Newsletter

PPKM Diperpanjang Tapi Longgar, IHSG Terbang Hari Ini?

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
26 July 2021 06:35
Pernyataan Presiden Jokowi tentang Perkembangan Terkini PPKM Darurat, Istana Merdeka, 25 Juli 2021. (Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar berada dalam tekanan sepanjang pekan lalu, dengan reli di bursa saham dan pelemahan imbal hasil (yield) obligasi yang mengindikasikan aksi spekulasi investor di tengah kenaikan risiko ekonomi. Mengawali pekan ini, tren tak akan banyak berubah kecuali untuk saham berbasis pertumbuhan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan lalu masih mampu bertahan di zona hijau dan di level psikologis 6.100. Membukukan kenaikan mingguan sebesar 0,48% (29,18 poin), IHSG berakhir di level 6.101,69 pada Jumat pekan lalu.


Indeks acuan bursa saham tersebut melemah hanya dalam dua dari lima hari perdagangan yakni di awal dan akhir hari perdagangan. Mengawali pekan, IHSG merosot 0,91% ke 6.017,39 dan pada Jumat akhir pekan lalu IHSG melemah 0,58%.

Selama sepekan, nilai transaksi IHSG mencapai Rp 54,9 triliun dan investor mencetak pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 2 triliun di pasar reguler. Sebanyak 191 saham menguat, 277 lain melemah, dan 172 sisanya flat.

Saham perbankan mendominasi perdagangan, dipimpin PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai transaksi Rp 1,8 triliun, diikuti PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan transaksi masing-masing sebesar Rp 1,7 triliun

Namun, pasar terlihat masih cemas melihat perkembangan kasus Covid-19 yang terus menguat. Akibatnya, harga obligasi pemerintah Indonesia sepekan lalu menguat, sebagaimana terlihat dari pergerakan imbal hasilnya (yield) yang rata-rata melemah 3,5 basis poin (bp).

Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun yang menjadi acuan pasar tertekan hingga 13,9 bp ke 6,298%, dari posisi akhir pekan lalu 6,437%. Imbal hasil bergerak berlawanan dari harga sehingga pelemahan yield mengindikasikan harga surat utang yang naik.

Di tengah tekanan sentimen tersebut, rupiah sepekan lalu masih berhasil menguat, meski sangat tipis yakni sebesar 0,03% ke Rp 14.490 per dolar AS. Dari 5 hari perdagangan, Mata Uang Garuda ini hanya menguat pada Kamis (22/7/2021), sebesar 0,41%.

Rupiah mengalami tekanan akibat lonjakan kasus penyakit virus corona (Covid-19) di Indonesia, sementara itu dolar AS kini menanti pengumuman kebijakan moneter bank sentralnya (Federal Reserve/The Fed).

Bank Indonesia (BI) pekan lalu memilih bermain aman, dengan mempertahankan suku bunga acuan (7-Day Reverse Repo Rate) di level 3,5%. Suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility juga bertahan masing-masing 2,75% dan 4,25%.

Kali terakhir BI menurunkan suku bunga acuan adalah pada Februari 2021. Selepas itu, suku bunga selalu ditahan dengan stabilitas nilai tukar rupiah menjadi alasan utama.

Yield Naik Lagi, Optimisme Pasar Pulih
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading