Kelola Pulau Komodo, Luhut Mau Gandeng Operator Asing

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
02 October 2019 21:26
Kelola Pulau Komodo, Luhut Mau Gandeng Operator Asing
Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengembangkan Pulau Komodo sebagai wisata premium dapat dukungan pemerintah pusat. Pulau Komodo ditargetkan menjadi wisata terbatas dengan tarif yang tinggi untuk kepentingan konservasi.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritimin Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, bahwa Pulau Komodo tak akan ditutup, tapi akan dikelola jauh lebih baik dan profesional. Pemerintah ingin yang mengelola Pulau Komodo benar-benar profesional.

"Kita akan tenderkan. Semua yang peduli lingkungan kita akan ditawarkan. Perusahaan A atau dari filontropis B. Misalnya beli tiketnya 1000 dolar (per tiket) kita siapkan 50.000, idenya Pak Gubernur (NTT) itu 50 juta dolar sudah bisa pemeliharaan Pulau Komodo jadi world heritage," kata Luhut di Jakarta, Rabu (2/10).




Luhut mengatakan pemerintah sudah melakukan pendekatan dengan beberapa operator yang biasa mengelola secara profesional.

"Sudah kita approach. Mana nanti yang akan kita pakai, yang punya pengalaman mengelola Afrika," katanya.

Ia bilang salah satu kandidat berasal dari Amerika Serikat (AS).

"Sudah bicara ke saya di Washington. Saya belum tahu persis waktu itu tapi setelah mendapat briefing di sini, saya tahu, saya mau kontak mereka hari ini atau besok," katanya.



Menurutnya pengelolaan Pulau Komodo secara profesional sangat penting, tak hanya punya dampak positif bagi Pemda juga berdampak positif bagi perlindungan bagi Pulau Komodo. Lingkungan Pulau Komodo yang rusak dikhawatirkan tak hanya mengancam populasi komodo tapi juga perkembangan fisik komodo yang potensinya bisa lebih panjang.

"Orang-orang yang mau datang mau lihat sesuatu yang luar biasa dia harus mau bayar mahal. Untuk memelihara lingkungan. Sekarang panjang komodo 3 meter lebih. Kita gak mau berkurang," katanya.

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading