Newsletter

Masih Menunggu Data Inflasi AS, IHSG-Rupiah Kuat Nanjak Gak?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
08 June 2021 06:20
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah berhasil mencatatkan penguatan pada perdagangan Senin (7/6/2021). Sementara, harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) beragam, di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).

Setelah sempat melemah di menit-menit terakhir, IHSG akhirnya berhasil ditutup di zona hijau, walaupun hanya tipis-tipis saja. Indeks bursa saham acuan nasional tersebut ditutup menguat tipis 0,08% ke level 6.069,94.


Data perdagangan mencatat sebanyak 200 saham menguat, 294 saham melemah dan 159 lainnya mendatar. Nilai transaksi hari ini naik tipis menjadi Rp 11,7 triliun.

Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) di pasar reguler sebesar Rp 190 miliar. Namun di pasar tunai dan negosiasi, asing tercatat masih melakukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 314 miliar.

Sekitar 15 menit sebelum pasar ditutup, IHSG sempat bergerak ke zona merah, yakni melemah tipis 0,04% karena aksi jual investor asing di beberapa saham big cap, yakni salah satunya di saham BBRI. Hari ini investor akan menunggu rilis data cadangan devisa oleh BI yang akan dirilis pada pukul 10.00 WIB.

Selain IHSG, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga menguat pada perdagangan pasar spot awal pekan ini, setelah melemah tipis 0,07% sepanjang pekan lalu. Kemarin, US$ 1 dibanderol Rp 14.260/US$ di pasar spot.

Rupiah menguat 0,21% dibandingkan dengan penutupan perdagangan terakhir pekan lalu. Sebelumnya di awal perdagangan rupiah menguat 0,42% ke Rp 14.230/US$.

Setelah kemarin pasar mencermati data ketenagakerjaan terbaru di Negeri Paman Sam yang meski meningkat tetapi masih di bawah ekspektasi pasar, kini pasar menanti data lain yaitu inflasi yang diukur dengan Indeks Harga Konsumen periode Mei 2021. Data ini akan dirilis pada Kamis malam waktu Indonesia.

Konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan inflasi AS bulan lalu adalah 4,7% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya (year-on-year/yoy). Lebih cepat ketimbang laju bulan sebelumnya yaitu 4,2% yoy dan jika terwujud bakal menjadi yang tercepat sejak September 2008.

Perkembangan inflasi tentu akan menjadi warna dalam pertemuan bank sentral AS bulan ini. Jika laju inflasi diperkirakan bakal stabil di atas target 2%, maka bukan tidak mungkin The Fed bakal mulai melakukan pengetatan.

Suku bunga mungkin tetap bertahan rendah. Tetapi gelontoran likuiditas (quantitative easing) kemungkinan bisa dipangkas dari saat ini yang US$ 120 miliar per bulan.

Sedikit bernuansa, harga SBN beragam kemarin. Ini di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS karena investor terus mencerna data laporan pekerjaan AS terbaru.

Sikap investor di SBN cenderung mix di mana pada SBN bertenor 1 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dan 30 tahun ramai dikoleksi oleh investor dan mengalami penguatan harga serta imbal hasilnya (yield) mengalami penurunan. Sedangkan sisanya yakni SBN berjatuh tempo 3 tahun, 5 tahun, dan 25 tahun cenderung dilepas oleh investor dan mengalami pelemahan harga, ditandai dengan kenaikan yield.

Yield SBN bertenor 3 tahun dengan kode FR0039 naik 0,1 basis poin (bp) ke level 4,826%, sedangkan yield SBN berjatuh tempo 5 tahun dengan seri FR0081 juga naik 0,2 bp ke posisi 5,388%, dan yield SBN dengan jatuh tempo 25 tahun dengan seri FR0067 naik 2 bp ke level 7,526%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Dari AS, yield obligasi pemerintah (Treasury) acuan terpantau bergerak naik pada Senin dini hari waktu AS, di mana investor masih mencerna data laporan pekerjaan AS baru sembari menanti rilis data inflasi AS pada periode Mei 2021 yang akan dirilis pada Kamis (10/6/2021) waktu AS.

Mengutip data dari CNBC Internationalyield Treasury acuan bertenor 10 tahun naik 2 bp ke level 1,579% pada dini hari waktu AS, dari sebelumnya pada penutupan Jumat (4/6/2021) lalu sebesar 1,559%.

Wall Street Ditutup Beragam, Minim Katalis
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading