Ramai-ramai Setop Kredit Batu Bara, CIMB-Maybank hingga ADB!

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
11 May 2021 07:41
Tambang Kaltim Prima Coal Foto: Ilustrasi batu bara/Wahyu Daniel

Jakarta, CNBC IndonesiaAsian Development Bank (ADB) atau Bank Pembangunan Asia mengumumkan bahwa mereka tidak akan lagi mendanai proyek yang berkaitan dengan eksplorasi atau produksi tambang batu bara, minyak bumi dan gas alam di dunia.

Kebijakan baru ini diumumkan dalam draf pernyataan kebijakan yang dirilis pada Jumat pekan lalu (7/5/2021). Pengumuman ini disambut baik oleh kelompok penggiat lingkungan, yang mengatakan seharusnya ADB sudah mengambil langkah ini sejak satu dekade lalu.

Dikutip dari Reuters yang melansir The Strait Times, dua organisasi lingkungan melaporkan bahwa pada hari pertama pertemuan tahunan ADB yang digelar pada 3-5 Mei lalu di Manila, ADB telah mengucurkan US$ 4,7 miliar atau setara dengan Rp 68,15 triliun (kurs rata-rata 14.500) untuk proyek-proyek gas sejak diterapkannya Perjanjian Iklim di Paris pada akhir 2015.

Kelompok organisasi lingkungan ini juga menyebutkan hampir dua pertiga dari pembiayaan ADB disalurkan ke untuk pembangkit listrik dan eksplorasi dan ekstraksi sumber daya alam.

Bank ini didirikan pada 1966 ini memang mengkonfirmasi angka penyaluran kredit US$ 4,7 miliar tersebut, tetapi menegaskan bahwa sebagian besar pembiayaan energi selama 2015-2020 dialokasikan untuk sumber energi terbarukan dan pengembangan jaringan infrastruktur.

Tujuan pelaksanaan program adalah untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil di Asia, khususnya untuk mendorong peralihan dari pembangkit listrik tidak ramah lingkungan berbahan bakar batu bara.

Zhai Yongping, Kepala Grup Sektor Energi ABD mengatakan bahwa mereka sebelumnya mendukung proyek gas alam untuk menyediakan akses energi yang lebih efisien dan rendah emisi dibanding energi yang dihasilkan dari batu bara.

Dia menambahkan bahwa 60% dari total pembangkit listrik di Asia berasal dari pembakaran batu bara, sehingga penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap batu bara dan menggantinya dengan energi bersih yang terbarukan, dalam beberapa kasus terbatas digantikan oleh gas alam yang memiliki efisiensi lebih tinggi dengan emisi lebih rendah.

Ia juga mengatakan, dari 2009-2019, pembiayaan energi bersih ADB mencapai US$ 23 miliar (Rp 333 triliun), dan targetnya mencapai US$ 80 miliar (Rp 1.160 triliun) untuk pembiayaan iklim secara kumulatif dari tahun 2019 hingga 2030.

Berdasarkan situs resmi lembaga beranggotakan 63 negara ini, ADB diketahui sempat membiayai beberapa proyek gas besar di Asia, salah satu dari proyek tersebut berlokasi di Indonesia.

Proyek tersebut adalah proyek LNG Tangguh di Teluk Bintuni, Papua Barat. Saat itu ADB memberikan pinjaman sebesar US$ 350 juta atau setara Rp 5,08 triliun yang disetujui pada 2005 lalu.

Selanjutnya pengembangan proyek LNG ini juga memperoleh pinjaman sebesar US$ 400 juta atau setara Rp 5,80 triliun, dengan HSBC yang bertindak sebagai peminjam modal. LNG Tangguh dikelola oleh BP melalui anak perusahaannya BP Berau Ltd.

Dilansir dari Reuters, meskipun telah mengumumkan sikap mereka, bank pembangunan multilateral yang fokus pada pengentasan kemiskinan di Asia ini tidak menyediakan kerangka waktu untuk komitmen pemberhentian pendanaan proyek energi fosil ini.

Dalam draf tersebut juga dikatakan bahwa terdapat beberapa kondisi energi fosil masih bisa memperoleh pendanaan, seperti tidak tersedianya teknologi hemat biaya lain yang lebih ramah lingkungan.

Zhai Yongping juga mengatakan bahwa draf tersebut akan dibahas lebih lanjut oleh dewan direksi di Oktober mendatang.

ADB merupakan bank Pembangunan yang didirikan pada 1966 dengan 31 negara anggota dan kini telah berkembang menjadi 63 negara. Berkantor pusat di Manila, ADB sudah menyalurkan US$ 42,5 miliar untuk sektor energi di kawasan Asia selama 2009-2019, menurut informasi dalam situs resminya.

Selain ADB, baru-baru ini juga Malayan Banking Berhad atau Maybank memutuskan akan menghentikan pembiayaan untuk aktivitas pertambangan batu bara. Pada 2025, Maybank berencana mengalokasikan RM 50 miliar dalam upaya mendorong pembiayaan berkelanjutan.

Dana ini digunakan untuk meningkatkan kehidupan satu juta rumah tangga di seluruh ASEAN, mencapai satu juta jam per tahun untuk kegiatan keberlanjutan dan memberikan seribu hasil signifikan terkait United Nations Sustainable Development Goals (UN SDG) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB.

Tahun lalu, pesaing Maybank, CIMB Group Holdings Bhd, juga telah berkomitmen untuk menghapus batu bara dari portofolionya per 2040. CIMB mengklaim menjadi grup perbankan pertama di Malaysia dan Asia Tenggara yang melakukan penghentian pembiayaan batu bara.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Alasan ADB Pangkas Proyeksi PDB RI 2021 Jadi 4,5%


(tas/tas)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading