Internasional

PM Inggris: Biarkan Trump yang Kendalikan Nuklir Iran

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
14 January 2020 16:32
PM Inggris: Biarkan Trump yang Kendalikan Nuklir Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Selain ketegangan militer yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran, kedua negara masih memiliki masalah lain yakni terkait pengembangan nuklir Iran.

Semenjak AS membatalkan dengan sepihak kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), Iran yang kembali mendapat sanksi ekonomi, mengaku akan kembali mengembangkan nuklir.

Namun menurut Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, dunia seharusnya tidak perlu terlalu khawatir. Ia mengatakan dunia seharusnya membiarkan Presiden AS Donald Trump yang mengatur Iran dengan perjanjian baru.


"Jika kita ingin menyingkirkannya, mari lakukan itu dan lakukan dengan kesepakatan dari Trump," ujarnya sebagaimana dikutip Reuters dari BBC, Selasa (14/1/2020). "Ini hal yang baik untuk maju."

Ia pun menyanjung Trump. Menurutnya Trump adalah pembuat deal yang hebat.

"President Trump adalah pembuat deal yang hebat, dengan caranya. Mari bersama merubah JCPOA dan melihat deal Trump," katanya.

"Dari perspektif Amerika, itu perjanjian usang, sudah basi. Apalagi itu (JCPOA) dinegosiasikan di masa Presiden (Barack) Obama. Di mata mereka, perjanjian itu memiliki banyak kelemahan."

Sebelumnya, Iran diketahui sudah setuju untuk membatasi riset uranium, yang menjadi bahan bakar nuklir. Persetujuan itu tertuang dalam JCPOA.

JCPOA yang juga dikenal dengan sebutan kesepakatan nuklir Iran, adalah sebuah perjanjian mengenai program nuklir Iran yang disepakati di kota Wina pada 14 Juli 2015. Kesepakatan itu ditandatangani oleh Iran dengan dengan negara-negara Dewan Keamanan PBB - China, Prancis, Rusia, Inggris, AS, termasuk Jerman- dan negara Uni Eropa.

Di bawah kesepakatan itu, Iran harus melakukan penelitian dan pengembangan terbatas selama delapan tahun. Namun di 2018, Trump menarik AS keluar dari JCPOA dan menerapkan kembali sanksi ke Iran.

Trump merasa kesepakatan itu tidak cukup membuat Iran menghentikan program nuklirnya. Sanksi yang dijatuhkan AS termasuk sanksi ekonomi, di mana Iran dipersulit dalam menjual minyaknya ke negara lain.

Langkah ini menekan penjualan minyak mentah Iran lebih dari 80% dan akhirnya mengganggu ekonomi negara itu. Pada 9 Januari 2020, Trump juga menambah sanksi ekonomi ke Iran karena serangan negara tersebut ke pangkalan militer AS di Irak.

Serangan Iran merupakan balasan ke AS. Pada 3 Januari, AS menyerang Bandara International Baghdad yang menewaskan Jenderal Iran, Qasem Soleimani.


[Gambas:Video CNBC]










(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading