China, Cinta Pertama dan Terakhir Covid-19?

News - Aulia Mutiara, CNBC Indonesia
19 April 2022 12:49
Workers in protective suits work at a residential area under lockdown amid the coronavirus disease (COVID-19) pandemic, in Shanghai, China April 17, 2022. REUTERS/Aly Song

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah daerah di China masih saja memberlakukan karantina wilayah (lockdown) untuk menekan penyebaran Covid-19 varian Omicron. Makulm, China masih membukukan rekor kasus baru yang bergejala di Shanghai dan daerah lainnya.

Dua tahun silam, pada 23 Januari 2020, tercatat sebagai karantina wilayah pertama untuk mencegah penyebaran virus corona yang ditetapkan di Wuhan, kota di Provinsi Hubei yang diyakini sebagai awal mula penyebaran virus corona. Jebakan lockdown dua tahun lalu tentunya memicu dampak di berbagai sektor yang menghantam warga lokal, meski siasat ini terbukti sukses mengatasi penyebaran virus corona saat itu. Satu tahun setelahnya, China adalah satu dari sedikit negara yang memiliki kisah sukses menanggulangi pandemi.

Negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia ini sempat pulih dan mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,9% pada periode Juli- September 2020, meskipun angka ini lebih rendah dari perkiraan. Saat itu China menjadi negara yang memimpin pemulihan ekonomi global berdasar data Produk Domestik Bruto (PDB). 


Saat itu, ekonomi China terus tumbuh dengan angka yang tidak dibayangkan di negara-negara terdampak Covid-19 lainnya. Lockdown untuk mengontrol penyebaran virus dikombinasikan dengan stimulus fiskal dan moneter saat itu berhasil dengan baik.

Namun, seakan mengulang mimpi buruk dua tahun silam ternyata China belum bisa keluar dari jebakan Covid-19. Konfirmasi kasus baru covid-19 di China tercatat naik drastis sejak awal bulan ini.

Aktivitas Dihambat, Ekonomi Melambat
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading