Review

Pernah Sensasional-Disebut Jokowi, Apa Kabar Saham-saham Ini?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
26 August 2021 06:21
Jokowi Tinjau Wisma Atlet Kemayoran Untuk Pasien Virus Corona. Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden

Jakarta, CNBC Indonesia - Ada kalanya saham menjadi primadona dalam beberapa bulan terakhir, ada saatnya pula saham-saham tersebut mulai dilupakan karena ada sentimen baru. Begitu seterusnya, kendati ada saham-saham kebal sentimen sehingga terus menjadi pilihan investor dalam jangka panjang.

Setidaknya dalam kurun waktu setahun terakhir ada deretan saham yang sempat menjadi primadona investor ritel sehingga membuat kinerjanya melonjak secara signifikan.

Alasan para investor mengoleksi saham-saham tersebut beragam, mulai dari ekspektasi lonjakan kinerja di tengah pandemi Covid-19, beleid baru soal bank digital, sampai soal proyek pabrik mobil listrik.


Lantas, apa saja saham-saham yang sempat hype dan banyak diborong investor tersebut?

Apa kabarnya sekarang?

1. BUMN Farmasi

Saham anak usaha PT Bio Farma (Persero), PT Indofarma Tbk (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF)--termasuk saham anak usaha KAEF PT Phapros Tbk (PEHA)--sempat menjadi saham andalan investor karena spekulasi lompatan kinerja berkat perannya sebagai distributor vaksin Covid-19.

Setelah sempat melesat pada awal-awal Desember 2020, pada 12 Januari 2021, atau sehari sebelum program vaksinasi Covid-19 dimulai, ketiga saham tersebut melonjak mencapai harga tertinggi dalam setahun terakhir.

INAF melonjak ke posisi Rp 6.975/saham, KAEF ke Rp 6.975/saham dan anak usaha KAEF, PEHA melejit di Rp 2.640/saham.

Sebagai informasi, pada 13 Januari lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan jajaran menteri kabinet Indonesia Maju menjadi penerima vaksin Covid-19 pertama, menandai dimulainya pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Tanah Air.

Setelah mengalami 'demam' kenaikan setelah didorong sentimen vaksinasi Covid-19 pada pertengahan Januari tahun ini, saham tersebut cenderung bergerak 'menuruni bukit. Meski demikian, ketiga saham tersebut sempat naik beberapa waktu lalu didorong oleh sentimen obat Covid-19 Ivermectin yang bakal diproduksi Indofarma.

Pada Rabu kemarin (25/8), saham INAF ditutup naik 0,42% di Rp 2.370/saham. Meski demikian sepanjang Agustus ini saham INAF turun 17,42% dan year to date minus 41,19%.

Saham KAEF ditutup naik 1,27% di Rp 2.400/saham. Dalam sebulan terakhir sajam KAEF anjlok 18,37% dan year to date juga ambruk 43,53%. Saham PEHA stagnan di level Rp 1.155/saham dengan koreksi sebulan 2,53% dan year to date 32%.

2. Saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII)

Saham emiten data center milik Toto Sugiri DCII memang sensasional dengan kenaikan luar biasa sejak awal penawaran umum saham perdana (IPO/initial public offering) 6 Januari 2021 di harga Rp 420/saham.

Seiring dengan kenaikan signifikan sejak awal debut, sampai saat ini bursa sudah melakukan suspensi atau menghentikan perdagangan saham sementara sebanyak 5 kali.

Setelah diborong investor pada awal tahun, saham DCII semakin 'menggila' setelah Bos Indofood Anthoni Salim masuk ke saham tersebut awal Juni lalu.

Sejak saat itu saham DCII berkali-kali menjebol ARA sampai akhirnya sempat menyalip dua saham paling mahal di bursa, emiten rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan bank raksasa PT Bank Central Indonesia (BBCA).

Kejadiannya pada 8 Juni, ketika saham DCII menembus Rp 34.200, sedangkan saham GGRM berada di Rp 33.025/saham, dan saham BBCA di Rp 32.150/saham.

Sejurus dengan itu, hanya butuh waktu sekitar 6 bulan untuk saham ini bisa mencicipi masuk ke ke jajaran big cap alias saham dengan nilai market cap di atas Rp 100 triliun.

Adapun, harga saham DCII mencapai level tertinggi sebelum disuspensi mulai 17 Juni lalu yakni di posisi Rp 59.000/saham per 16 Juni.

Setelah suspensi dibuka pada 12 Agustus lalu, saham DCII anjlok hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) selama 7 hari beruntun.

Rabu kemarin (25/8), saham DCII ditutup naik 9,97% di Rp 43.000/saham. Sebulan terakhir saham ini turun 27% dan year to date masih cuan 321%.

3. Saham Nikel

Saham sektor nikel juga sempat menjadi incaran ritel, setelah produsen mobil listrik asal Amerika Serikat (AS) Tesla disebut-sebut akan menggelontorkan dana besar untuk membangun pabrik baterai mobil listrik di Indonesia dan diikuti oleh prospek komoditas nikel ke depan sangat cerah.

Sontak saja pada awal tahun 2021 saham-saham nikel melesat tinggi, sebelum akhirnya kembali bertumbangan setelah kejelasan investasi Tesla di Indonesia tidak menemui titik temu.

Tim Tesla sempat akan berkunjung ke Indonesia pada awal Januari 2021, lalu kemudian diundur pada Februari 2021.

Namun, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi akhirnya menyatakan, perwakilan Tesla membatalkan kunjungannya ke Indonesia pada Februari 2021. Hal ini karena aturan pembatasan kedatangan warga negara asing (WNA).

Pada perdagangan Rabu (25/8), saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 1,32% di Rp 2.300, dengan koreksi sebulan 12,55% dan year to date naik 18,86%.

Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) naik 0,60% di Rp 5.000 dengan koreksi sebulan 7,83% dan year to date minus 1,56%. Sementara itu saham PT Timah Tbk (TINS) stagnan Rp 1.455 dan koreksi sebulan 12,35% dan year to date turun 2,02%.

NEXT: Ada Saham Penyedia Gas Oksigen hingga RS

Ada Produsen Gas Industri hingga RS
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading