Internasional

China Beri Bantuan Vaksin dengan 'Imbalan'

News - Sefti Oktarianisa, CNBC Indonesia
11 December 2020 09:02
A Russian medical worker prepares a shot of Russia's Sputnik V coronavirus vaccine in Moscow, Russia, Saturday, Dec. 5, 2020. Thousands of doctors, teachers and others in high-risk groups have signed up for COVID-19 vaccinations in Moscow starting Saturday, a precursor to a sweeping Russia-wide immunization effort. (AP Photo/Pavel Golovkin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gencarnya China menawarkan suntikan vaksin lokal ke sejumlah negara menimbulkan pertanyaan. Di saat negara kaya berebut membeli pasokan vaksin terbatas, Chinsa malah 'obral' vaksin yang ia buat.

Hal ini, menurut sejumlah pengamat tak lepas dari imbalan yang ingin di dapat negara itu ke depan. Melansir AFP, China disebut menginginkan pengembalian diplomatik dalam jangka panjang.


"Tidak diragukan lagi China sedang mempraktikkan diplomasi vaksin dalam upaya untuk memperbaiki citranya yang ternoda," kata Huang Yanzhong, seorang rekan senior untuk kesehatan global di Council on Foreign Relations (CFR), dikutip Jumat (11/12/2020).

"Itu juga telah menjadi alat untuk meningkatkan pengaruh global China dan mengatasi ... masalah geopolitik."

"Langkah Presiden Xi Jinping untuk menawarkan vaksin China di seluruh dunia sebagai 'barang publik' juga memungkinkan Beijing untuk melukis dirinya sendiri sebagai pemimpin dalam kesehatan global."

Strategi tersebut membawa banyak manfaat yang mungkin akan mengalihkan kemarahan dan kritik atas penanganan awal China terhadap pandemi. Termasuk meningkatkan profil perusahaan bioteknologi dan memperkuat dan memperluas pengaruh di Asia dan sekitarnya.

China awalnya memang menghadapi kritik pedas akibat penanganannya terhadap munculnya virus corona di Wuhan. Bahkan sejumlah negara mengkritik China karena tidak jujur di awal soal virus ini.

Tapi kini, China mengawal wabah lebih maju dibanding yang lain. Belum lagi gembar gembor media pemerintah yang menggambarkan kehidupan normal telah kembali di China.

"'Diplomasi vaksin' China bukanlah tanpa syarat," kata Ardhitya Eduard Yeremia dan Klaus Heinrich Raditio dalam sebuah makalah yang diterbitkan bulan ini di Yusof Ishak institute Singapura.

"Beijing dapat menggunakan sumbangan vaksinnya untuk memajukan agenda regionalnya, terutama pada masalah sensitif seperti klaimnya di Laut China Selatan (LCS)."

Halaman 2>>



Proyek 'Jalur Sutra Kesehatan'
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading