Berkat Omnibus Law, Properti Bakal Panen di 2021

News - Monica Wareza, CNBC Indonesia
14 December 2020 19:15
Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau sebanyak 619.868 unit, sementara rumah non-MBR yang terbangun sebesar 30 persen, sebanyak 145.252 unit.
Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, sekitar 20 persen merupakan rumah yang dibangun oleh Kementerian PUPR berupa rusunawa, rumah khusus, rumah swadaya maupun bantuan stimulan prasarana dan utilitas (PSU), 30 persen lainnya dibangun oleh pengembang perumahan subsidi yang mendapatkan fasilitas KPR FLPP, subsisdi selisih bunga dan bantuan uang muka. Selebihnya dipenuhi melalui pembangunan rumah non subsidi oleh pengembang.
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengungkapkan, rumah tapak masih digemari kelas menengah ke bawah.
Kontribusi serapan properti oleh masyarakat menengah ke bawah terhadap total penjualan properti mencapai 70%.
Serapan sebesar 200.000 unit ini, akan terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 250.000 unit.

Jakarta, CNBC Indonesia - Holding properti milik grup Lippo, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) menilai omnibus law UU Cipta Kerja akan menjadi pendorong bagi sektor properti pada tahun depan.

CEO Lippo Karawaci John Riady mengatakan perusahaan menilai kebijakan pemerintah untuk memberikan hak kepemilikan properti untuk warga negara asing dalam omnibus law dinilai sebagai pendorong positif bagi industri properti dalam negeri.

"Omnibus law yang mengizinkan kepemilikan asing di dalam negeri. Ini reformasi yang sangat menguntungkan Lippo Karawaci," ujar John dalam paparan publik secara virtual, Senin (14/12/2020).


LPKR memproyeksikan pendapatan perusahaan bisa tumbuh 40% menjadi Rp 3,5 triliun pada tahun depan. Angka ini tumbuh dari Rp 2,5 triliun yang diperkirakan bisa dikantongi perusahaan di akhir 2020.

John Riady menjelaskan pendapatan perusahaan masih akan ditopang oleh pendapatan induk usaha atau sebesar 60%, sedangkan sisanya akan disumbang dari anak usahanya yang menjalankan bisnis pengembang properti. "Penjualan bisa naik 30%-40% jadi Rp 3,5 triliun di tahun depan," kata John.

Dia menjelaskan, saat ini pendapatan utama perusahaan masih bersumber dari pendapatan perusahaan sebagian besar atau 70%-80% masih akan disumbang dari pendapatan berulang (recurring income) dari rumah sakit, hotel dan mol.

Kinerja rumah sakit perusahaan, yakni PT Rumah Sakit Siloam Tbk (SILO) terus membaik seiring dengan pandemi yang terus terjadi. Sedangkan hotel dan mol saat ini masih dalam fase perbaikan setelah terdampak Covid-19.

Tahun depan, untuk bisnis ini perusahaan akan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp 550 miliar-Rp 600 miliar. Dana tersebut akan digunakan perusahaan sebagian besar untuk peningkatan peralatan dan fasilitas rumah sakit.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading