Ma'ruf Amin Ingin Setop Impor Pangan, Bisakah?

News - Lidya Julita S, CNBC Indonesia
10 August 2018 11:22
Ma'ruf Amin Ingin Setop Impor Pangan, Bisakah?
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi meminang Ma'ruf Amin sebagai pendampingnya dalam Pilpres 2019-2024. Sementara Prabowo Subianto memilih berpasangan dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.

Setelah mendeklarasikan diri, kedua pasangan pun menyampaikan rencana visi dan misi yang akan difokuskan dalam kepemimpinannya mendatang. Salah satunya, menghentikan impor pangan.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, menghentikan impor bukan hanya keinginan pemerintahan mendatang tapi juga sudah aja sejak dulu. Tapi ia menilai impor tidak akan sepenuhnya bisa dihentikan. Pasalnya ada beberapa komoditas pangan yang tidak diproduksi di dalam negeri.


Oleh karenanya, untuk menghentikan impor bahan pangan yang bisa diproduksi di dalam negeri maka harus lebih menata lagi program swasembada pangan yang saat ini belum terlalu berhasil. Salah satu yang harus diperhatikan untuk keberhasilan swasembada pangan adalah kesejahteraan petani.

"Jadi kita masih bisa benahi sektor pangan, makanya perlu ada perhatian khusus ke sektor pertanian khususnya bagaimana memberikan insentif kepada petani. Kalau kita liat dari sisi pendapatan rill petani juga gak tinggi," ungkap Josua kepada CNBC Indonesia, Jakarta, Jumat (10/8/2018).

Selain itu, ia menyarankan agar pemerintah juga harus memperbaiki penyaluran subsidi pupuk dan benih kepada petani. "Kita lihat kenaikan harga benih dan pupuk naik, maka subsidi pupuk juga harus tetap sasaran, tujuannya supaya petani sejahtera dan produk pertanian meningkat," imbuhnya.

Sementara itu, Ekonom Indef Bhima Yudhistira juga berpendapat yang sama dengan Josua dan menilai bahwa impor tidak akan bisa dihentikan tapi yang tepat adalah impor terencana dan terkendali.

Bhima menilai, impor sebagian pangan masih dibutuhkan, contohnya impor gandum karena adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat kelas menengah bawah ke roti dan mie instan.

"Gandum kita kan engga produksi. Untuk jagung juga harus hati-hati. Kalau impor jagung main distop hasilnya seperti sekarang pakan ternak mahal dan berujung kenaikan harga telur dan daging ayam," kata dia.

Dia menjelaskan selama ini yang bermasalah adalah impor yang tidak diatur dengan baik sehingga berdampak buruk bagi perekonomian nasional. Untuk menuju pada impor terencana dan terkendali itu, pertama dibutuhkan sinkronisasi data antar kementerian lembaga di sektor pangan.

Kedua bangun substitusi impornya, artinya produktivitas pangan di level petani harus dinaikan. Subsidi pupuk harus tepat sasaran. 

"Cara paling efektif untuk kendalikan impor adalah menambah pasokan dalam negeri bukan main membatasi lewat regulasi. Konsekuensi kalau tidak hati-hati soal impor ini bisa seperti kasus gugatan AS dan Selandia Baru yang dimenangkan WTO. Kita digugat AS Rp 5 triliun karena menghambat impor produk pertanian AS," tegas Bhima.

Sebelumnya, KH Ma'ruf Amin bicara soal visinya sebagai Calon Wakil Presiden yang dipilih oleh Joko Widodo untuk pencalonan presiden periode 2019-2024. Termasuk soal visinya di sektor perekonomian. Ia juga menekankan untuk tidak ada lagi impor di negeri ini. 

"Tidak boleh negara ini tergantung pangan dari luar negeri, makanya kita harus penuhi. Tidak boleh ada impor. Masa impor jagung, gula. Kita enggak boleh negara pengimpor, tapi pengekspor dengan melakukan teknologi tinggi," ujarnya.


(roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading