Newsletter

Inflation is Coming, Awas IHSG, Rupiah & SBN Masih Jet Lag

Market - Tirta, CNBC Indonesia
17 May 2021 06:10
U.S. dollar and Euro banknotes are seen in this picture illustration taken May 3, 2018. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

Jakarta, CNBC Indonesia - Minggu lalu pasar keuangan domestik hanya buka dua hari. Pekan ini pasar finansial dalam negeri juga hanya akan buka full lima hari. Untuk itu, investor maupun trader perlu mencermati perkembangan sentimen yang bakal menggerakkan pasar. 

Namun sebelum membahas tentang sentimen alangkah lebih baik flashback sejenak. Saat perdagangan berlangsung singkat trio aset keuangan lokal yaitu saham, obligasi dan nilai tukar kompak menguat. 


Aset ekuitas RI mengalami apresiasi yang tercermin dari penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 0,17%. Tahu bahwa perdagangan bakal singkat, para trader juga terlihat kurang bergairah memainkan instrumen investasi yang berisiko ini. 

Nilai transaksi di pasar reguler hanya Rp 16,5 triliun. Artinya secara rata-rata transaksi di bursa hanya Rp 8,25 triliun. Lebih rendah dari periode sebelum-sebelumnya yang selalu tembus Rp 9 triliun per hari. 

Beralih ke pasar obligasi, harga Surat Berharga Negara (SBN) untuk berbagai tenor acuan mengalami penguatan. Saat harga naik artinya imbal hasil (yield) sedang turun.

Seri acuan SBN rupiah 10 tahun yield-nya turun 3,8 basis poin (bps) sementara penurunan paling tajam terjadi pada tenor acuan lebih pendek yaitu tiga tahun yang turun 10 bps. 

Bank Indonesia (BI) mencatat berdasarkan transaksi pada 3-6 Mei 2021, asing masih melakukan beli bersih saham dan instrumen pendapatan tetap Tanah Air masing-masing sebesar Rp 0,88 triliun dan Rp 1,09 triliun. Secara total ada inflow sebesar hampir Rp 2 triliun pada kedua instrumen tersebut. 

Tak mau ketinggalan nilai tukar rupiah juga ikut menguat di hadapan dolar AS. Rupiah berhasil menguat 0,6% di hadapan greenback. Kini di pasar spot rupiah sudah berhasil turun ke bawah Rp 14.200/US$. 

Cuti bersama dan hari raya Idul Fitri membuat perdagangan menjadi lebih singkat. Setelah hari Selasa, perdagangan bablas libur hingga akhir pekan. Dalam waktu yang singkat apresiasi yang terjadi sekilas terlihat menarik. 

Namun seharusnya libur yang panjang harus diwaspadai. Apalagi jika dilihat sepekan terakhir aset-aset keuangan dan berisiko global juga kurang bergairah. 

Di kawasan Asia, mayoritas bursa saham melemah. Indeks Nikkei Jepang merosot 4,34%, Hang Seng Hong Kong melemah 2,04%, Straits Times Index (STI) Singapura terkoreksi 3,72%, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 1,37%.

Hanya bursa saham China yang 'tahan banting'. Indeks Shang Hai Composite berhasil melesat 2,09% sepanjang pekan lalu. 

Wall Street Juga Terkulai Lemas Minggu Lalu
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading