Rupiah Ngamuk, Tembus ke Bawah Rp 14.900/US$!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
24 January 2023 15:02
Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah menguat tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (24/1/2023) hingga ke bawah Rp 14.900/US$. Sentimen pelaku pasar yang membaik mendapat kabar dari Eropa, serta jebloknya indeks dolar AS membuat rupiah menyentuh level terkuat dalam 4 bulan terakhir.

Melansir data Refintiv, rupiah mengakhiri perdagangan di Rp 14.885/US$, melesat 1,23% di pasar spot. 

Kabar baik datang dari Eropa. Survei terbaru menunjukkan Eropa bisa menghindari resesi di tahun ini. Semua berkat penurunan harga energi serta pembukaan kembali perekonomian China.

Survei yang dilakukan oleh Consensus Economics menunjukkan Eropa diperkirakan akan mampu mencatat pertumbuhan 0,1% pada tahun ini.

Anna Titareva, ekonom di USB sebagaimana dikutip Financial Times Minggu (22/1/2022) mengatakan saat ini risiko resesi Eropa kurang dari 30%, jauh lebih rendah dari proyeksi yang diberikan tahun lalu hingga 90%.

"Meredanya disrupsi supply, pasar tenaga kerja yang kuat dan simpanan yang lebih banyak membuat ekonomi zona euro resilien. Eropa juga sukses memenuhi pasokan gasnya dalam beberapa bulan terakhir," kata Titavera.

Harga gas juga sudah menurun tajam, kembali ke bawah level sebelum perang Rusia-Ukraina pecah. Hal ini tentunya akan meredakan tekanan inflasi di Benua Biru.

Gubernur bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) dalam World Economic Forum (WEF) di Davos pekan lalu juga mengatakan wajah perekonomian Eropa saat ini jauh lebih bagus, tidak seperti yang ditakutkan sebelumnya.

Hal tersebut membuat sentimen pelaku pasar membaik, dan bisa menguntungkan rupiah sebagai aset emerging market.

Bank sentral AS (The Fed) saat ini telah memasuki periode blackout. Artinya, para pejabat The Fed tidak akan memberikan pernyataan apapun sampai pengumuman kebijakan moneter Kamis dini hari pekan depan.

Sebelum memasuki periode blackout, salah satu pejabat elit The Fed, Christopher Waller juga sudah menyatakan dukungannya terhadap kenaikan 25 basis poin.

Hal ini menguatkan ekspektasi The Fed akan kembali mengendurkan laju kenaikan suku bunganya. Indeks dolar AS pun masih tertahan di level terendah dalam 9 bulan terakhir.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, pasar kini melihat The Fed akan kembali menaikkan suku bunga 25 basis poin pada Februari nanti, dan sekali lagi dengan besaran yang sama sebulan berselang sehingga menjadi 4,75% - 5%.

Ekspektasi tersebut lebih rendah dari proyeksi The Fed sebesar 75 basis poin, hingga menjadi 5% - 5,25%.

Selain itu, bank sentral paling powerful di dunia ini juga diprediksi akan memangkas suku bunganya pada akhir 2023.

Indeks dolar AS pun turun 0,4% ke bawah 102, dan berada di level terendah dalam 9 bulan terakhir. Sepanjang bulan ini, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS tersebut telah turun 1,7%. Bahkan, jika melihat ke belakang indeks dolar AS sudah merosot 7,7% pada kuartal IV-2022.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Terkapar Lawan Dolar AS, Rupiah Dekati Level Rp 15.600/USD


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading