RI yang Gemar Impor dan Harga Gula nan Tinggi

News - Roy Franedya, CNBC Indonesia
12 January 2019 18:41
Impor gula rafinasi bukan konsumsi

Impor gula rafinasi bukan konsumsi

Ketua Komite Tetap Pengembangan Industri Derivatif, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Andi Bachtiar Sirang menjelaskan impor gula sepanjang dua tahun terakhir memang demikian faktanya. 

"Akhirnya pasar mengalami oversupply, sehingga di tahun 2019 ini dilakukan pengurangan alokasi impor raw sugar [gula mentah] hanya 2,8 juta ton," ujar Bachtiar kepada CNBC Indonesia, Rabu (9/1/2019).

Bachtiar tidak menampik kemungkinan adanya 'pemburu rente' dalam kebijakan impor gula. Kendati demikian, dia menegaskan bahwa kebutuhan impor bagi pelaku industri gula rafinasi murni ditentukan oleh faktor supply dan permintaan.


"Bagi industri gula rafinasi itu murni supply & demand. Sementara, impor raw sugar untuk gula konsumsi biasanya karena produksi pabrik gula (PG) dalam negeri kurang sehingga kementerian mengeluarkan surat penugasan kepada importir produsen," jelasnya.

Dia pun mengakui, klaim Faisal Basri terkait harga gula di dalam negeri yang lebih mahal 2,4-3,4 kali lipat dibandingkan harga gula global memang benar adanya. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, kebutuhan impor gula tersebut untuk kebutuhan industri, bukan konsumsi. 

"Itu gula industri loh kita tidak mengimpor gula konsumsi. Tahun ini kita belum ada sama sekali belum," kata Darmin di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Rabu (9/1/2019). 

Darmin menuturkan, impor gula tersebut juga merupakan rekomendasi dari Kementerian Perindustrian. "Itu impornya melalui perindustrian, rekomendasinya dia," ujar Darmin.



(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading