Ganasnya Corona, Hampir 100% Kamar Hotel di Bali Kosong!

News - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
27 March 2020 17:03
Ganasnya Corona, Hampir 100% Kamar Hotel di Bali Kosong!
Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak penyebaran virus corona (Covid-19) kian nyata dirasakan para pengusaha. Sektor perhotelan paling terdampak, bahkan di Bali tingkat okupansi hotel sudah hampir mencapai 0%, atau nyaris 100% kamar-kamar hotel di Bali kosong.

"Tadi presiden dilaporkan oleh Gubernur Bali bahwa kondisi okupansi rate di Bali sekarang hampir mencapai 0%," kata Juru Bicara Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Jodi Mahardi, di Jakarta, Jumat (27/3/20).

Dia menegaskan, memang sektor pariwisata ini adalah sektor yang paling terkena dampak dari Covid-19. Hal ini menjadi fokus perhatian pemerintah pusat dan daerah saat ini.


"Arahan presiden kita memang harus segera fokus mengalihkan anggaran untuk membantu para masyarakat yang terkena dampak langsung maupun tidak langsung dari penurunan wisatawan ini," imbuhnya.



Oleh karena itu, dia bilang, semua pihak kini menyambut baik langkah OJK yang telah mengeluarkan peraturan untuk relaksasi penilaian kredit di bawah Rp 10 miliar.

"Termasuk untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Dan juga untuk peningkatan kualitas kredit menjadi lancar setelah direstrukturisasi selama masa peraturan OJK ini," urainya.

Penurunan tingkat okupansi hotel di Bali tergolong signifikan. Padahal, belum lama ini Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) masih mencatat, rata-rata okupansi hotel masih 20-30% pada awal Maret 2020.

Artinya, ada 70-80% kamar kosong, khususnya di daerah-daerah yang banyak dikunjungi oleh wisatawan manca negara seperti Kuta, Sanur, Legian, Ubud, Jimbaran.

Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani menyebut, hal tersebut merupakan gambaran nyata dampak virus corona yang dirasakan oleh berbagai wilayah dengan destinasi wisata yang paling banyak diminati wisatawan baik mancanegara maupun domestik.

Kondisi tersebut membuat pihak hotel gencar melakukan efisiensi. Salah satu efisiensi terbesar ada pada biaya pegawai. Dia menyebut, ongkos untuk pegawai dipangkas hingga 50%.

"Karena perusahaan jaga cash flow. Kalau masuk semua kan 100%, sekarang perusahaan coba jaga di angka menurunkan 50% biaya tenaga kerja," ungkap Hariyadi Sukamdani di Jakarta, Kamis (12/3/20) lalu.

Namun, pemangkasan biaya pegawai tersebut tidak secara langsung dilakukan melalui mekanisme pemecatan alias PHK. Dia menjelaskan, dalam menjalankan bisnis hotel, para pelaku usaha biasanya memberlakukan 3 skema kepegawaian.

"Ada 3 jenis karyawan yakni harian, kontrak dan tetap. Nah, yang sekarang terjadi daily worker tidak dipakai. Yang karyawan kontrak dan permanen, itu sudah mulai terjadi mereka itu masuknya giliran, seperti di Bali," bebernya.

Tak hanya hotel, hal serupa juga terjadi pada bisnis restoran di Bali. Hanya saja, efisiensi biaya pekerja untuk bisnis restoran tidak serumit beban yang ada pada bisnis hotel.

"Lebih banyak memang karyawan kontrak. Relatif sedikit lebih less complicated, tidak terlalu rumit ketimbang hotel. Lebih bisa beradaptasi penyesuaian jumlah karyawan," urainya.

Di sisi lain, beban pengusaha hotel dan restoran yang juga perlu diefisienkan adalah pembayaran bunga pinjaman. Namun hal ini masih perlu kebijakan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Biaya yang juga besar, kita minta OJK adalah relaksasi pinjaman. Yakni untuk bayar pokok dan bunga pinjaman," katanya.


[Gambas:Video CNBC]




(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading