Newsletter

'Hantu' Taper Tantrum Terus Bergentayangan, IHSG Ambles Lagi?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
09 June 2021 06:10
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar modal Tanah Air bergerak beragam pada Selasa (8/6) kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles, mata uang rupiah berhasil menguat tipis di hadapan dollar Amerika Serikat (AS). Sementara, harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) terpantau melemah.

IHSG ambles 1,16% ke level 5.999,37 dan terpaksa kembali meninggalkan level psikologis 6.000.


Nilai transaksi kemarin kembali turun menjadi Rp 11,1 triliun dan terpantau investor asing mulai menjual bersih beberapa saham sebesar Rp 273 miliar di pasar reguler. Tercatat 168 saham terapresiasi, 349 terkoreksi, sisanya 130 stagnan.

Asing melepas dua saham bank big cap, yakni saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Para investor tampaknya masih melakukan aksi ambil untung (profit taking), seperti yang dimulai pada perdagangan Senin (7/6) lalu.

Dari data ekonomi RI, cadangan devisa (cadev) Indonesia turun cukup signifikan pada Mei 2021 dibandingkan sebelumnya. Ini membuat cadev tidak lagi berada di posisi tertinggi sepanjang masa.

Kemarin, Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa Indonesia per akhir Mei adalah US$ 136,39 miliar. Turun US$ 2,4 miliar dibandingkan bulan sebelumnya. Pada April, cadev Indonesia mencapai US$ 138,79 miliar. Ini adalah rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka.

Meskipun demikian, BI mengaku masih cukup optimistis prospek cadangan devisa Indonesia masih cerah. Hingga akhir tahun, otoritas moneter yakin cadangan devisa berada di US$ 141 miliar.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Hariyadi Ramelan mengemukakan prospek cadangan devisa masih akan didukung dari surplus neraca perdagangan, meningkatnya volume perdagangan dan harga komoditas global.

"Mudah-mudahan saya yakin Insya Allah target US$ 141 miliar tercapai lebih cepat," kata Hariyadi dalam 'Squawk Box' CNBC Indonesia, Selasa (8/6).

Berbeda nasib, kemarin, nilai tukar rupiah akhirnya menguat tipis melawan dolar Amerika Serikat (AS) setelah sempat masuk ke zona merah. Dolar AS yang sedang galau membuat rupiah mampu menguat, tetapi tidak gampang, Mata Uang Garuda sempat masuk ke zona merah, dan lama stagnan.

Rupiah sedikit tertekan akibat penurunan cadangan devisa (Cadev) yang mengalami penurunan.

Kurs rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,07% ke Rp 14.250/US$. Setelahnya, rupiah sempat berbalik melemah tipis 0,04%. Di penutupan perdagangan, rupiah kembali ke Rp 14.250/US$.

Meski rupiah menguat tipis, tetapi bisa dikatakan cukup bagus sebab mayoritas mata uang utama Asia melemah. Hingga pukul 15:09 WIB, hanya ringgit Malaysia yang penguatannya lebih besar dari rupiah, 0,17%.

Dolar AS mulai tertekan setelah rilis data tenaga kerja pada Jumat pekan lalu. Meski data tenaga kerja AS cukup solid, tetapi banyak analis yakin data tersebut masih belum cukup membuat bank sentral AS (The Fed) untuk mengurangi nilai program pembelian asetnya (quantitative easing/QE) atau yang dikenal dengan istilah tapering.

Presiden The Fed wilayah Cleveland, Lorreta Mester, juga menyatakan data tenaga kerja AS bagus tetapi masih belum cukup untuk merubah kebijakan moneter.

"Saya melihat ini sebagai kemajuan yang terus dibuat pasar tenaga kerja, tentunya kabar yang sangat bagus. Tetapi, saya ini melihat kemajuan lebih jauh," kata Mester dalam acara "Squawk on the Street" CNBC International, Jumat (4/6/2021).

Alhasil, dolar AS yang sebelumnya ditopang oleh isu tapering menjadi kehilangan tenaganya.

Pelaku pasar saat ini juga bingung terhadap pergerakan dolar AS. Reuters mengadakan survei pada 28 Mei hingga 3 Juni terhadap 63 analis. Hasilnya, sebanyak 33 orang mengatakan pelemahan dolar AS sudah selesai, sementara sisanya memprediksi dolar AS masih akan melemah 0,5% hingga 6% dalam tiga bulan ke depan.

Dari obligasi negara, investor memburu SBN berjangka pendek, sedangkan untuk SBN berjangka menengah hingga panjang cenderung dilepas oleh investor pada Selasa kemarin.

Dari imbal hasilnya (yield), SBN bertenor pendek, yakni tenor 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun mengalami penurunan yield, sedangkan SBN berjangka menengah hingga panjang mengalami kenaikan yield.

Yield SBN bertenor 1 tahun dengan kode FR0061 turun 3,7 basis poin (bp) ke level 3,545%, sedangkan yield SBN berjatuh tempo 3 tahun dengan seri FR0039 turun 1,2 bp ke posisi 4,814%, dan SBN dengan tenor 5 tahun berseri FR0081 juga turun 1,1 bp ke 5,377%.

Sementara untuk yield SBN bertenor 10 tahun dengan kode FR0087 yang merupakan acuan obligasi negara mengalami kenaikan sebesar 0,7 bp ke posisi 6,446% kemarin.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga kenaikan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Minim Tenaga, Wall Street Ditutup Beragam
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading