Newsletter

Simak! The Fed Ngomongin Tapering Sampai Kripto Longsor

Market - Tirta, CNBC Indonesia
20 May 2021 06:12
federal reserve

Jakarta, CNBC Indonesia - Mood Mr. Market sedang tidak baik. Pasar finansial dalam negeri goyang pada perdagangan kemarin. Saham ambles ke level terendah sepanjang 2021, obligasi pemerintah hampir menyentuh level coupon rate-nya dan rupiah pun ikut merasakan terpaan koreksi walau tak signifikan. 

Tekanan jual di bursa saham lokal membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh tersungkur minus 1,27% setelah asing melepas kepemilikan sahamnya di pasar reguler senilai Rp 272,8 miliar.


Menyedihkan memang harus melihat IHSG harus berada di titik terendahnya tahun ini ketika prospek perekonomian membaik. Namun IHSG tak sendirian, indeks acuan saham utama bursa Asia juga ambles lebih dari 1%. 

Indeks Nikkei Jepang drop 1.28%. Sraits Times Singapura turun 1,22%. Shang Hai Composite masih lumayan karena hanya melemah 0,57%. Pusat keuangan Asia yaitu Hong Kong libur nasional memperingati hari kelahiran Buddha. 

Di pasar obligasi, surat utang pemerintah berdenominasi rupiah dengan tenor 10 tahun yang menjadi acuan mengalami kenaikan imbal hasil (yield) sebesar 2,3 basis poin (bps) menjadi 6,496%. Kenaikan yield mencerminkan penurunan harga.

Kini yield sudah hampir mendekati coupon rate tetap yang ditawarkan oleh pemerintah untuk seri acuan FR0087 6,5% per annum yang dibayarkan dua kali setahun. Artinya harga obligasi saat ini sudah hampir mendekati harga aslinya (on par). 

Selain FR0087, semua seri acuan obligasi pemerintah berbagai tenor mulai dari 1 tahun hingga 30 tahun mengalami kenaikan yield yang berarti harga juga sedang turun. 

Kompak dengan saham dan obligasi, nilai tukar rupiah di pasar spot juga ikut melemah. Rupiah terdepresiasi 0,04% di hadapan greenback kemarin. Tipis memang. Untuk US$ 1 dibanderol di Rp 14.275/US$.

Sementara itu di kurs tengah Bank Indonesia (BI) yang juga dikenal dengan nama Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah sudah berada di Rp 14.313/US$. 

Apa yang dinanti-nanti oleh pasar adalah rilis risalah rapat bank sentral Negeri Adidaya The Federal Reserves atau The Fed. Dengan inflasi yang perlahan mengalami kenaikan ada kekhawatiran pengetatan moneter akan dilakukan oleh otoritas moneter AS lebih cepat dari yang diperkirakan.

Jika berkaca pada pengalaman sebelumnya, kalau The Fed mau menarik kembali likuiditas yang sudah disuntikkan ke sistem keuangan maka risiko pasar mengalami guncangan sangatlah besar. 

Tapering atau pengurangan likuiditas oleh The Fed biasanya akan menyedot dana yang mampir ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Alhasil harga berbagai aset finansialnya pun tertekan. 

Wall Street Terkapar dan Tak Terselamatkan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading