Internasional

Tarik Ulur Nasib Perdamaian Dagang AS-China

News - Prima Wirayani, CNBC Indonesia
28 December 2018 07:01
Tarik Ulur Nasib Perdamaian Dagang AS-China
Jakarta, CNBC Indonesia - Perundingan perjanjian perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China sepertinya sulit menemukan jalan mulus.

Berbagai kabar positif dan negatif terkait hubungan dagang dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu membuat pasar keuangan global terombang-ambing.



AS dan China awal Desember ini telah menyepakati gencatan senjata 90 hari sembari keduanya merundingkan perjanjian dagang yang diharapkan dapat mengakhiri perang bea impor yang telah berlangsung sejak awal tahun. Tenggat waktu telah ditetapkan, yaitu 1 Maret 2019.


Berbagai kabar positif telah datang hingga Kamis (27/12/2018) kemarin. Bloomberg News melaporkan hari Rabu waktu setempat bahwa delegasi pemerintah AS akan mengunjungi Beijing, China, awal Januari untuk mengadakan pertemuan pertama sejak pemimpin kedua negara menyepakati gencatan senjata dalam perang dagang global.

Deputi Perwakilan Perdagangan AS Jeffrey Gerrish akan memimpin delegasi tersebut dalam pembicaraan yang dijadwalkan akan diadakan sepanjang pekan tanggal 7 Januari, menurut Bloomberg yang mengutip dua narasumber yang mengetahui hal tersebut.

Tarik Ulur Nasib Perdamaian Dagang AS-ChinaFoto: Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping menghadiri jamuan makan malam setelah pertemuan pemimpin G20 di Buenos Aires, Argentina 1 Desember 2018. REUTERS / Kevin Lamarque

Kabar itu datang setelah pada hari Minggu kementerian perdagangan China mengatakan pemerintahnya dan AS membuat kemajuan baru terkait isu neraca dagang dan hak kekayaan intelektual dalam pembicaraan lewat telepon antara beberapa pejabat kedua negara.

Pembicaraan itu terjadi setelah kedua belah pihak mendiskusikan isu-isu ekonomi dan perdagangan dalam sambungan telepon lainnya awal pekan itu, kata kementerian.

Namun, berita baik itu kembali menjadi muram setelah muncul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan penyusunan perintah eksekutif yang akan melarang berbagai perusahaan Negeri Paman Sam untuk menggunakan produk-produk Huawei dan ZTE.

Huawei dan ZTE adalah raksasa teknologi asal China yang selama ini terus menjadi sasaran pemerintah AS yang mengklaim produk-produk buatan perusahaan tersebut disusupi peralatan mata-mata.


Perintah eksekutif, yang telah dipertimbangkan selama lebih dari delapan bulan, dapat dikeluarkan di awal Januari. Aturan itu akan mengarahkan Departemen Perdagangan untuk melarang perusahaan-perusahaan AS membeli peralatan dari pabrikan telekomunikasi asing yang menimbulkan risiko keamanan nasional yang signifikan, kata sumber dari industri telekomunikasi dan administrasi kepada Reuters.

Sementara perintah tersebut kemungkinan tidak akan menyebutkan nama Huawei atau ZTE, sebuah sumber mengatakan pejabat Perdagangan diharapkan akan menafsirkannya sebagai otorisasi untuk membatasi penyebaran peralatan yang dibuat oleh kedua perusahaan itu. Narasumber tersebut juga mengatakan naskah peraturan dimaksud belum rampung disusun.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina Hua Chunying memilih untuk tidak mengomentari kabar tersebut karena belum terkonfirmasi secara resmi.

"Yang terbaik adalah membiarkan fakta berbicara sendiri tentang masalah keamanan," kata Hua, dilansir dari Reuters, Kamis (27/12/2018).

"Beberapa negara telah, tanpa bukti, dan memanfaatkan keamanan nasional, diam-diam mengasumsikan kejahatan untuk mempolitisasi, dan bahkan menghalangi dan membatasi kegiatan pertukaran teknologi yang normal," tambahnya.

"Ini pada kenyataannya tidak diragukan lagi merupakan upaya menutup diri daripada menjadi pintu menuju keterbukaan, kemajuan, dan keadilan."

Kabar ini sempat membuat pasar saham AS melemah karena damai dagang yang diharapkan tampaknya sulit tercapai. Wall Street akhirnya mampu bangkit jelang penutupan perdagangan ditopang penguatan saham-saham sektor kesehatan.



Di posisi terendah dalam sesi perdagangan hari Kamis, Dow Jones sempat anjlok 611 poin sementara S&P 500 dan Nasdaq terperosok masing-masing 2,8% dan 3,3%, dilansir dari CNBC International.

Indeks-indeks utama melemah di tengah kecemasan akan meningginya kembali ketegangan perdagangan antara AS dan China.

"Ketidakpastian ini akan terus membebani pasar," kata Dave Campbell, prinsipal di BOS. "Saya rasa ini akan mendorong volatilitas ke depannya karena saya pikir perjanjian atau resolusi ini akan melalui jalan yang mulus."


(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading