa perusahaan pemberi pinjaman kripto yang berbasis di AS yakni BlockFi dan Genesis juga telah melikuidasi beberapa posisinya di 3AC. 3AC telah meminjam dari BlockFi tetapi tidak dapat memenuhi margin call.

Margin call adalah suatu istilah yang terjadi saat broker akan memberitahukan pemegang posisi untuk melakukan penambahan modal atas dasar transaksi margin.

Hal yang mengerikan akan terjadi apabila sang pemegang posisi tidak mampu membayar margin call tersebut. Apabila tidak mampu menyetorkan dana dalam kurun waktu tertentu, sang broker akan melakukan penutupan terhadap seluruh posisi yang dimiliki oleh perseroan baik melakukan penjualan pada posisi long (forced sell) ataupun pembelian pada posisi short.

Banyak rumor yang mengatakan bahwa krisis solvabilitas yang terjadi di 3AC tak hanya karena hedge fund tersebut gagal memenuhi margin call-nya, tetapi 3AC juga sempat memiliki eksposur ke koin digital buatan Terra Lab Forms, yakni Terra Luna (LUNA).

Setelah harga LUNA terjatuh, maka 3AC mulai goyah dan juga mulai bermasalah dalam memenuhi kewajibannya kepada broker-broker yang juga menjadi krediturnya.

"Situasi Terra-Luna membuat kami sangat lengah," kata salah satu pendiri 3AC, Davies kepada Wall Street Journal dalam sebuah wawancara pada awal bulan ini.

Dari Babel Finance Hingga CoinFLEX
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading