Jaksa Agung Saudi Tuntut Hukuman Mati Bagi Pembunuh Khashoggi

News - Rehia Indrayanti Beru Sebayang, CNBC Indonesia
03 January 2019 21:25
Jaksa Agung Saudi Tuntut Hukuman Mati Bagi Pembunuh Khashoggi
Jakarta, CNBC Indonesia - Jaksa Agung Arab Saudi melayangkan tuntutan berupa hukuman mati terhadap lima dari 11 terdakwa yang didakwa terlibat dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Hal itu terungkap dalam peradilan dilaksanakan di Riyadh pada, Kamis (3/1/2019).

Kesebelas terdakwa hadir bersama pengacara mereka saat pembukaan sidang di ibu kota Saudi tersebut. Demikian pernyataan jaksa agung yang diberitakan oleh Saudi Press Agency (SPA) seperti dikutip AFP.

Jaksa Agung mengatakan Saudi telah mengajukan permintaan formal untuk barang bukti sebanyak dua kali dari Turki, lokasi Khashoggi dibunuh di dalam Kedubes Saudi di Istanbul. Namun, belum ada respons apapun terkait permintaan itu.

Nama-nama terdakwa belum dirilis secara resmi. Lima pejabat tinggi di Saudi, termasuk orang dalam pengadilan kerajaan Saud Al-Qahtani, dipecat akibat pembunuhan Khashoggi. Namun, belum ada bukti yang menyatakan mereka termasuk dalam orang-orang yang didakwa.



Khashoggi, kolumnis Washington post, dibunuh pada 2 oktober. Kasus pembunuhannya disebut Riyadh sebagai operasi "keji".

Orang dalam kerajaan yang bertransformasi menjadi kritikus itu dicekik dan tubuhnya dimutilasi oleh sekelompok pembunuh yang terdiri dari 15 orang. Kelimabelas orang itu dikirim Saudi ke Istanbul untuk menjalankan operasi pembunuhan, menurut laporan pejabat Turki.

Ada laporan yang menyebut tubuh Khashoggi, yang tidak pernah ditemukan, telah dilenyapkan dengan cairan kimia.
Jaksa Agung Saudi Tuntut Hukuman Mati Bagi Pembunuh KhashoggiFoto: Infografis/Jamal Khashoggi/Arie Pratama

Penyelidikan kredibel
Tim pembela pada Kamis (3/1/2019) meminta salinan dari lembar dakwaan dan rentetan kejadian yang akan digunakan untuk memeriksa kembali tuntutan yang dijatuhkan. Jaksa telah menyetujui kedua permintaan tersebut, kata SPA. Belum ada tanggal ditetapkan untuk sidang selanjutnya.

Berita pembunuhan Khashoggi telah mengejutkan dunia pada saat Saudi dan pemimpin de facto-nya, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, sedang mendorong kampanye hubungan masyarakat untuk mengubah citra monarki ultrakonservatif menjadi negara yang modern.

Ada beberapa rekan terdekat Putra Mahkota yang mendapat tuntutan untuk menjatuhkan tindakan menentang Saudi, termasuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

AS telah menjatuhkan sanksi terhadap 17 penduduk Saudi terkait dengan pembunuhan Khashoggi. Resolusi bipartisan yang disetujui Senat bulan lalu juga menyebut Putra Mahkota bertanggung jawab atas pembunuhan itu.

Namun, pada November, jaksa agung Saudi menentang keterlibatan Putra Mahkota, yang kredensial reformisnya di luar negeri telah sangat dinodai oleh kasus pembunuhan itu.
Jaksa Agung Saudi Tuntut Hukuman Mati Bagi Pembunuh KhashoggiFoto: Raja Salman Bertemu Keluarga Jamal Khashoggi (dok Twitter @KSAmofaEN)


Kasus pembunuhan Khashoggi juga telah memberi Turki, yang merupakan aliansi dari musuh Saudi, Qatar dan Iran, pengaruh yang tidak biasa dalam memainkan peran regionalnya.

Ankara telah mengupayakan ekstradisi bagi para tersangka dalam tahanan Saudi untuk diadili di Turki. Namun permintaannya telah berulang kali ditolak Riyadh.




Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) dan PBB telah menyerukan penyelidikan independen internal kasus pembunuhan Khashoggi. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada bulan lalu telah meminta dikeluarkannya bukti yang "kredibel".

"Mengenai kemungkinan keterlibatan otoritas Saudi dalam pembunuhan Khashoggi dan kurangnya kebebasan sistem keadilan kriminal Arab Saudi, keadilan bagi setiap investigasi dan peradilannya akan tetap diragukan," kata Samah Hadid, direktur Amnesty International Timur Tengah, kepada AFP pada hari Kamis.

Inilah alasan mengapa investigasi tersendiri yang dipimpin PBB dalam kasus pembunuhan Khashoggi dibutuhkan.
Jaksa Agung Saudi Tuntut Hukuman Mati Bagi Pembunuh KhashoggiFoto: Hatice Cengiz, tunangan wartawan Saudi yang dibunuh, terlihat selama wawancara dengan Reuters di London, Inggris, 29 Oktober 2018. REUTERS / Dylan Martinez
(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading