Direbut Pertamina, Lifting Blok Mahakam Terus Turun

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
07 January 2019 19:46
SKK menjelaskan sebab turunnya lifting blok Mahakam
Jakarta, CNBC Indonesia- Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mencatat, lifting gas di Blok Mahakam mengalami penurunan.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menyebutkan, lifting Pertamina Hulu Energi (PHE) Mahakam, lifting gas 2018 sebesar 832 mmscfd, atau 75% dari target APBN 2018 yang sebesar 1.110 mmscfd dan di bawah realisasi 2017 yang sebesar 1.286 mmscfd. 




Dwi menjelaskan, turunnya lifting tersebut disebabkan investasi dan masa transisi yang baru dilakukan di 2017.

"Di 2018 kan investasinya tidak banyak, jadi di 2019 masih belum terdampak," terang Dwi kepada media saat dijumpai di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (7/1/2018).

Sebagai informasi, blok Mahakam mulai dioperasikan oleh Pertamina pada 1 Januari 2018 kepada PT Pertamina (Persero), kontraknya berakhir dari kontraktor sebelumnya  yakni Total, pada 31 Desember 2017. Pada Desember 2015, dilakukan penandatanganan kontrak PSC, namun, pada Agustus 2016, Pertamina dan Total baru baru menandatangani perjanjian alih kelola.

Kendati demikian, Dwi menuturkan, di 2019 ini banyak rencana yang akan dilakukan untuk meningkatkan kinerja blok Mahakam, misalnya rencana pengeboran cukup banyak, sehingga akan berdampak di 2020.

Maka, lanjut Dwi, berkaca dari pengalaman transisi di blok Mahakam tersebut, pemerintah menginginkan agar investasi lebih dulu bisa dilakukan oleh Pertamina di blok Rokan, bahkan, tutur Dwi, investasinya mesti dilakukan tahun ini.

"Sekarang lagi pembicaraan antara Pertamina dan Chevron, untuk bagaimana transisi sampai 2021 itu bisa berjalan mulus. Minggu kemarin kami sudah mulai kick off meeting-nya, mudah-mudahan bisa segera difinalisasi," pungkasnya.

Adapun, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menuturkan, pencapaian kinerja di Blok Mahakam yang dilakukan Pertamina masih lebih tinggi dibandingkan dengan apa yang diprediksikan oleh Total E&P Indonesie, kontraktor sebelumnya, sebelum dialihkan ke Pertamina.

"Sekarang coba lihat data kalau dipegang Total itu berapa turunnya? Masih lebih tinggi dari prediksi penurunan yang diajukan Total," tandas Arcandra.
(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading