Ini Cerita di Balik Murka Jokowi Sampai Mau Pecat Pejabat

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
07 February 2020 09:43
Jokowi tidak ragu meminta Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Idham Azis untuk mencopot anak buahnya yang gagal mengatasi kebakaran hutan
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan pengarahan dalam upaya peningkatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Istana Negara, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Dalam pertemuan ini, Jokowi menegaskan tidak akan ragu meminta Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Idham Azis untuk mencopot anak buahnya yang gagal mengatasi kebakaran hutan dan lahan.

"Hati-hati pangdam, kapolda, danrem, dandim, hati-hati kapolresnya. Tegas saya sampaikan, pasti saya telpon ke panglima atau polri kalau ada kebakaran di wilayah kecil, agak membesar, saya tanya sudah dicopot belum?," kata Jokowi.

"Kalau sudah membesar, pasti saya tanyakan pangdam sama kapolda sudah diganti belum?," tegas Jokowi menirukan pembicaraannya dengan dua pimpinan aparat keamanan.


Ultimatum yang disampaikan Jokowi sejatinya bukan hal yang baru. Sejak 2016, kala memberikan pengarahan dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan, hal ini kerap kali disampaikan kepala negara.

"Kenapa? Karena yang saya takutkan, ada gubernur baru, bupati baru, pangdam baru, danrem baru yang masuk daerah rawan kebakaran, sehingga tidak tahu aturan main kita yang sudah kita ubah sejak 2016," kata Jokowi.

Jokowi menegaskan sikap tegas ini harus dilakukan untuk mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan yang sudah puluhan tahun terjadi. Jokowi tak ingin, kebakaran besar yang sempat terjadi di 2015 kembali terulang.

"Ini aturan main sejak 2016 dan berlaku sampai sekarang. Supaya yang baru-baru tahu semuanya. Kalau copot gubernur bupati walikota gak bisa. Bedanya di situ saja," tegas Jokowi.

Jokowi pun tidak dapat menyembunyikan kekecawannya melihat angka kebakaran hutan dan lahan yang kembali naik, setelah sempat turun dalam beberapa tahun terakhir.

"Pengalaman saya 2015 betul-betul sebuah kebakaran besar. Sebagai presiden yang baru saja beberapa bulan, tahu-tahu dapat peristiwa itu. Sehingga kesiapan kita saat itu masih baru melihat lapangan." kata Jokowi.

Berdasarkan catatan, total kebakaran hutan dan lahan kala itu mencapai 2,5 juta hektare. Setelah pemerintah melakukan langkah konsolidasi, kata Jokowi, angka kebakaran hutan dan lahan pun turun drastis hanya 150,000 hektare.

Meski demikian, pada 2018 angka kebakaran hutan dan lahan kembali meningkat menjadi 590.000 hektare. Bahkan, sambung kepala negara, angka kebakaran hutan merangkak naik di 2019.

"Apa kurang yang dicopot? Apa kurang persiapan?," tegas eks Gubernur DKI Jakarta tersebut.

[Gambas:Video CNBC]



Jokowi mengaku tidak ingin kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sama seperti yang terjadi di berbagai negara seperti Rusia, Brasil, Bolivia, Kanada, hingga Australia yang menghanguskan jutaan hektare lahan.

"Rusia 10 juta hektare, Brasil 4,5 juta, Bolivia 1,8 juta, Kanada 1,8 juta, dan terakhir kebakaran besar terjadi di Australia. Informasi tadi pagi 11 juta hektare. Ada 500 juta satwa yang mati karena kebakaran di sana," kata Jokowi.
(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading