Ekonomi Dunia Masih Rapuh, Serapuh Hatimu...

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
02 February 2021 12:22
Brompton folding bicycles are assembled by hand at the Brompton factory in west London, Tuesday, Nov. 24, 2020. The team at Brompton Bicycles company thought they were prepared for Britain's Brexit split with Europe, but they face uncertainty about supplies and unexpected new competition from China, all amid a global COVID pandemic.(AP Photo/Matt Dunham)

Jakarta, CNBC Indonesia - Memasuki 2021, perekonomian dunia masih sangat rapuh. Jalan menuju pemulihan akibat pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) sepertinya bakal panjang dan melelahkan.

Kerapuhan ekonomi ini terlihat dari aktivitas manufaktur yang dicerminkan oleh Purchasing Managers' Index (PMI). Pada Januai 2021, JPMorgan dan IHS Markit mengumumkan angka PMI manufaktur dunia di 53,5. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 53,8.


PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Di atas 50, berarti pelaku usaha sedang dalam fase ekspansi.

Pada Januari 2021, industri manufaktur dunia memang masih ekspansif. Akan tetapi, lajunya melambat.

"Dari 30 negara, 23 di antaranya membukukan angka PMI di atas 50. Paling impresif terjadi di Taiwan, Amerika Serikat (AS), Belanda, dan India. Sementara yang turun adalah China dan Zona Euro. PMI yang menunjukkan level kontraksi dialami oleh Jepang, Spanyol, Thailand. Malaysia, Kazakhstan, dan Myanmar. Sementara di Yunani terjadi stagnasi," papar keterangan tertulis JPMorgan-IHS Markit.

Sektor manufaktur adalah tulang punggung perekonomian dunia. Mengutip data Bank Dunia, sumbangsih sektor ini terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) global berada di kisaran 15%.

Oleh karena itu, pulihnya sektor manufaktur berarti juga pemulihan ekonomi. Namun dalam waktu dekat, sepertinya situasi masih serba sulit, serba prihatin.

Corona Menggila, Pembatasan di Mana-mana
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading