Ekonomi RI Minus, Pengusaha Mulai Deg-Degan

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
05 August 2020 12:43
Ilustrasi Gedung

Jakarta, CNBC Indonesia - Kalangan pelaku usaha merespons pertumbuhan ekonomi kuartal kedua II-2020 tumbuh minus 5,32%. Mereka khawatir dengan capaian tersebut, apalagi bila pada kuartal III-2020 ekonomi masih minus.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Perdagangan Benny Soetrisno mewanti-wanti agar tidak terjadi minus kembali pada kuartal III yang saat ini sedang berjalan. Apalagi, Purchasing Manufacturing Index (PMI) Indonesia tergolong rendah.

"PMI kita kan belum menembus 50, kecenderungan negatif, turun nggak bisa ekspansi. Kalau nggak bisa ekspansi, pertumbuhan ekonomi nggak naik. Kenapa nggak ekspansi? karena daya beli ngga ada, bikin barang kalau nggak ada beli buat apa? Makanya stimulus pemerintah lewat perbankan udah disiapkan, tapi peminat sedikit, kita khawatir, kalau kuartal 3 minus lagi, berati kita masuk golongan resesi kan," kata Benny kepada CNBC Indonesia, Rabu (05/08).


Untuk memulihkan ekonomi tersebut, maka semua sendi atau sektor ekonomi harus dibangkitkan. Bukan hanya industri besar, namun juga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menyerap banyak tenaga kerja. Sayangnya, Benny melihat belum ada bantuan signifikan untuk memulihkan sektor ekonomi tersebut.

"Untuk UMKM masih business as usual pokoknya. Harus penuhi jaminan sekian, pokoknya standar bank, di lapangan sulit. Misal tukang sate yang saya temukan di Solo Pak Bejo biasa potong 4 kambing sekarang 2 kambing, karena yang beli nggak ada, nggak mungkin potong kambingnya. Kenapa? mungkin dia sudah dirumahkan atau terkena PHK," sebutnya.

Konkretnya bukti kesulitan di lapisan bawah menjadi sinyal kuat bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal III harus positif. Dari data BPS, PDB Indonesia periode April-Juni 2020 terkontraksi -5,32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY).

"Terjadi kontraksi dalam, PDB Q1 kita sudah turun dalam meski year on year masih positif. Dan PDB kuartal II kontraksi negatif 5,32% (year on year)," kata Kepala BPS, Suhariyanto, Rabu (5/8/2020).

Sementara dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-to-quarter/QtQ), PDB kuartal II-2020 ini mengalami kontraksi -4,19%. Dua kontraksi beruntun secara QtQ membuat Indonesia bisa dibilang sudah masuk ke fase resesi teknikal (technical recession). Pasalnya pada Kuartal I-2020 secara QtQ PDB Indonesia minus 2,41%.

Pemerintah Harus Gerak Cepat

Pengusaha mendorong pemerintah harus gerak cepat menghindari ekonomi Indonesia minus kembali pada triwulan III-2020. Stimulus harus segera konkret di lapangan, tapi sulitnya birokrasi terkadang mempersulit penyerapan stimulus. 

Selain itu, birokrasi dibayangi khawatir berujung kasus jika prosedur yang dilakukan justru cacat atau tidak prosedural. Bahkan lebih parahnya berujung mega skandal seperti yang terjadi sebelumnya.

"Harusnya ambil langkah cepat, saya takutnya para pembantu Pak Jokowi masih traumatik mengenai century itu. Jadi mengambil langkah tapi khawatir membayang-bayangi, kalo terlalu cepet, saya salah, saya nanti dituntut ke penegak hukum. itu secara psikologis aja itu," sebut Benny.

Ia menilai, ketakutan itu bisa sangat mengganggu kinerja dari para birokrat. Adanya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Kebijakan Keuangan Negara Dan Stabilitas Sistem Keuangan Untuk Penanganan Pandemi Covid-19 harusnya bisa membantu.

Perlindungan yang diberikan bisa membuat pelaksana di pemerintahan tidak ragu mengambil langkah. Keraguan itu yang membuat penyerapan rendah, apalagi dibayangi harus berhadapan dengan aparat penegak hukum.

"Mereka dulu sekarang dipaggil Jaksa, apalagi sekarang ada KPK. Itu traumatik pasti, manusiawi lah tapi kan efeknya ke nasional," sebutnya.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading