Internasional

Tercekik Krisis, Warga Argentina Kembali ke Sistem Barter

News - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
24 September 2018 17:11
Inflasi Argentina diprediksi mencapai 30% di September.
Buenos Aires, CNBC Indonesia - Ketika harga bahan makanan pokok seperti tepung, telur, dan minyak naik dari 40% menjadi lebih dari 100% sejak awal tahun ini, warga Argentina pun semakin kreatif saat berbelanja.

Biaya hidup di negara itu naik karena inflasi terus meningkat dan bulan ini diprediksi menyentuh 30% secara tahunan, padahal peningkatan itu tidak sejalan dengan kenaikan gaji. Alhasil, warga dengan pendapatan rendah pun merasakan dampak pahitnya.



Dari barter sampai membeli dalam jumlah besar dan berburu barang murah, para warga Argentina menghadapi kesulitan untuk memanfaatkan peso yang mereka miliki.


"Semakin sulit untuk berbelanja semua barang di tempat yang sama," kata Augustina Saravia di depan warung pasar mingguan di Nueva Pompeya, pemukiman di Buenos Aires untuk warga berpenghasilan rendah sampai menengah.

"Anda berjalan sepanjang hari untuk mencoba mencari harga terbaik. Di sini harga tomat 50 peso per kilogram, di penjual sayur harganya 30 peso," tambah Saravia, sebelum beranjak ke supermarket untuk melihat harga di sana, dilansir dari AFP.

Sebagian besar konsumen di pasar pinggir jalan menggunakan waktu mereka dengan cara yang sama, yakni memeriksa harga, pergi ke suatu tempat untuk membandingkan, kemudian kembali ke tempat semula sebelum akhirnya membeli.

Tercekik Krisis, Warga Argentina Kembali ke Sistem BarterFoto: Ilustrasi warga Buenos Aires, Argentina (REUTERS/Marcos Brindicci)
Menurut institute statistik nasional Argentina (INDEC), inflasi selama delapan bulan di tahun 2018 mencapai 24,3%. Lembaga itu memprediksi inflasi akan menyentuh 30% di akhir September.

Harga minyak sudah naik 40%, telur naik 56%, tetapi harga tepung naik dua kali lipat atau 115%.


Harga meroket

Salah satu metode untuk menekan biaya belanja tetap rendah adalah membeli dalam jumlah besar, sesuatu yang semakin merebak di Argentina meski tidak selalu nyaman dilakukan.

Ibu empat anak bernama Vanessa Ledesma, yang sedang dalam masa pelatihan untuk menjadi seorang perawat, melakukan perjalanan selama 40 menit dengan bus ke sebelah selatan Buenos Aires demi pergi ke sebuah toko grosir. Kelelahan dan panjangnya perjalanan sepadan dengan apa yang dia dapatkan.

"Dengan harga satu kilogram beras yang dibeli setiap hari di dekat rumah saya, di sini saya bisa membeli dua paket keluarga yang bisa tahan sampai sebulan penuh," katanya.



Dia pergi ke tempat itu seminggu sekali demi mencari harga terbaik. Meskipun begitu, kali ini keranjang belanjanya hanya terisi empat sampai lima produk berbeda.

"Saya tidak beli banyak karena harganya meroket," katanya.

Selama bulan Agustus saja, harga tomat naik 10%, ayam meningkat 8%, kentang bertambah 7%, dan masih banyak lagi.

Hal itu terjadi karena nilai tukar peso melemah, anjlok 20% hanya dalam waktu dua hari di Agustus dan melemah sekitar 50% sejak awal tahun ini.

Nilai tukar peso dipengaruhi oleh krisis kepercayaan, karena para investor lebih memilih untuk menukar peso yang tidak stabil dengan dolar yang lebih menjanjikan.

Tercekik Krisis, Warga Argentina Kembali ke Sistem BarterFoto: Mata Uang Argentina Peso (REUTERS/Marcos Brindicci)
Namun, warga hanya bisa menukar uang pesonya jika memiliki beberapa dolar.

"Mereka semua menginginkan dolar, tetapi tidak sadar bahwa mereka yang dirugikan adalah orang miskin yang tidak memiliki dolar," kata Ledesma.


Gula ditukar pakaian

Di sebuah ruang terbuka di belakang stasiun kereta Monte Grande, sekitar 40 kilometer dari pusat kota Buenos Aires, Tamara yang berusia 28 tahun pergi ke pasar barter.

Tamara, seorang ibu pengangguran yang memiliki seorang putri kecil, membeli beberapa paket gula yang dia beli dalam jumlah banyak beberapa bulan lalu.

"Inilah cara saya bertahan, saya belum ke supermarket dalam waktu dua bulan," katanya setelah menukar beberapa gula dengan pasta, tomat, dan pakaian.

"Saya membeli semua hal di pasar barter, saya pergi ke sini tiga kali seminggu."

Pasar barter pertama kali bermunculan selama krisis ekonomi tahun 2001 yang semakin memburuk di Argentina. Sejak itu, pasar ini tidak pernah tutup.

Tercekik Krisis, Warga Argentina Kembali ke Sistem BarterFoto: Currency Exchange office in Buenos Aires, Argentina (REUTERS/Marcos Brindicci)
Masalah yang terjadi tahun ini pun menambah daya penggerak untuk pasar itu, apalagi dengan bantuan media sosial.

"Kami menggunakan Facebook untuk mengatur kami sendiri dan memungkinkan anggota menerima permintaan dan menyelenggarakan pertukaran konkrit [...] karena beberapa orang menempuh jarak satu jam," kata Miriam Silva, admin grup Facebook yang menyelenggarakan pasar barter di Monte Grande setiap hari Jumat.

Ketika berada di pasar, pembeli yang sebagian besar perempuan diidentifikasi dengan nomor atau tanda.

"Kami tidak mengenal satu sama lain, tetapi kami saling membantu," kata Liliana Trobiano, 46 tahun, seorang perawat tambahan yang sendirian membesarkan kedua anaknya.



Untuk obat-obatan, grup itu memutuskan melakukan sistem donasi ketimbang pertukaran.

"Kami juga jaringan solidaritas," kata Silva.
(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading