Newsletter

Waspada, Bung! Wall Street Ambruk Lagi

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
11 May 2021 06:20
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kompak ditutup cerah bergairah pada perdagangan awal pekan Senin (10/5/2021) atau tiga hari jelang Lebaran Idul Fitri 1442 H. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau pada perdagangan Senin kemarin, melesat 0,8% ke level 5.975,79.

Data perdagangan mencatat sebanyak 294 saham terapresiasi, 209 saham terdepresiasi, dan 146 lainnya mendatar. Nilai transaksi pada perdagangan kemarin kembali naik menjadi Rp 9,2 triliun di mana investor asing kembali melakukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 329 miliar di pasar reguler.


Sedangkan, bursa saham Asia juga mayoritas menguat pada perdagangan kemarin. Indeks saham KOSPI Korea Selatan (Korsel) menguat paling tinggi, yakni melesat 1,63% ke 3.249,30.

Sayangnya sejumlah bursa lainnya tak ikut serta dalam penguatan. Yakni indeks Hang Seng Hong Kong, STI Singapura, indeks saham Malaysia, dan indeks saham Taiwan.

Berikut pergerakan IHSG dan bursa Asia pada perdagangan Senin (10/5/2021).

Sementara itu, rupiah kembali berjaya melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (10/5/2021). Rupiah melanjutkan penguatannya selama tiga pekan beruntun.

Aliran modal yang mulai masuk lagi ke dalam negeri. Ini membuat rupiah perkasa dan nyaris menyentuh level Rp 14.000-an/US$.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan melesat 1,12% ke Rp 14.120/US$. Level tersebut merupakan yang terkuat sejak 26 Februari lalu. Rupiah kemudian memangkas penguatan dan berakhir di Rp 14.195/US$, menguat 0,6% di pasar spot.

Dengan penguatan tersebut rupiah menjadi yang terbaik di Asia hari ini. Hingga penutupan perdagangan, selain rupiah ada 4 lagi mata uang utama Asia yang menguat, dolar Taiwan menjadi yang terdekat dengan penguatan 0,19%.

Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia pada Senin (10/5/2021).

Sejalan dengan pergerakan rupiah dan IHSG, pasar obligasi pemerintah Indonesia (SBN) juga mencatatkan kinerja baiknya pada perdagangan kemarin. Pasar SBN kembali diburu oleh investor, ditandai dengan kenaikan harga dan penurunan imbal hasil (yield) di seluruh SBN acuan.

Penurunan yield terbesar terjadi di SBN bertenor 15 tahun dengan kode FR0088 yang turun sebesar 4,2 basis poin (bp) ke level 6,331%. Penurunan terkecil terjadi di SBN berjatuh tempo 25 tahun dengan seri FR0067 yang turun tipis 0,1 bp ke 7,503%.

Sebagai acuan untuk pasar obligasi pemerintah RI, yield obligasi berkode FR0087 bertenor 10 tahun mengalami penurunan sebesar 3,9 basis poin (bp) ke level 6,404%, dari sebelumnya di level 6,443%.

Imbal hasil bergerak berkebalikan dari harga obligasi, sehingga kenaikan imbal hasil mengindikasikan koreksi harga dan sebaliknya. Perhitungan imbal hasil dilakukan dalam basis poin yang setara dengan 1/100 dari 1%.

Berikut pergerakan yield SBN acuan pada perdagangan Senin (29/3/2021).

Pada pekan ini, pasar keuangan dalam negeri hanya dibuka selama dua hari. Ini karena adanya libur hari raya Idul Fitri 1442 H yang kemungkinan jatuh pada Kamis-Jumat, 13 hingga 14 Mei 2021.

Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menentukan hari libur bursa menjelang hari raya akan dimulai pada Rabu (12/5/2021) hingga Jumat (14/5/2021). Walaupun hanya diperdagangkan selama dua hari, namun pelaku pasar keuangan dalam negeri masih akan memfokuskan ke beberapa kabar dari luar negeri.

Pelaku pasar keuangan Indonesia akan mengamati bursa saham AS, Wall Street, setelah data ketenagakerjaan AS yang tercatat lebih buruk dari estimasi ekonom. Sebelumnya, dalam polling Dow Jones diperkirakan ada 1 juta slip gaji baru dengan angka pengangguran 5,8% atau membaik dari sebelumnya 6%.

Berbekal data tersebut, bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) diprediksi masih akan melanjutkan kebijakan moneter longgar yang sekarang diberlakukan. Apalagi para pelaku pasar sebelumnya juga sudah khawatir dengan risiko inflasi yang datanya akan dirilis 12 Mei mendatang.

Sementara itu, rupiah memang sedang bertenaga, pada pekan lalu sukses menguat lebih dari 1% dan membukukan penguatan tiga pekan beruntun. Sementara dua pekan sebelumnya, masing-masing menguat 0,55% dan 0,27%.

Capital inflow yang kembali terjadi di pasar obligasi menjadi pemicu penguatan rupiah. Ini berbeda dengan situasi Maret lalu di mana capital outflow di pasar obligasi Indonesia sekitar Rp 20 triliun yang membuat rupiah tertekan.

Memasuki bulan April kondisinya berbalik, pasar obligasi Indonesia kembali menarik setelah yield obligasi (Treasury) AS perlahan menurun. Di pasar sekunder, kepemilikan obligasi oleh investor asing menunjukkan peningkatan.

Melansir data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Surat Berharga Negara (SBN) yang dimiliki asing tercatat senilai Rp 964,6 triliun di akhir April. Terjadi capital inflow Rp 13,2 triliun dibandingkan posisi akhir Maret.

Sementara pada periode 1 sampai 4 Mei capital inflow tercatat Rp 1,16 triliun.

Di pasar primer pun lelang obligasi yang dilakukan pemerintah sukses menarik minat investor. Nilai penawaran masuk yang mengalami peningkatan, serta yang dimenangkan pemerintah sesuai dengan target indikatif.

Selain itu, kabar baik juga datang hari ini dari Bank Indonesia (BI). Setelah setahun 'tiarap', akhirnya konsumen Indonesia kembali percaya diri dalam memandang perekonomian.

Hal ini tercermin dalam Survei Konsumen edisi April 2021 di mana Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di 101,5. Naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 93,4.

IKK menggunakan angka 100 sebagai titik mula. Kalau sudah di atas 100, maka artinya berada di zona optimistis, konsumen pede dalam memandang prospek perekonomian saat ini hingga enam bulan ke depan.

IKK adalah salah satu indikator mula (leading indicator) yang berguna untuk 'menerawang' arah perekonomian ke depan. Jadi saat IKK positif, maka kemungkinan prospek ekonomi ke depan bakal cerah.

"IKK April 2021 merupakan angka optimistis pertama sejak April 2020. Keyakinan konsumen terpantau membaik pada seluruh kategori tingkat pengeluaran responden, tingkat pendidikan, dan kelompok usia responden. Secara spasial, keyakinan konsumen membaik di seluruh kota yang disurvei (18 kota), tertinggi di kota Padang, diikuti oleh Bandung dan Pangkal Pinang," sebut keterangan tertulis BI, Senin (10/5/2021).

Saham Teknologi Dilego, Wall Street Ambruk, Dow Jones Tak Kuat Nanjak
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading