Pilih Mana, "Membersihkan" Batu Bara atau Membuangnya?

News - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
06 July 2020 10:08
Tambang Kaltim Prima Coal

Jakarta, CNBC Indonesia

Meski bukan aktor utama pemanasan global, batu bara kini menjadi target utama serangan aktivis lingkungan. Perlu rencana-tindak terarah dari pemerintah dan pelaku usaha untuk mengubah stigma negatif batu bara.

Disukai atau tidak, batu bara masih menjadi sumber utama energi pembangkit listrik dunia karena sifatnya yang murah dan bisa diandalkan (reliabel). Saat ini total sumbangan batu bara terhadap pembangkitan listrik nasional mencapa 60,5%, mengutip data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).


Pembangkitan listrik dari sumber energi lain, yakni panel surya dan tenaga angin belum bisa bicara banyak, meski biaya produksi mereka kian murah. Jika bicara soal harga saja, beberapa energi terbarukan seperti panel surya dan turbin angin memang kini telah mengalahkan batu bara.

Hanya saja, mereka belum bisa diandalkan karena faktor intermitensi (produk yang dihasilkan naik-turun mengikuti kondisi alam), misalnya faktor mendung dan curah hujan untuk tenaga surya dan faktor penurunan tekanan udara karena faktor cuaca untuk kincir angin.

Belum lagi jika bicara faktor keekonomian untuk mengganti batu bara. Direktur Utama HMS Bergbau AB Lars Schernikau menyebutkan bahwa penggunaan energi terbarukan berbasis subsidi memicu kenaikan baya listrik di tingkat konsumen di Jerman. HMS Bergbau adalah emiten batu bara berbasis di Jerman.

lazardSumber: Lazard

Faktor keekonomian energi terbarukan juga masih berat jika bicara densitas energi, yakni ruang yang dibutuhkan untuk membangkitkan energi. Menurut penelitian Paul Behrens dan John van Zalk berjudul "The Spatial Extent of Renewable and Non-Renewable Power Generation" (2018), energi terbarukan memiliki densitas pembangkitan energi paling rendah.

Turbin angin dan panel surya membutuhkan 50 kali ruang lebih banyak ketimbang batu bara, dan 100 kali lebih banyak dari gas untuk membangkitkan energi yang sama dengan batu bara. Hal ini memicu tingginya pengadaan energi terbarukan, yang pada ujungnya dibebankan ke pelanggan sebagaimana yang terjadi di Jerman.

"Teknologi tenaga surya dan angin dalam skala besar saat ini berujung pada kenaikan drastis tarif listrik yang harus dibayar konsumen. Tarif listrik di Jerman kini 2,5 kali lebih tinggi dari AS dan 4 kali lebih tinggi dari China," tutur Lars dalam Workshop Coal and Sustainability di Jakarta, 3 Juli 2019.

Mengutip Clean Energy Wires, masyarakat Jerman memang membayar tarif energi terbarukan dengan porsi seperlima dari tagihan mereka. Tahun ini, angkanya naik menjadi 6,75 sen/Kwh dibandingkan dengan 6,41 sen pada tahun lalu.

jermanFoto: Sumber: Clew

Bagaimana dengan energi nuklir? Semua tentu sepakat bahwa energi nuklir juga sangat murah, tetapi pengelolaan limbahnya rumit dan risiko lingkungan yang sangat besar ketika terjadi gagal operasi seperti di reaktor nuklir Fukushima, Jepang pada 2011.

Pada awalnya ketika terjadi bencana, pemerintah Jepang memperkirakan biaya dekontaminasi dan kompensasi sebesar US$ 13 miliar. Pada 2016 angka itu naik jadi US$ 187 miliar. Terbaru pada 2019, Japan Center for Economic Research memperkirakan angka itu bakal membengkak menjadi 70 triliun yen (US$ 650 miliar).

Angka itu setara 258 kali lipat dari biaya konstruksinya yang pada 1976 di level 272 miliar yen (US$ 2,52 miliar), mengutip Institute of Energy Economics Japan (2018). UBS AG menilai insiden kebocoran reaktor nuklir Fukushima itu memicu keraguan akan jaminan keamanan nuklir, mengingat negara maju seperti Jepang pun gagal mengelola risikonya.

Di tengah kondisi itu, batu bara diserang dari berbagai sudut. Beberapa literatur menyalahkan batu bara sebagai biang pemanasan global. Salah satunya adalah EndCoal.Org yang menyebut bahwa batu bara adalah penyumbang 46% karbon dioksida (CO2) pemicu efek rumah kaca.

LSM anti batu bara lintas negara itu mengklaim batu bara sebagai penyumbang 72% dari emisi gas pemicu pemanasan global dari sektor kelistrikan. Namun, tidak ada elaborasi yang mendetil mengenai klaim tersebut. Mereka pun menyerukan penghentian pemakaian batu bara.

Benarkah kondisi pemanasan global sesederhana itu? Apakah satu-satunya penyelamatan target pengurangan gas rumah kaca (GRK) hanya dengan membuang batu bara, dan juga minyak bumi sebagai energi fosil, untuk selamanya? Mari kita ulas lebih jauh lagi.

Fakta Parsial Soal Pemanasan Iklim
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading