Newsletter

"Angpao" Untuk Investor, China Kini Jadi Pemodal Utama di RI

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
25 January 2023 05:55
In this photo provided by the New York Stock Exchange, trader Americo Brunetti works on the floor, Thursday, March 25, 2021. Stocks are wobbling in afternoon trading Thursday as a slide in technology companies is being offset by gains for banks as bond yields stabilize.(Courtney Crow/New York Stock Exchange via AP) Foto: AP/Courtney Crow

Beralih ke Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ditutup beragam. Indeks Dow Jones ditutup di zona hijau sementara indeks Nasdaq dan S&P 500 berakhir di zona merah.

Indeks Dow Jones menguat 104,4 poin atau 0,31% ke posisi 33.733,96. Indeks S&P 500 melemah 2,86 poin atau 0,07% ke 4.016,95 sementara Nasdaq turun 30,14 poin atau 0,27% ke posisi 11.334,27.

Perdagangan sejumlah saham di bursa New York (NYSE) sempat terhenti sesaat setelah pembukaan.

Persoalan teknis disinyalir menjadi sebab dari terhentinya perdagangan sekitar 80 saham. Termasuk di dalamnya adalah saham Walmart, Mastercard, McDonalds, Uber, Wells Fargo, Visa, Exxon Mobil, dan Nike.

Pihak NYSE sudah melakukan penyelidikan atas insiden tersebut. Namun, mereka enggan memberi penjelasan lebih lanjut.

Persoalan teknis juga pernah terjadi pada 8 Juli 2015 dan membuat perdagangan di bursa New York terhenti selama beberapa jam.

Tidak kompaknya bursa Wall Street pada penutupan perdagangan Selasa (24/1/2023) bertolak belakang dengan sehari sebelumnya di mana semua indeks menghijau.

Indeks ditutup beragam karena earning atau laporan kinerja keuangan perusahaan sejauh ini banyak yang berbeda dari ekspektasi analis.

Dari 72 perusahaan di indeks S&P yang sudah merilis laporan keuangan mereka,  65% ada di atas konsensus.

General Electric telah melaporkan jika pendapatan mereka naik 7,7% pada 2022  dan di atas ekspektasi pasar menjadi US$ 21, 8 miliar.

Pendapatan Microsoft juga melebihi ekspektasi pasar. Pada kuartal II-2023 (berakhir di Desember 2022), pendapatan Microsoft mencapai US$ 52,75 miliar, di atas ekspektasi pasar yakni US$ 52,94 miliar.

Analis memperkirakan kinerja keuangan perusahaan indeks S&P akan melandai 2,9% dibandingkan kuartal sebelumnya. Pendapatan juga diperkirakan akan lebih rendah 1,6% dibandingkan forecast pada 1 Januari 2023.

"Laporan keuangan belum membawa pasar kondisi bear atau bull. Namun, kami mengakui ada kegelisahan di antara investor, terutama mengenai kapan The Fed akan mengakhiri kenaikan suku bunga," tutur chief investment officer dari NovaPoint,  Joseph Sroka, dikutip dari Reuters.

Indikator perekonomian masih menunjukkan data yang saling bertolak belakang. Inflasi AS melandai pada Desember 2022 menjadi 6,5% (yoy).

Namun, data lain seperti tenaga kerja menunjukkan ekonomi AS masih panas dan melaju kencang.  Selasa (24/1/2023), S&P Global merilis flash atau perkiraan PMI Manufacturing untuk Januari.

Data S&P Global menunjukkan PMI Manufacturing AS meningkat menjadi 46,6 pada Januari 2023, dari 46,2 pada Desember 2022.  PMI jauh di atas ekspektasi pasar tetapi masih dalam fase kontraksi.

"Kita tengah berada di lereng jalan dalam sebuah siklus earning. Minggu depan diharapkan lebih banyak informasi tentang bagaimana arah pasar ke depan," imbuhnya.

Kamis (26/1/2023), AS akan merilis data pertumbuhan ekonomi mereka. Data ini akan menjadi salah satu pertimbangan  The Fed dalam rapat FOMC pada 31 Januari-1 Februari mendatang.

Bukti Baru Peran Besar China di Ekonomi RI Akankah Menggerakan Pasar Hari Ini?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5 6

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading