Jangan Senang Dulu, Ada Ancaman di Balik Reli Harga Komoditas

News - Feri Sandria, CNBC Indonesia
03 March 2022 17:20
PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) yang merupakan bagian dari Regional Jawa Subholding Upstream berhasil menyelesaikan pengeboran Sumur Eksplorasi Fanny-2 dengan status sebagai sumur penemu minyak dan gas bumi (Oil and Gas Discovery).

Jakarta, CNBC Indonesia - Sepekan setelah Rusia mulai melakukan agresi dan masuk ke wilayah yurisdiksi Ukraina, pasar komoditas terbang akibat ketakutan keamanan pasokan.

Harga minyak dan gas melambung dan menyentuh level tertinggi sejak Februari 2013. Menurut data Refinitiv, Kamis (3/3/2022), pukul 08.33 WIB, harga minyak Brent melesat 3,06% ke US$ 116,39/barel.

Senada, kenaikan harga minyak mendorong kontrak batu bara April ICE Newcastle tembus US$ 446/ton dan harga aluminium juga mencetak rekor.


Sebelumnya dalam perjalanan konflik di Eropa Timur tersebut, harga nikel juga sempat menyentuh level tertinggi, begitu pula dengan harga CPO di bursa Negeri Jiran.

Sekilas, kenaikan fantastis tersebut memberikan optimisme bahwa Indonesia sebagai negara yang masih bergantung pada pengelolaan sumber daya alam, akan diuntungkan.

Akan tetapi selain keuntungan dari penjualan komoditas, ternyata ada beberapa ancaman lain yang mengintai dan bisa membahayakan ekonomi jika tidak ditanggulangi dengan benar.

Beban subsidi APBN

Akibat tren harga minyak dunia yang masih memanas, tercatat harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) juga ikut mendidih. ICP ditetapkan di level US$ 63 per barel dalam asumsi APBN 2022.

Kenaikan harga minyak dunia pada akhirnya dapat menambah beban subsidi, khususnya subsidi BBM dan LPG meningkat dan bisa melebihi asumsi APBN 2022.

Catatan CNBC Indonesia, setiap kenaikan US$ 1 per barel berdampak pada kenaikan subsidi LPG sekitar Rp 1,47 triliun, subsidi minyak tanah sekitar Rp 49 miliar, dan beban kompensasi BBM lebih dari Rp 2,65 triliun.

Sebagaimana diketahui, subsidi BBM dan LPG 3 kg dalam APBN 2022 sebesar Rp 77,5 triliun. Subsidi tersebut pada saat ICP sebesar US$ 63 per barel.

Selain itu, kenaikan ICP juga memberikan dampak terhadap subsidi dan kompensasi listrik, mengingat masih terdapat penggunaan BBM dalam pembangkit listrik. Setiap kenaikan ICP sebesar US$ 1 per barel berdampak pada tambahan subsidi dan kompensasi listrik sebesar Rp 295 miliar.

Selain dampak terhadap APBN tersebut, kenaikan harga minyak juga berdampak pada sektor lainnya khususnya transportasi dan industri yang mengkonsumsi BBM non-subsidi. 

Sebagai gambaran, kisaran harga BBM non-subsidi di beberapa negara ASEAN, antara lain Singapura Rp 28.500/liter, Thailand Rp 19.300/liter, Laos Rp 19.200/liter, Filipina Rp 18.500/liter, Vietnam Rp 16.800/liter, Kamboja Rp 16.500/liter, dan Myanmar Rp 15.300/liter.

Ancaman Inflasi bahkan Stagflasi

Pemerintah melalui Pertamina memang saat ini hanya menaikkan BBM non subsidi yang dikatakan porsinya kurang dari 5% dari konsumsi total masyarakat. Akan tetapi jika harga minyak dunia tak kunjung turun bukan tidak mungkin pemerintah ikut menaikkan harga BBM subsidi.

Meski demikian dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu optimis bahwa kenaikan dari komoditas lain seperti nikel mampu memberi tambahan tenaga yang diperlukan.

Jika pemerintah tidak sanggup lagi memenuhi subsidi dan memutuskan untuk menaikkan harga BBM, tentu akhirnya akan mendorong kenaikan bahan kebutuhan lain, mengingat BBM merupakan salah satu fondasi utama penggerak ekonomi dan terintegrasi dengan segala lini kehidupan masyarakat.

Sebelumnya krisis energi di AS dan Eropa tahun lalu menjadikan inflasi dua kawasan tersebut tidak terkontrol dan menyentuh level tertinggi multi tahun.

Dari dalam negeri sebenarnya kelangkaan minyak goreng ikut mendorong inflasi yang saat ini mencapai 2,2%. Meski demikian nilai tersebut masih sesuai dengan target Bank Indonesia di kisaran 2-4%.

Inflasi yang tidak terbendung juga memberikan ancaman stagflasi. Stagflasi adalah istilah untuk fenomena ekonomi di mana harga naik (inflasi tinggi), tetapi aktivitas bisnis mengalami stagnasi, yang menyebabkan tingginya pengangguran dan berkurangnya daya beli konsumen.

Fenomena stagflasi pertama kali dikenali pada tahun 1970-an, ketika kenaikan harga minyak menyebabkan harga yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lama, tetapi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dunia turun tajam.

Goldman Sach memperingatkan dampak stagflasi dari reli komoditas yang saat ini sedang terjadi. Senada, Morgan Stanley juga mengatakan bahwa reli harga komoditas, khususnya minyak, dapat memberikan ancaman stagflasi untuk kawasan Asia, termasuk Indonesia.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Duar! Pemerintah Ketiban 'Durian Runtuh' Ratusan Triliun


(fsd/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading