Dear Pengusaha Tambang! Maybank Setop Pembiayaan Batu Bara

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
07 May 2021 16:17
FILE PHOTO: Customers leave a branch of Malaysia's Maybank in Putrajaya October 9, 2009. REUTERS/Bazuki Muhammad

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank asal negeri jiran Malaysia, Malayan Banking Berhad atau Maybank memutuskan akan menghentikan pembiayaan untuk aktivitas pertambangan batu bara baru setelah perusahaan berkomitmen menggelontorkan RM 50 miliar atau setara dengan Rp 173,32 triliun (kurs RM 1 = Rp 3.466,44) untuk pembiayaan ekonomi berkelanjutan.

Komitmen ini sebagaimana tercakup dalam strategi 5 tahun ke depan perusahaan.

Menurut rilis resmi Maybank, Rabu (6/5/2021), strategi tersebut dirancang untuk mempercepat pertumbuhan perusahaan dan memperkuat posisi Maybank di antara perbankan terkemuka di kawasan.


Pada 2025, Maybank berencana mengalokasikan RM 50 miliar dalam upaya mendorong pembiayaan berkelanjutan. Dana ini digunakan untuk meningkatkan kehidupan satu juta rumah tangga di seluruh ASEAN, mencapai satu juta jam per tahun untuk kegiatan keberlanjutan dan memberikan seribu hasil signifikan terkait United Nations Sustainable Development Goals (UN SDG) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB.

Maybank juga berkomitmen mendukung karbon netral pada tahun 2030 dan menargetkan bisa mencapai emisi karbon bersih nol persen pada tahun 2050.

Presiden dan CEO Maybank Group Datuk Abdul Farid Alias menjelaskan, hasil kerja perusahaan di bidang ESG (Environmental, Social and Good Governance) atau lingkungan, sosial dan tata kelola ini seiring dengan perjalanan keberlanjutan dari perusahaan selama bertahun-tahun.

Datuk Farid mengatakan rencana perusahaan tersebut termasuk komitmen pendanaan Maybank untuk ekonomi 'Nol Deforestasi, Nol Gambut Baru dan Nol Eksploitasi' (NDPE).

Selain itu, Maybank juga tidak memberikan pembiayaan untuk aktivitas yang masuk daftar hitam, yang dianggap tidak sejalan dengan nilai-nilai inti perusahaan.

"Tidak ada pembiayaan untuk aktivitas batu bara baru, sembari bertransisi bersama dengan peminjam yang ada untuk mencapai bauran energi terbarukan yang berkelanjutan dalam jangka menengah hingga jangka panjang," ujar Datuk Farid, dikutip CNBC Indonesia, Jumat (7/5/2021).

Datuk Farid menambahkan bahwa prioritas utama Grup ke depan adalah memastikan bahwa semua keputusan bisnis utama akan didasarkan pada prinsip-prinsip ESG dengan tetap memprioritaskan pelanggan dan masyarakat.

Sebagaimana diwartakan Reuters, Rabu (6/5), pengumuman Maybank tersebut muncul setelah adanya kritik dari koalisi organisasi non-pemerintah (LSM) di Malaysia dan Indonesia, yang menilai bank tetap mendanai pembangkit listrik tenaga batu bara, kendati telah membuat komitmen di bidang ESG.

Menurut catatan Reuters, semakin banyak bank global telah keluar dari pembiayaan batu bara dalam beberapa tahun terakhir, di tengah tekanan dari kelompok hijau atau aktivis lingkungan dan proses transisi energi global.

Tahun lalu, pesaing Maybank, CIMB Group Holdings Bhd, telah berkomitmen untuk menghapus batu bara dari portofolionya per 2040. CIMB mengklaim menjadi grup perbankan pertama di Malaysia dan Asia Tenggara yang melakukan penghentian pembiayaan batu bara.

Adapun Maybank mengaku pembiayaan batu bara hanya mencapai 0,2% dari total portofolio.

Bank Malaysia dengan aset terbesar ini menargetkan pada 2025 pengembalian ekuitas (Return on equity/'ROE) antara 13% dan 15%, rasio biaya terhadap pendapatan (Cost to Income Ratio/CIR) di bawah 45%, dan rasio pembayaran dividen (Dividend payout ratio/DPR) antara 40% dan 60% dengan basis kas bersih.


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading