Kasus Khashoggi Memanas, Arab Jadikan Minyak Senjata Politik?

News - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
22 October 2018 20:46
Kasus Khashoggi Memanas, Arab Jadikan Minyak Senjata Politik?
Jakarta, CNBC Indonesia- Selaku Gembong OPEC (negara-negara produsen minyak), Arab Saudi, menegaskan tak ada niat untuk mengulang embargo minyak kepada konsumen di negara barat sebagaimana terjadi pada 1973.

Hal itu ditegaskan Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih kepada media Rusia TASS news agency seperti dilansir dari CNBC Internasional, Senin (22/10/2018).

Meski kini Arab bisa disebut tengah berada dalam tekanan internasional akibat kasus dugaan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, al Falih menjamin negaranya tak akan jadikan minyak sebagai senjata politik seperti yang terjadi pada 1973.


Saat itu, terjadi perang antara beberapa negara Arab dan Israel, Arab pun memboikot negara-negara yang menyatakan mendukung Israel dengan tidak memasok minyak ke negara tersebut. Akibatnya, harga minyak dunia meroket 4 kali lipat dan AS sangat kesulitan pasokan.

Kekhawatiran embargo itu datang dari kabar adanya dorongan pengambil kebijakan AS untuk memberi sanksi ekonomi kepada Arab atas kasus Khashoggi. Lalu, Arab dikabarkan akan membalas sanksi tersebut dengan aksi yang berdampak lebih signifikan. Tetapi tenang, sampai saat ini belum ada niat Arab menjadikan minyak sebagai senjata mereka.

"Peristiwa ini pasti akan berlalu. Tapi Arab Saudi adalah negara yang sangat bertanggung jawab, selama beberapa dekade kami menggunakan kebijakan minyak kami sebagai alat ekonomi yang bertanggung jawab dan menjauhkannya dari politik," kata al-Falih.

Ia juga memperingatkan jika harga minyak naik, kemungkinan besar akan memicu resesi global. Tetapi ditambahkan dengan prospek sanksi AS terhadap Iran mulai berlaku awal bulan depan, tidak ada jaminan harga minyak tetap di bawah tiga digit.

"Saya tidak dapat memberikan jaminan, karena saya tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi pada pemasok lain," kata al-Falih, ketika ditanya apakah dunia dapat menghindari minyak mentah berjangka melompat di atas US $ 100 per barel lagi.

Pada Jumat lalu, kerajaan Arab untuk pertama kalinya mengakui Khashoggi, seorang kritikus terkemuka dari para pemimpin Saudi dan mantan wartawan Washington Post, telah terbunuh. Pernyataan itu muncul setelah awalnya Arab mengumumkan Khashoggi telah meninggalkan gedung itu tanpa luka pada 2 Oktober.

Otoritas Turki mengklaim Khashoggi dibunuh oleh tim agen Saudi di dalam konsulat dan mengatakan mereka memiliki bukti untuk membuktikannya. Pangeran Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, membantah terlibat dalam kasus tersebut. (miq)
Terpopuler
    spinner loading
Terkait
Features
    spinner loading