Tak Cuma Batu Bara, Harga CPO Loncat Lagi Sentuh ATH Baru!

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
03 March 2022 14:34
Panen tandan buah segar kelapa sawit di kebun Cimulang, Candali, Bogor, Jawa Barat. Kamis (13/9). Kebun Kelapa Sawit di Kawasan ini memiliki luas 1013 hektare dari Puluhan Blok perkebunan. Setiap harinya dari pagi hingga siang para pekerja panen tandan dari satu blok perkebunan. Siang hari Puluhan ton kelapa sawit ini diangkut dipabrik dikawasan Cimulang. Menurut data Kementeria Pertanian, secara nasional terdapat 14,03 juta hektare lahan sawit di Indonesia, dengan luasan sawit rakyat 5,61 juta hektare. Minyak kelapa sawit (CPO) masih menjadi komoditas ekspor terbesar Indonesia dengan volume ekspor 2017 sebesar 33,52 juta ton.

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) acuan terpantau melonjak pada perdagangan Kamis (3/3/2022), menyusul kenaikan harga komoditas lainnya.

Harga CPO kembali mencetak level tertinggi barunya (all time high/ATH) pada hari ini, di tengah masih panasnya tensi konflik Rusia-Ukraina yang berdampak pada ekspor minyak bunga matahari dunia.

Per pukul 13:35 WIB, harga CPO di bursa Malaysia untuk kontrak Mei 2022 melonjak 4,35% ke level MYR 6.950/ton. Penguatan harga CPO pada hari ini membuat komoditas lokal asal Malaysia dan Indonesia tersebut membukukan kenaikan 16,49% secara mingguan dan 47,97% secara tahun berjalan (year-to-date/YTD).


Melonjaknya kembali harga CPO pada hari ini terjadi di tengah ekspektasi bahwa pembeli akan beralih ke minyak tropis untuk mengkompensasi penghentian ekspor minyak bunga matahari Laut Hitam yang terganggu oleh krisis konflik Rusia-Ukraina.

Backlog ekspor di Indonesia karena adanya aturan DMO (Domestic Market Obligation), di mana aturan ini mengharuskan produsen minyak goreng untuk menjual 20% produknya secara lokal juga turut menopang harga.

Hingga kini, ketegangan antara Rusia dengan Ukraina beserta negara-negara Barat masih terus terjadi, di mana Amerika Serikat (AS) sedang mempersiapkan sanksi berikutnya yang menargetkan lebih banyak para oligarki Rusia serta perusahaan dan aset mereka.

Akibat dari aksi perang Rusia terhadap Ukraina yang masih berlangsung, infrastruktur ekspor Ukraina seperti pelabuhan dan fasilitas ekspor lainnya mengalami kerusakan cukup parah dan tentunya pihak terkait mengalami kerugian yang cukup besar.

Sementara sanksi Barat telah memukul pasokan Rusia dan meningkatkan kekhawatiran atas gangguan pasokan jangka panjang.

"Jika perang berhenti pun, sanksi terhadap Rusia mungkin tidak akan segera dicabut. Perlu beberapa waktu agar pelabuhan dibuka kembali dan penanaman bunga matahari berikutnya mungkin tidak seperti biasanya," kata UOB Kay Hian dalam laporan riset hariannya, dikutip dari Reuters.

Dampak dari perang yang membuat ekspor minyak nabati Laut Hitam terganggu pun membuat negara pembeli atau importir minyak nabati terbesar di dunia yakni India meminta Indonesia memangkas produksi untuk biodisel dan mereka juga meminta untuk meningkatkan ekspor CPO Indonesia ke India.

Sementara ini, para pedagang di India tidak menawarkan minyak bunga matahari mentah karena Pelabuhan di Ukraina ditutup. Laut Hitam menyumbang 60% dari produksi minyak bunga matahari dunia dan 76% dari ekspor.

Dari pasar minyak nabati lainnya, yakni minyak kedelai, hujan lebat yang terjadi di kawasan pertanian Argentina turut mengurangi kekhawatiran tentang kekeringan berkepanjangan yang mempengaruhi masa panen kedelai setelah awal tahun ini.

Namun para pengamat mengatakan bahwa jika intensitas hujan masih cukup tinggi, maka hal ini juga akan mempengaruhi panen kedelai.

Dari pergerakan harganya, harga kedelai di Chicago Board of Trade melesat 1,3%, sedangkan harga kontrak minyak kedelai Dalian juga melesat 1,3%, dan harga kontrak minyak sawit Dalian melonjak 2,9%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Malangnya Nasib CPO, Sepanjang Pekan Ambruk 8%


(chd/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading