Teror Corona: Badai Resesi, Tsunami Kebangkrutan!

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
27 October 2020 07:05
A man walks in front of an electronic stock board showing Japan's Nikkei 225 index at a securities firm in Tokyo Wednesday, June 17, 2020. Major Asian stock markets declined Wednesday after Wall Street gained on hopes for a global economic recovery and Japan's exports sank. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Tidak hanya di Korea Selatan, tsunami kebangkrutan juga melanda perusahaan di negara-negara lain. Di jepang, jumlah kasus kepailitan yang disidangkan di pengadilan dalam sembilan bulan pertama 2020 adalah 6.047.


Bahkan jumlah tersebut sepertinya hanya punak gunung es. Tokyo Shoko Research, sebuah lembaga think-tank, memperkirakan hampir 36.000 perusahaan di Negeri Matahari Terbit memilih untuk menutup bisnisnya. Pada akhir tahun, jumlahnya bisa mencapai 53.000.

"Dengan pandemi yang sepertinya akan berlanjut, peningkatan jumlah perusahaan yang tidak bisa melanjutkan bisnisnya sulit untuk dihindari," sebut laporan Tokyo Shoko Research.

Sektor usaha yang paling banyak mencatatkan kebangkrutan, lanjut laporan itu, adalah di sektor jasa yaitu mencapai 31%. Disusul oleh sektor konstruksi (18%) dan ritel (13%).

Di negara maju lainnya yaitu Amerika Serikat (AS), jumlah pengajuan pailit alias Chapter 11 pada semester I-2020 tercatat 4.207. Naik 14,82% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Pengajuan pailit ini kebanyakan menimpa usaha kecil yang tidak punya akses permodalan maupun stimulus dari pemerintah. Sayangnya, kebangkrutan akan terus meningkat di tengah situasi ekonomi yang seperti ini," sebut Deirde O'Connor, Direktur Pelaksana Epiq (lembaga restrukturisasi bisnis di AS), sebagaimana diwartakan Reuters.

Beberapa perusahaan AS yang bangkrut pun bukan kaleng-kaleng. Ada nama-nama besar seperti Gold's Gym (pusat kebugaran), JCPenney (pertokoan ritel), GNC (suplemen kesehatan), sampai Sizzler (restoran).

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan nilai ekonomi yang hilang akibat pandemi virus corona mencapai US$ 28 triliun atau sekira Rp 411.516 triliun hingga 2025. Ini akan menjadi sebuah pukulan yang sangat terasa.

"Ouput ekonomi secara kumulatif dibandingkan pra-pandemi kami perkirakan berkurang US$ 11 triliun (Rp 161.667 triliun) pada 2020-2021 sehingga totalnya menjadi US$ 28 triliun selama periode 2020-2025. Ini akan sangat mempengaruhi standar kehidupan di seluruh negara," ungkap Gita Gopinath, Kepala Ekonom IMF, dalam blog resminya.

Proyeksi yang tidak kalah menyedihkan datang dari Bank Dunia. Lembaga yang dipimpin oleh David Malpass itu memperkirakan pendapatan per kapita penduduk planet bumi akan berkurang 3,6% yang membuat jutaan orang jatuh ke jurang kemiskinan ekstrem.

"Ini adalah proyeksi yang menyedihkan, krisis kali ini sepertinya akan meninggalkan luka yang sangat dalam dan menyebabkan perubahan signifikan. Hal pertama dan paling utama adalah bagaimana mengatasi masalah kesehatan. Selebihnya, kita harus bersama-sama menemukan jalan untuk menuju pemulihan ekonomi secepat mungkin untuk mencegah lebih banyak lagi orang yang menjadi miskin dan menganggur," papar Ceyla Pazarbasioglu, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Pertumbuhan Berkeadilan, seperti dikutip dari keterangan tertulis.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(aji/aji)
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading