Internasional

Ngeri! Amunisi Terakhir Trump 'Hajar' Investasi China

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
15 January 2021 06:55
FILE PHOTO: A staff member walks past U.S. and Chinese flags placed for a joint news conference by U.S. Secretary of State Mike Pompeo and Chinese Foreign Minister Wang Yi at the Great Hall of the People in Beijing, China June 14, 2018. REUTERS/Jason Lee/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) belum usai dengan China. Meski, Presiden Donald Trump akan digantikan Joe Biden 20 Januari, serangan baru, masih diberikan Paman Sam ke perusahaan-perusahaan Tirai Bambu.

Kamis (14/1/2021), AS meningkatkan sanksi dan pembatasan pada perusahaan China atas tindakan di Laut China Selatan (LCS) yang disengketakan. AS juga memberlakukan larangan investasi di sembilan perusahaan negeri Xi Jinping.

Melansir AFP, Departemen Perdagangan AS, secara resmi memasukkan perusahaan minyak CNOOC ke dalam 'daftar hitam' investasi. Sementara Departemen Luar Negeri membatasi visa bagi eksekutif perusahaan serta sejumlah pejabat pemerintah dan militer China.


"Tindakan sembrono dan agresif China di LCS dan dorongan agresifnya untuk memperoleh kekayaan intelektual dan teknologi yang sensitif untuk upaya militerisasinya, merupakan ancaman bagi keamanan nasional AS dan keamanan komunitas internasional," kata Menteri Perdagangan Wilbur Ross dalam sebuah pernyataan dikutip media tersebut.

"CNOOC bertindak sebagai alat penindas Tentara Pembebasan Rakyat (PLA/militer China) untuk mengintimidasi tetangga China, dan militer China terus mendapatkan keuntungan dari kebijakan fusi sipil-militer pemerintah untuk tujuan jahat."

China mengklaim hampir semua LCS, termasuk Kepulauan Spratly, meskipun Taiwan, Filipina, Brunei, Malaysia, dan Vietnam mengklaim sebagian dari area tersebut. LCS sendiri diyakini memiliki simpanan minyak dan gas, yang diyakini Washington mencapai US$ 2,5 triliun.

"CNOOC telah berulang kali mengganggu dan mengancam eksplorasi dan ekstraksi minyak dan gas lepas pantai di LCS, dengan tujuan meningkatkan risiko politik bagi mitra asing yang tertarik, termasuk Vietnam," kata Departemen Perdagangan AS.

AS mengatakan tak akan berhenti menekan China sampai terciptanya LCS yang bebas dan terbuka. Namun Pejabat senior China mengatakan ke wartawan bahwa daftar hitam CNOOC tak akan berlaku untuk perdagangan hidrokarbon seperti minyak mentah dan gas, atau untuk usaha patungan di luar wilayah yang disengketakan.

Keputusan ini merupakan realisasi dari pengumuman Gedung Putih November 2020 lalu. Di mana AS berencana memblokir investasi asal negeri itu ke perusahaan China yang dianggap mendukung militer dan keamanan Negeri Xi Jinping.

Kebijakan ini juga berimplikasi pada upaya mendepak perusahaan-perusahaan China dari Wall Street. Bursa Efek New York menghapus raksasa teknologi China Telecom, China Mobile dan China Unicom dari perdagangan pada 11 Januari 2021, tetapi belum mengambil tindakan terhadap CNOOC.

Pekan lalu, Departemen Keuangan AS mengumumkan akan menambah CNOOC ke dalam daftar sanksinya. Ini akan berimplikasi pada pembekuan aset apapun di bawah yuridiksi AS, dan melarang perusahaan Amerika- termasuk bank dan perusahaan lain dengan cabang di AS- untuk berbisnis.

Menyusul pengumuman tersebut, Indeks di Wall Street yakni S&P dan Dow Jones mengumumkan akan menghapus CNOOC sebelum 1 Februari.

9 Perusahaan Kena 'Gebuk'

Sementara itu, sembilan perusahaan China lainnya juga ditambahkan ke dalam daftar perusahaan yang diduga memiliki hubungan dengan China oleh Pentagon. Melansir Reuters, ini termasuk perusahaan pembuat pesawat Comac dan pembuat ponsel Xioami Corp.

Perusahaan tersebut akan tunduk pada aturan AS yang baru. Larangan investasi akan memaksa investor Amerika untuk mendivestasikan kepemilikan perusahaan-perusahaan yang masuk daftar hitam setidaknya di 11 November 2021.

China sendiri dalam komentar Kementerian Luar Negeri menuduh Washington menggunakan politik dan ideologis pada masalah ekonomi dan perdagangan. AS juga mengeksploitasi kekuasaan negara untuk menindak perusahaan asing dengan dalih keamanan nasional.

Selain Comac dan Xiaomi, Pentagon menambahkan Advanced Micro-Fabrication Equipment Inc, Luokung Technology Corp, Beijing Zhongguancun Development Investment Center, GOWIN Semiconductor Corp, Grand China Air Co Ltd, Global Tone Communication Technology Co Ltd dan China National Aviation Holding Co Ltd ke dalam daftar.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Menhan China & AS Bakal "4 Mata" di Singapura, Ada Apa?


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading