Newsletter

Ekonomi China Lagi Slow, IHSG Kuat Nanjak ke All Time High?

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
19 October 2021 06:20
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - PDB China tumbuh pada laju paling lambat dalam setahun terakhir karena krisis energi besar-besaran, gangguan pengiriman dan pengapalan serta krisis properti yang masih belum terselesaikan.

Ekonomi China 'hanya' tumbuh 4,9% pada kuartal ketiga atau di bawah konsensus serta ekspektasi pasar yang memperkirakan PDB China mampu tumbuh 5,2%. Pertumbuhan tersebut jauh lebih lambat dari kuartal kedua yang mana peningkatan ekonomi di China mencapai 7,9%.


Merespons dikeluarkannya data ekonomi tersebut, mayoritas bursa Asia ditutup melemah pada perdagangan Senin (18/10/2021) kemarin, tercatat hanya indeks Hang Seng Hong Kong dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup di zona penguatan.

Pada perdagangan Senin kemarin IHSG kembali ditutup menguat 0,38% ke level 6.658,77, berkat dorongan sentimen positif dari dalam dan luar negeri. Harga penutupan tersebut hanya berjarak sekitar 0,53% lagi agar IHSG dapat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masanya di level 6.693,466 yang tercipta pada tahun 2018 lalu.

Data perdagangan mencatat nilai transaksi hari ini cenderung menurun menjadi Rp 16,4 triliun. Investor asing tercatat masih melakukan pembelian bersih (net buy), nyaris mencapai Rp 1 triliun, atau tepatnya sebesar Rp 999,62 miliar di pasar reguler. Sebanyak 324 saham naik, 186 saham turun dan 159 lainnya stagnan.

Investor asing kembali melakukan pembelian bersih di saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 529 miliar. Selain di saham BBRI, asing juga tercatat mengoleksi saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 149 miliar.

Dari pergerakan sahamnya, saham BBRI ditutup melesat 2,08% ke level harga Rp 4.410/unit, sedangkan saham BMRI berakhir menguat ke level Rp 7.175/unit.

Sementara penjualan bersih dilakukan asing di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang dilepas sebesar Rp 172 miliar dan di saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) sebesar Rp 37 miliar.

Saham BBCA ditutup merosot 1,63% ke level Rp 7.525/unit, sedangkan saham UNVR ditutup ambles 2,39% ke posisi harga Rp 5.100/unit.

Meski investor dibuat khawatir akibat perlambatan laju pertumbuhan ekonomi China, kabar baik dari dalam negeri mampu menopang IHSG. Sentimen positif datang dari perkembangan penanganan pandemi virus corona (Covid-19), di mana kasus Covid-19 di Tanah Air tercatat di bawah 1.000 dalam 2 hari terakhir sehingga memicu harapan bahwa pemulihan ekonomi nasional bakal segera terjadi.

Sementara itu, sentimen yang masih cenderung positif dari luar negeri yakni dari India yang memutuskan memangkas pungutan impor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dari 24,75% menjadi 8,25%. Bea impor untuk produk olahan CPO juga diturunkan dari 35,75% menjadi 19,25%.

Di sisi lain, kelanjutan krisis energi yang belum teratasi bakal terus membuat harga batu bara dan komoditas logam lainnya menguat.

Meski IHSG ditutup melemah, hal sebaliknya terjadi pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang melemah di kurs tengah Bank Indonesia (BI) dan di 'gelanggang' pasar spot.

Pada Senin kemarin, kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp 14.096. Rupiah melemah 0,08% dibandingkan posisi akhir pekan lalu.

Di pasar spot, US$ 1 setara dengan Rp 14.105 kala penutupan perdagangan. Rupiah terdepresiasi 0,25%.

Akan tetapi rupiah tidak perlu berkecil hati. Sebab, hampir seluruh mata uang utama Asia tidak berdaya di hadapan dolar AS.

Bursa Wall Street Rebound Setelah Dibuka di Zona Merah
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading