Analisis

Ini Obat 'Kanker' Stagflasi! Sakit, tapi Mau Gimana Lagi...

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
14 November 2021 13:55
FILE PHOTO: U.S. Dollar and China Yuan notes are seen in this picture illustration June 2, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo Foto: REUTERS/Thomas White

Jakarta, CNBC Indonesia - Perlahan tetapi pasti, dunia mulai bangkit dari hantaman pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19). Namun bukan berarti masalah selesai, malah muncul ancaman baru yang tidak kalah seram.

Ancaman itu adalah stagflasi, kondisi di mana tekanan inflasi sangat terasa tetapi tidak berujung ke pertumbuhan ekonomi. Malah terjadi perlambatan.

Sepertinya ini risiko yang tengah membayangi berbagai negara. Ambil contoh di China.


Pada kuartal III-2021, Produk Domestik Bruto (PDB) Negeri Panda tercatat 4,9% dibandingkan kuartal III-2020 (year-on-year/yoy). Ini jadi yang terendah sejak kuartal II tahun lalu.

Padahal inflasi China relatif tinggi, pertanda peningkatan konsumsi rumah tangga. Pada Oktober 2021, inflasi China mencapai 1,5% yoy, tertinggi sejak September 2020.

Inflasi yang tinggi tetapi tidak pertumbuhan ekonomi yang sesuai ekspektasi disebabkan oleh masalah di sisi pasokan (supply). Saat permintaan (demand) melesat karena pelonggaran pembatasan sosial (social distancing), pasokan belum bisa mengikuti.

Masalah yang terjadi di sisi pasokan bermacam-macam. Ada keterbatasan tenaga kerja, karena sebagian orang masih takut beraktivitas di luar rumah gara-gara virus corona.

Ada pula masalah kelangkaan semi konduktor, yang terutama menghantam industri elektronik dan otomotif. Juga ada masalah tingginya harga energi seperti batu bara, gas alam, sampai minyak bumi.

Halaman Selanjutnya --> Sakit, Tapi Ini Caranya Mengobati Stagflasi

Sakit, tapi Ini Caranya Mengobati Stagflasi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading