Arus Balik & PDB Jepang! Ini Sentimen Pasar Pekan Depan

Market - Putra, CNBC Indonesia
16 May 2021 12:31
Kemacetan di pos penyekatan, Jalur Pantura Kedung Waringin, perbatasan Kabupaten Bekasi-Karawang, Senin (10/5/2021).  Dari data yang didpat dari jam 8.00 wib hingga 15.00 wib sebayak 512 kendaraan yang telah diputar balik.  (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia -Pekan ini pasar keuangan berpeluang dibuka liar mengingat libur panjang merayakan Hari Raya Idul Fitri memangkas perdagangan pasar keuangan dalam negeri menjadi hanya 2 hari di pekan ini.

Indeks acuan pasar modal Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi dibuka di zona merah mengingat ambruknya bursa saham global bertepatan dengan libur panjang ini sehingga ada potensi bursa saham lokal terkena Jet Lag pasca libur.

Sentimen penggerak pasar pekan ini datang dari dalam dan luar negeri dimana para pelaku pasar akan mengarahkan pandangan kepada Jepang yang siap merilis Produk Domestik Bruto kuartal pertama tahun 2021 pada hari Selasa (18/5/21).


PDB Jepang diprediksikan masih akan terkoreksi 1,1% hingga 1,3% pada kuartal pertama ini sehingga Negeri Samurai kembali beresiko jatuh ke jurang resesi. Sebelumnya Jepang sudah berhasil keluar dari zona resesi setelah sukses mencatatkan pertumbuhan GDP selama dua kuartal berturut-turut disetahunkan.

Pada kuartal terakhir tahun 2020, konsumsi perorangan masih melemah mengingat pemerintah kala itu memberlakukan penguncian wilayah kedua yang diberlakukan di Tokyo dan wilayah lain.

Untuk kuartal kedua, perekonomian Negeri Sakura juga diprediksikan belum akan membaik mengingat 25 April silam Jepang kembali memberlakukan penguncian wilayah ketiga di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka dimana bisnis komersil terpaksa dibatasi operasinya sehingga resiko kembali jatuh ke jurang resesi sangat terbuka.

Konsumsi perorangan Jepang pada kuartal pertama tahun ini sendiri diprediksikan masih akan terkontraksi hingga 2,1%.

"Pengeluaran konsumsi di bidang jasa seperti restoran dan hotel masih akan terkontraksi karena penguncian wilayah dan pembatasan aktivitas masyarakat." Ujar ekonom MLI Institute.

Jelang liburan panjang menyambut Hari Raya Idul Fitri 2021, IHSG terpaksa ambruk 0,92% akibat investor asing yang melarikan dananya jelang libur panjang merayakan Hari Raya Idul Fitri 2021.

Rilis data inflasi Jepang bulan April juga akan dipublikasikan pekan ini tepatnya pada hari Jumat dimana Jepang diprediksikan akan terjadi inflasi 0,1% yang menunjukkan daya beli masyarakat yang sedikit pulih. Hal ini tentu saja merupakan kabar baik mengingat Negeri Sakura sudah menderita deflasi selama 6 bulan berturut-turut.

Selain Jepang, Britania Raya juga akan merilis data inflasi bulan Aprilnya pada hari Rabu dimana Brits diprediksikan akan terjadi inflasi 1,4% naik dari posisi bulan Maret di angka 0,7%.

Sedangkan dari dalam negeri, tentunya para pelaku pasar masih akan memantau kasus corona dalam negeri dimana kasus Covid-19 di Indonesia berpotensi meledak pasca lebaran dimana arus balik para pemudik siap kembali ke kota-kota besar.

Sebelumnya,Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa lebih dari 4 ribu pemudik diketahui positif Covid-19. Hal tersebut terungkap dalam tes acak dari para pemudik.

"Pengetatan (larangan mudik) oleh Polri di 381 lokasi dan Operasi Ketupat. Jumlah pemudik random testing dari 6.742, konfirmasi positif 4.123 orang," kata Airlangga dalam konferensi pers, Senin (10/5/2020).

Pasca hasil tes tersebut keluar, pemerintah meminta kepada 1.686 orang menjalani isolasi mandiri. Selain itu, ada 75 orang yang dirawat di rumah sakit.

Airlangga menambahkan aparat keamanan telah menindak para pelanggar larangan mudik. Ada sekitar 41.097 kendaraan yang dipaksa putar balik ke rumah asal. Sementara itu, 306 travel gelap telah ditindak.

Pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan angka positif Covid-19 di RI diprediksi 10 kali lipat lebih tinggi dari data harian yang dilaporkan.

Dia juga mengatakan, Covid-19 di Indonesia sudah pada level mengkhawatirkan. Seperti India, Corona di Indonesia memiliki banyak klaster yang tidak terdeteksi. Tak heran, jika dilakukan tes secara acak, contohnya pada kasus pemudik, sekitar 2/3 dari yang diperiksa ternyata positif.

Potensi terjadi ledakan kasus Corona seperti di India sangat mungkin terjadi. Terlebih di tengah masuknya sejumlah variant of concern (VOC) dan mobilitas yang tak kunjung dibatasi.

"Karena kalau tes kita ditingkatkan ratusan ribu ketemu juga nggak usah heran sebetulnya karena memang sudah ada, hanya kita karena memang minim 3 T kita ini membuat sangat berbahaya," jelasnya mengutip detikcom di Jakarta, Selasa (11/5/2021).

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading