Internasional

Waduh, Ancaman Resesi Bikin Kondom Tak Laku di Argentina

News - Sefti Oktarianisa, CNBC Indonesia
20 September 2019 14:13
Penjualan alat kontrasepsi menurun drastis di Argentina
Jakarta, CNBC Indonesia - Penjualan alat kontrasepsi menurun drastis di Argentina. Ancaman resesi, pelemahan mata uang dan tingginya inflasi, membuat penjualan kondom turun 8% jika dibandingkan tahun sebelumnya (YoY) di Negeri Tanggo ini.

Menurut data organisasi obat-obatan, pelemahan peso membuat harga kondom menjadi mahal di Argentina. Bahkan harga kondom naik 36% sejak awal 2019.

"Kebanyakan kondom atau material yang dibutuhkan dalam membuat kondom harus diimpor. Jadi mata uang yang melemah berdampak pada harga," kata Felipe Kopelowicz, Presiden perusahaan kondom Tulipan and Gentleman, sebagaimana dikutip Reuters Jumat (20/9/2019).



Bukan hanya kondom, penjualan pil KB juga turun 6% selama setahun ini. "Ada sekitar 144.000 wanita menyetop penggunaan kontrasepsi setiap bulannya," ujar Presiden Konfederasi Farmasi Argentina Isabel Reinoso dari laman yang sama.

Hal ini membuat banyak ahli kesehatan khawatir. Terutama, dengan penyebaran penyakit karena aktivitas seksual tanpa pengaman.

"Ketika Anda hanya berpikir tentang menjalani hidup sehari-hari, soal kesehatan sering kali dianggap tidak penting. Apalagi kesehatan seksual, yang masih tabu dan memiliki sedikit dukungan," ujar Mar Lucas, Program Direktur Fundacion Huesped, sebuah LSM yang vokal pada penyebaran HIV.


Menurutnya pemerintah harus segera bertindak. Misalnya dengan membagikan kondom gratis ke rumah sakit untuk menekan penyebaran penyakit.

"Kita tahu (kondom dan pil KB) jarang digunakan, salah, dan digunakan tidak secara konsisten. Karenanya kita tetap melihat ada yang terus terinfeksi penyakit seksual," katanya.

Pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di Amerika Latin ini turun 2,6% tahun ini. Negara ini bergulat dengan inflasi yang naik hingga 50%.

Mata uang peso juga jatuh terjerembab terhadap dolar AS sejak 2018, terpukul impor dan konsumsi. Dalam sejarahnya, negara yang juga anggota kelompok G-20 ini telah sering kali terjerat ke dalam krisis akibat salah urus.

[Gambas:Video CNBC]


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading