3 Hari Lagi Bali Dibuka, Ini yang Bikin Was-Was Perhotelan

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
27 July 2020 17:40
Tourists wearing face masks carry their surfboard at Kuta beach, Bali, Indonesia on Thursday, July 9, 2020. Indonesia's resort island of Bali reopened after a three-month virus lockdown Thursday, allowing local people and stranded foreign tourists to resume public activities before foreign arrivals resume in September.(AP Photo/Firdia Lisnawati)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tantangan terberat bagi pengusaha sektor pariwisata termasuk hotel untuk bangkit dari pandemi covid-19 adalah membangun kepercayaan wisatawan untuk datang dan menjaga kepercayaan. Salah satunya pengusaha perhotelan di Bali yang akan membuka kegiatan wisata pada 31 Juli 2020.

Ketua DPD Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Bali I Nyoman Astama menyebut bahwa kepercayaan adalah modal utama agar wisatawan domestik maupun mancanegara mau kembali berwisata ke Bali. Utamanya dalam menyiapkan dibukanya pariwisata Bali 31 Juli untuk domestik dan 11 September untuk mancanegara.

"Saya sering katakan, trust is the new currency. Kalau nggak percaya, tamu nggak datang. Itu yang jadi core utama," kata Astama kepada CNBC Indonesia, Senin (27/07/2020).


Sebagai bisnis kepercayaan, Pemerintah dan stakeholder pariwisata di Bali dituntut untuk menyiapkan secara maksimal. Jika tidak, dikhawatirkan muncul kembali terjadinya kasus yang mengakibatkan kepercayaan wisatawan menjadi hilang. Bahkan dikhawatirkan mereka enggan kembali datang kembali di waktu mendatang.

Salah satu langkah yang saat ini disiapkan adalah kepemilikan sertifikasi dari tiap pelaku usaha. Melalui sertifikasi ini, pelaku usaha dengan lokasi wisatanya sudah dinyatakan siap dalam menyambut new normal sektor pariwisata. Untuk bisa memenuhi atau mendapatkannya, ada sejumlah aspek yang perlu dipenuhi.

"Harus memahami dan menerapkan prinsip CHSE [cleanliness, healthy, safety, and environtment) sesuai protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah dari Gugus Tugas Covid-19 dan Kemenkes serta mengacu WHO (Badan Kesehatan Dunia)," jelas Astama.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading